. . . . hari ini hari minggu ketiga bulan november; aku berjalan keluar rumah, mencari angin sore hari jika masih ada, sambil menggaruk ketiak gatal dari balik baju tipis, bulu-bulu tajam pada lipatan kulit mulai kembali tumbuh, mulai kembali mengganggu, sudah biasa; aku melangkah pelan, memaksa badanku bergerak sedikit lebih banyak, membuka gerbang rumah, menutupnya kembali; pintu yang terbuka akan selalu tertutup lagi lalu dibuka tutup buka tutup begitu seterusnya, siapa punya ide pencipta pintu gerbang rumah, tidak penting, aku sebenarnya tidak perlu memikirkan ini, hanya saja usahaku yang yang selalu sangat banyak untuk sekedar membuka pintu menciptakan rasa geram pada diri sendiri, juga pada pencipta pintu gerbang; aku menyusur tepi jalan kampung, ketiakku lagi-lagi gatal, jangan lupa beli pisau cukur, ya besok aku harus pergi belanja, sebaiknya besok saja membeli pisau cukur, atau sekarang saja, aku tidak yakin aku punya niat mampir ke warung membeli pisau cukur, lihat nanti mungkin setelah jalan-jalan sore selesai aku punya sedikit tenaga, atau besok pagi saja ya, tapi mungkin aku tidak jadi belanja besok, aku hanya ingin duduk-duduk di rumah menghabiskan naskah novel yang belum rampung kubaca karena aku sering ketiduran sehabis makan siang, akan aku putuskan nanti: belanja, pisau cukur. . . . batu-batu kecil tajam terpelanting masuk ke dalam selokan, suara bocah-bocah berlari-larian diiringi suara tangis anak kucing, lalu terdengar teriakan, hei berisik kalian lepasin anak kucingnya, dan bocah-bocah itu ketakutan, menjatuhkan kucing penuh luka di jalan aspal; teriakan lantang itu sumbernya dari Tetangga Sebelah, penjaga indekos campur, lahir pada tahun ganjil bershio kambing bermatahari kalajengking berbulan ikan—hidupnya terbentang luas pada bintang-bintang; ia sesekali membakar sampah-sampah mimpi plastik milik Tetangga Samping, penulis novel tukang bajak buku otobiografi pahlawan bonus demografi yang kerap melempar pelepah pisang ke teras indekos Tetangga Sebelah untuk kesenangan pribadi; aku sudah mengenal Tetangga Sebelah dan Tetangga Samping sejak mereka masih muda, sejak mereka masih tinggal serumah, sejak Tetangga Sebelah masih belajar cara membaca meteran listrik, sejak Tetangga Samping masih bekerja serabutan menjadi penulis bayangan untuk pemimpin komisi nasional, sejak mereka masih bertengkar tentang siapa nama lurah yang membunuh dirinya sendiri, sebelum mereka bertengkar menggunakan api dan pelepah pisang, mengherankan; Suara Tetangga Sebelah memang lantang—ia memang selalu berani, tidak ada ketakutan pada huruf vokalnya, dan konsonannya selalu tebal mendengung padat; bocah-bocah bebal itu selalu ketakutan setiap kali ia berteriak memarahi permainan keji mereka, salah sendiri, kucing kecil terpuruk lemah jelas kurang gizi; ini bukan kali pertama aku melihat kucing jalanan bernasib malang, aku sudah melihat cukup banyak hal menyedihkan di sekitarku—kucing itu bukan kucing terakhir yang akan terseok-seok; Tetangga Samping pernah melihat seonggok tikus got menggotong anak kucing baru lahir di mulutnya, aku juga pernah melihat hal serupa dan mencoba mengejar tikus got itu, tentu saja gagal, siapa aku bermain pahlawan; aku mengangkat badan kucing itu membelainya perlahan, ia tidak bisa lari, jelas, kulit kakinya penuh luka, aku memanggil satu bocah yang belum lari jauh, sepertinya ia bingung harus lari ke arah mana kanan atau kiri, mukanya hampir menangis, sudah tahu kan kalau nggak baik jahatin kucing, kataku pada bocah itu, ia diam, tidak mengangguk tidak menggeleng, aku yakin ia tahu betul siapa aku, orang tua bocah itu pasti bercerita padanya tentangku entah yang baik atau buruk aku punya keduanya, dan setengah berbisik pada bocah itu, aku mengajaknya menepi di depan pagar indekos Tetangga Sebelah, sini kita obati luka kucingnya, ia menurut melangkah gontai; Tetangga Sebelah melihatku dari balik pagar lalu menyerahkan kotak obat tanpa bicara, aku bilang terima kasih padanya, sambil melirik bocah yang sedang mengelus ekor kucing itu takut-takut merasa bersalah; aku memaksanya minta maaf pada kucing, ia menurut, maapin adek ya pus, sok imut sekali, agaknya ia didesak oleh kakak dan teman