dari meja pembaca

Pada tanggal 22 April, di tengah rangkaian protes kemah mahasiswa di penjuru Amerika Serikat, majalah Parapraxis menerbitkan artikel “The Campus Does Not Exist: How campus war is made” oleh Samuel P. Catlin. Dalam tulisannya, Catlin memaparkan secara historis tentang bagaimana gagasan, imaji, dan fantasi tentang “kampus” terbentuk dan termediasi oleh media dan institusi akademik di Amerika Serikat, sehingga “perang” Israel terhadap Gaza, bagi penonton Amerika Serikat, dimaknai sebagai “perang kampus.” Politik emosi dalam wujud “kepanikan kampus” telah menjadi bagian fundamental dari percapakan publik sejak perang AS melawan Vietnam. Dan di sinilah wujud “kampus,” bukan universitas dan bukan pendidikan tinggi, hadir sebagai fantasi dan kiasan–manifestasi hasrat publik dan penguasa tentang teknologi pengawasan (kamera keamanan, mobil SUV polisi yang berkeliaran) terhadap “murid” sebagai figur “Sang Anak,” yang dengan ketidaktahuan dan kenaifannya, perlu dilindungi dan dijaga dari kontaminasi “orang luar” yang hendak menzalimi mereka dengan gagasan-gagasan politik pembebasan seperti kemerdekaan Palestina.

Berbarengan dengan tulisan Catlin adalah tulisan Yasmin El-Rifae di majalah yang sama: “To Know What They Know: On misapprehending Palestinian children.” Tulisan El-Rifae mengenai anak-anak Palestina yang dibunuh oleh Israel, termasuk diseminasi dan sirkulasi gambar-gambar kesengsaraan yang diproduksi oleh relasi kolonial, mengejawantahkan sebuah argumen bahwa kita perlu berkonfrontasi dengan kenyataan bahwa bagi Israel dan Zionis, membunuh anak-anak Palestina bukanlah pengecualian tetapi kunci strategis dan terkalkulasi. Seperti yang beliau tulis:

Dari sudut pandang penjajah, kepolosan mustahil dimiliki anak-anak terjajah, karena kepolosan ini memiliki arti ketidaktahuan atas pengetahuan tentang dominasi yang telah mengkondisikan hidup mereka.

Merujuk studi Nadera Shalhoub-Kevorkian tentang masa kecil terpenjara dan politik anak-anak dan remaja Palestina, kematian dan penderitan anak-anak di Gaza perlu dipahami sebagai kondisi fundamental yang lebih luas tentang masyarakat Palestina yang secara sistematis “dimandulkan” (unchilded). Kekerasan sistematis ini, bagi El-Rifae, bukanlah ajakan untuk menetralkan kenyataan anak-anak Palestina dengan mengembalikan “kepolosan” mereka. Justru El-Rifae memanggil pembaca, khususnya yang berada di luar Palestina, untuk melihat anak-anak Palestina bukan dalam gagasan soal anak sebagai subjek kepemilikan dan properti privat, namun dengan cara pandang anak-anak di Gaza yang mengalami dan memahami relasi kolonial mereka dengan Israel.

Tulisan Catlin dan El-Rifae adalah sebuah paralelisme penting untuk melihat Palestina dalam relasi imperialis terkait reproduksi, masa kecil, dan politik anak muda. Pembunuhan dan penderitaan anak-anak Palestina oleh Israel terjadi bersamaan dengan respon para pejabat tinggi kampus terhadap murid mereka, baik itu dengan melakukan pelarangan, sanksi akademik, penertiban dan penangkapan oleh polisi, penambahan aturan soal demonstrasi, dan negosiasi sementara. Kehadiran bersama kedua tulisan itu menciptakan sebuah ruang hubung untuk menimbang kembali bagaimana genosida dan imperialisme bekerja melalui fantasi soal Sang Anak, pun memanggil pembaca untuk selalu waspada pada cara pandang dan pikir dalam melihat anak-anak dan orang muda sebagai subjek politik dan terpolitisasi.


Tulisan Catlin dan El-Rifae hadir di tengah puluhan esai politik bernas pada tahun ini soal Palestina, di antaranya, esai blog Steven Salaita tentang kritik sastra di tengah genosida, tulisan Salem Haddad tentang buku Jean Genet dan pergelaran solidaritas queer, identifikasi Mary Turfah soal bahasa emosi Israel, dan esai Christina Sharpe tentang wujud duka dan politik menulis. Sebagian besar majalah politik progresif dan radikal berbasis di Amerika Serikat maupun Inggris pun dengan tegas menyatakan posisinya dan menjadi ruang bagi penulis Palestina di Palestina maupun diaspora untuk terus menggunakan diskursus sebagai salah satu dari sekian banyak cara berpolitik dan berorganisasi. Membaca dan berbagi tulisan-tulisan tersebut adalah salah satu tanggung jawab kecil saya sebagai peneliti sejarah dan pekerja pendidikan di salah satu kampus imperial.