sepermainan yang entah sekarang sudah di mana bermain dengan benda atau makhluk apa lagi, ah ya aku harus mengembalikan kotak obat ini nanti setelah si bocah selesai belajar membalut luka, jari-jariku mencoba membantunya menggunakan alat-alat sederhana agar luka kucing tidak lagi basah, aku tidak ahli dalam hal ini, aku tidak pernah punya peliharaan, aku selalu merasa tidak bisa merawat makhluk hidup kecuali kaktus, aku tidak punya cukup kesabaran dan keterampilan, aku selalu bosan mendengar ucapan-ucapan penyemangat bisa yuk bisa pasti bisa kita semua punya naluri itu dan bisa dipelajari juga kok—itulah pusat masalah: pun aku punya naluri aku tidak ingin belajar dan mengolahnya buat apa. . . . aku harus berdamai dengan kemalasanku mengurus makhluk hidup lain pada jarak yang terlalu dekat, lagi pula ada Tetangga Sebelah, aku yakin nanti malam atau besok subuh dia akan mencari kucing ini dan membawanya ke dokter hewan, seperti yang selalu ia lakukan pada kucing-kucing jalanan yang singgah di depan rumah indekos ini, aku hanya perlu memperhatikan lekuk siluet badan anak kucing itu, nanti akan kulaporkan ke Tetangga Sebelah agar ia mudah mencarinya, belang hitam di ekor dan kepala sebelah kanan, harusnya anak kucing tidak akan pergi terlalu jauh, mungkin tigaratuslimapuluh meter dari sini, mungkin limaratus meter, si bocah masih membelai kucing itu dan bergumam-gumam terus, maafin ya pus, maafin ya pus; aku bergegas menutup kotak obat, memanggil Tetangga Sebelah dari luar pagar indekos, menyapanya sebentar dan meletakkan kotak obat di atas jok motor penghuni, ia sedang menyiram tanaman sedangkan bocah itu bermain dengan anak kucing, sepertinya mereka sudah makin dekat atau tidak, aku tidak tahu, selama bocah itu tidak melukai kucing, aku tidak perlu terlalu pusing, aku kembali menyusur jalan, langkah pelan-pelan, santai saja mencari udara sore hari sambil mengingatkan diri untuk besok pergi belanja dan membeli pisau cukur, aku merasa ingin mengunyah sesuatu, apakah sebaiknya aku membeli makanan kecil, tapi nanti perutku begah dan penuh kalau nyemil sebelum makan malam, tapi donat kentang sepertinya enak sekali, Tukang Donat di ujung Gang Dua jualan tidak ya, apakah aku harus pergi ke sana, tapi aku tidak berniat berjalan sampai ke Gang Dua, terlalu jauh, dan aku harus kembali ke pekerjaanku, aku sudah berjanji pada Tetangga Samping untuk kembali padanya akhir minggu ini, ia memintaku membaca naskah novelnya sebelum ia kirim ke Editor, aku hampir menolak jika tidak ada bayarannya, ternyata Tetangga Samping punya banyak uang, aku pernah menggodanya apakah uang penulis memang sebanyak itu, tentu saja tidak, uang itu hasil kerjanya sebagai dewan juri dan komite kebudayaan dan staf permanen badan buku, ah ternyata dia bukan hanya penulis prosa tapi juga pegawai sipil, ya bisnis kesenian ini memang mampu menghidupi kalau kamu tahu caranya membangun karir dari situ, aku sempat bertanya apakah dia harus ikut tes massal calon pegawai sipil atau dia dapat masuk ke lembaga itu karena undangan, Tetangga Samping tertawa keras-keras, sedikit menghakimiku yang sama sekali tidak tahu urusan birokrasi, tenang saja semua ini halal, katanya sambil mengedipkan mata; Tetangga Samping agak menyebalkan, aku bertanya karena memang tidak tahu, bukan hendak menuduhnya kolusi, dan aku masih belum memutuskan apakah aku harus membeli donat kentang atau tidak, sepertinya enak juga membaca naskah novel Tetangga Samping sambil mengunyah donat. . . . aku melangkah ke Gang Dua, mencoba menuntaskan keinginan duniawi dan hasrat remeh temeh, sore ini memang tidak sebising hari kerja ketika mobil-mobil besar memaksa masuk ke gang-gang sempit ini, satu malam gerobak Pedagang Soto langgananku pernah diserempet sebuah mobil yang tidak bisa belok mulus di pengkolan, dagangannya berhamburan dan sopir mobil itu kabur, aku tidak melihat kejadiannya langsung, Tetangga Samping yang bercerita padaku sambil menunjukkan foto agak buram, nomor plat yang berhasil ditangkap sebelum dia menolong Pedagang Soto beres-beres gerobak, aku meminta foto itu dan mengirimkannya kepada Kenalan A di satuan lalu lintas setempat dan bertanya apakah ia bisa membantuku mencari mobil ini, tentu dia butuh bayaran sedikit saja tidak banyak, aku mengirim sejumlah uang, sedikit saja tidak banyak; beberapa hari kemudian ia memberiku sebuah alamat, lalu aku kirim lagi alamat itu bersama foto buram Tetangga Samping ke Kenalan B, ia bos dari segerombolan tukang tagih utang, aku tanya bisa tidak dia meminta pemilik mobil ini paling tidak membayar ganti rugi, katanya beres bisa diatur, dan ia tidak meminta bayaran; dua minggu kemudian, Kenalan B mengirim sejumlah uang hampir lima belas juta ke rekening pribadi, aku mengirim balik seperempat jumlah, aku bilang uang itu buat anak buahnya, sisa uangnya jadi tunai dan aku minta Tetangga Samping menyerahkannya ke pedagang soto, aku tidak pernah mau tahu cara kerja Kenalan B. . . . aku berjalan sedikit lebih cepat sambil memikirkan berapa banyak donat yang harus kubeli, memang tidak banyak hal di dunia ini yang harus dipersoalkan, misalnya urusan donat, dorongan untuk memuaskan diri lewat hal-hal biasa saja dan harganya murah dianggap apa bahasanya, kemewahan sederhana, aku tidak suka paduan kata itu, kemewahan sederhana, hanya dua kata tapi kehampaannya abadi, tidak semua usaha pemaknaan menghasilkan makna, lebih sering menghasilkan ujar-ujar sembarangan, aku tidak suka dengan usaha-usaha setengah hati memuliakan hal banal dan menyebutnya kemewahan, tambahkan sederhana agar terlihat rendah hati dan tidak sombong, aku melewati kedai mie instan, menyapa Kakak Burjo yang sedang melayani pembeli, dan terus berjalan ke arah Gang Dua; naskah novel Tetangga Samping membuatku tidak tenang, dan alasanku belum menyelesaikan novel ini adalah satu: aku mudah tidur sehabis makan siang, dua: naskah itu tidak sebagus yang ia pikir, paling tidak menurut seleraku; sejujurnya, seminggu terakhir ini aku berjalan sore untuk mengusir kekesalanku membaca, aku seharusnya tidak perlu terlalu keras memikirkan ini, Tetangga Samping tidak akan tiba-tiba melarat hanya karena aku tidak suka novel barunya, jujur aku juga tidak pernah suka novel-novelnya yang lain meskipun aku selalu membaca naskahnya sebelum disunting oleh Editor dan diterbitkan; kadang aku merasa bertanggung jawab karena membiarkan novelnya yang tidak bagus berkeliaran di toko buku, sayangnya aku lebih merasa malas dan tidak berniat memberikan pendapat soal seleraku, aku segera butuh donat kentang, keputusan berjalan ke Gang Dua adalah keputusan terbaikku hari ini, tapi hari belum berakhir, mungkin aku akan membuat satu keputusan lebih baik, seperti misalnya menyelesaikan naskah novel Tetangga Samping malam ini supaya besok aku bisa belanja dengan hati sedikit lebih gembira, aku tidak suka belanja dalam keadaan kesal—kekesalan ini sebenarnya tidak sampai membuatku marah-marah, mengomel, atau menggerutu, aku cuma jadi lebih sering tidur jika sedang kesal, apalagi jika sehabis makan siang, dan aku tidak bisa pergi keluar dalam keadaan tertidur. . . . harusnya aku tidak perlu menumpahkan segala pikiranku untuk novel ini, tapi aku tahu aku tidak bisa, membaca selalu menuntut segala hal yang kupunya; hidupku seperti termakan habis oleh banyak gerak silat bahasa dan aku butuh waktu untuk sadar diri dan kembali melakukan hal-hal biasa, ya aku selalu seperti orang mabuk sehabis membaca, tergeletak begitu saja di sofa atau lantai atau kasur sambil memijat-mijat bagian tengah mata dan samping kepala, seringkali aku mencoba menulis sesuatu agar kata-kata yang masuk ke dalam tubuhku tumpah keluar seperti muntahan dan aku bisa segera kembali siuman dari tulisan yang rasanya tidak selalu enak, donat kentang lima ya Bang gulanya jangan banyak-banyak, kataku sesampainya di ujung Gang Dua, bau tepung mengembang karena ragi lalu digoreng memang selalu enak, Bang Donat mengajakku bicara basa-basi, aku merespon seadanya, dia bertanya apakah aku lagi diet karena tidak ingin banyak gula, aku iyakan sambil menyerahkan uang, kembaliannya ambil saja, sepotong donat hangat, aku gigit agak rakus, memang keputusan baik hari ini, aku sadar kembali: tidak ada instruksi khusus untuk memperbaiki novel buruk, yang bisa kulakukan hanya menghibur diri, sampai halaman mana aku membaca novel itu. . . .
pada hari minggu ku turut rasa ke mana