Dalam konteks tersebut, perhatian lebih saya terhadap paralelisme tulisan Catlin dan El-Rifae terkait langsung dengan pertanyaan besar selama menekuni riset sejarah intelektual merawat yang sudah berjalan selama hampir empat tahun terakhir: praktik intelektual semacam apa yang memungkinkan kita untuk dapat melihat praktik perawatan sebagai politik dan/atau instrumen berpikir soal politik? Salah satu jawaban dari pertanyaan tersebut (dan semoga disertasi saya bisa menjelaskannya dengan cukup jernih) terkait dengan representasi figur dalam relasi sosial yang dianggap ideal sekaligus realistis. Dan tulisan Catlin dan El-Rifae memperkuat jawaban historis saya tentang fundamentalitas figur, salah satunya anak-anak, dalam kesejarahan kesadaran politik di Indonesia.

Dalam tulisannya, Catlin mengadopsi argumen Lee Edelman di buku No Future tentang Sang Anak, yang adalah fantasi heteroseksual soal masa depan sebagai tujuan berpolitik, untuk mengajukan beberapa potesis tentang “kampus” sebagai ruang fantasi tempat Sang Anak tinggal aman dan nyaman. Sedangkan El-Rifae menegaskan argumen feminis: pandangan terhadap anak-anak sebagai properti–yaitu ketika mereka menjadi noda-noda penyambung jejaring kekeluargaan untuk mempertahankan entitasnya sendiri, sehingga anak menjadi subjek proyeksi kuasa–adalah pelumas proses kapitalis. Dalam pandangan ini, anak-anak adalah makhluk pasif, bukan urusan “kita” kecuali mereka “milik kita” dalam arti keluarga dan privatisasi rumah tangga.

Dalam disertasi saya (khususnya di bab terakhir), diskursus mengenai relasi kekeluargaan pada tahun 1950-60an menciptakan variasi figur anak-anak vis-a-vis politik. Dalam buku Young Heroes/Pahlawan-Pahlawan Belia, Saya Sasaki (Shiraishi) telah menulis bagaimana struktur keluarga nuklir bapak/ibu/anak (kakak-adik) pada masa Orde Baru termanifestasi dalam kerja birokrasi dan aparatus negara, termasuk penciptaan imaji Soeharto sebagai figur Bapak. Lanjutan kajian Sasaki, menurut saya, adalah penjelasan historis tentang epistemologi Sang Anak yang bukan sekedar loncatan gagasan era Taman Siswa ke Orde Baru. Melalui cara ini, saya menawarkan penjelasan tentang kontradiksi dalam figurasi. Di satu sisi, seperti logika “kampus” dan Sang Anak yang ditulis Catlin, ruang sosial anak-anak didepolitisasi melalui asumsi “ketidaksiapan” mereka memahami kompleksitas politik perang revolusi, meskipun kehidupan mereka bersekolah dan mendapat perawatan dipengaruhi oleh situasi perang. Di sisi lain, dalam konteks politik nasional dan anti-imperial barat Sukarno, beberapa penulis mengajukan proposal tentang anak-anak sebagai figur anti-kolonial pemerhati kepentingan keluarga dan negara, termasuk operasi militer Indonesia ke Papua Barat. Anak dan dunianya, secara kontradiktif, menjadi agensi politik berkesadaran penuh akan kondisi sosial ekonomi di sekitarnya, sekaligus subjek untuk diintervensi yang menubuhkan, bukan keinginan dan kebebasan mereka, namun hasrat orang dewasa dan kebutuhan negara.


Pertemuan gagasan antara penelitian saya dengan tulisan Catlin dan El-Rifai juga bergulir dalam relasi sosial saya dengan mahasiswa peserta kelas saya soal sejarah pemikiran dan perasaan, dan dengan beberapa anak teman-teman saya yang berusia satu sampai enam tahun. Dalam pertemuan-pertemuan itu, baik itu membaca, menulis, dan bermain bersama, kami sama-sama menavigasi berbagai keinginan dan kesenangan, termasuk kesulitan, ketidaknyamanan, dan perasaan janggal. Pertemuan-pertemuan ini adalah momen politis untuk berkomitmen bahwa dalam organisasi kita perlu terus menimbang segala lapisan dominasi dan superioritas, termasuk superioritas orang dewasa.

Kita terombang-ambing dalam dunia yang terus terbakar, panas, dan hancur. Kesadaran kita soal waktu lebur; imajinasi kita terbentur oleh pesimisme laku dan optimisme berpikir. Kita menjejali diri dengan konsumsi dan kesenangan demi menyambung hidup; dan kita (saya) pun tidak cukup keras untuk sepenuhnya mementahkan usaha-usaha banal mencari rasa aman, nyaman, dan bertahan. Ini bukan undangan untuk bertoleransi pada janji-janji palsu kebahagiaan kelas menengah. Ini ajakan (mungkin sedikit paksaan) untuk berpikir dan merasa dengan lebih berani dan jernih, untuk berserikat dengan lebih baik, untuk bergerak tanpa kepahitan, untuk berpolitik dengan lebih kuat dan benar.

Tahun depan, saya masih membaca dan menulis. Jika Anda masih di sini, temui saya di meja pembaca dan sekitarnya.

Leave a comment