Siapa Tahu Kamu Mau Baca, Ep. 32 – The Face of Another

Sudah sebulan saya absen menulis Siapa Tahu. Sebuah usaha untuk menjadi lebih konsisten memang sulit. Yha namanya juga usaha. Uehe. Sedikit curcol, mungkin juga karena sebulan terakhir ini saya sedang rusuh dengan banyak hal, termasuk persiapan pergi ke Evanston. Oh well.

Episode kali ini sebenarnya adalah utang untuk tulisan bulan Juni, karena bulan lalu saya merecoki diri saya dengan novel-novel Kobo Ab(a)e. Saya membaca Kobo Abe tepat setelah selesai membaca novel Yasunari Kawabata The Sound of Mountain yang apik-tapi-wuaduh-lambat-amat (ulasan ini di sesi lain kalo tidak malaz). Meskipun novel-novel Abe sebenarnya tidak bisa dibilang cepat juga, saya menikmati intensifikasi rasa asing yang aneh, saya “ketagihan” dengan suasana itu.

Dari empat novel Kobo yang saya baca (The Face of Another, The Woman in the Dunes, The Ruined Map, dan The Box Man), saya merasa The Face of Another (1964) memiliki daya tarik tersendiri buat saya. Beberapa pembaca Kobo Abe lebih memilih The Woman in the Dunes dan The Ruined Map sebagai karya Abe yang paling ntaps. Saya bisa setuju, karena kedua novel itu sangat kaya dalam karakterisasi meskipun plotnya sangat sederhana. Meskipun demikian, The Face of Another meninggalkan bekas yang sangat kuat ketika saya menutupnya. Bahkan saya sempat mencari adaptasi film hitam putihnya yang dibuat oleh Hiroshi Teshigahara, dan Kobo Abe pun terlibat di dalam pembuatannya (dari trailernya saja, saya sudah yawla-sungguh).

2018-07-07.png
Trailer The Face of Another (Hiroshi Teshigahara, 1965)

The Face of Another, dengan menggunakan perspektif orang pertama, mengambil bentuk seperti sebuah catatan seorang pria kepada istrinya. Narator adalah seseorang yang memiliki keloid dan bekas luka di wajahnya akibat kecelakaan. Kondisi “kehilangan wajah” sang narator adalah poin utama dari keseluruhan cerita, dan ia mencoba mencari-cari apakah ada cara untuk menyembuhkan. Pencarian itu membuatnya beropini tentang banyak hal, tentang dirinya, dunia di sekelilingnya, semacam narasi-narasi eksistensial. Narator mencoba untuk menciptakan dan menggunakan topeng untuk menutupi dirinya yang tak berwajah. Secara perlahan, dari keraguan menuju pada frustrasi, narator menganggap dirinya ditolak, seperti terlempar dari dunianya; ia mengutuki topengnya yang tak bekerja, juga berkontemplasi total soal kesendirian dan rasa bersalah. Ia bertarung dengan dirinya sendiri.

A monster’s face brings loneliness, and the loneliness informs his heart. … I should become a monster, indifferent to my appearance, and break with a crash all the bonds which bind me to this worlds.

For my despair lay in my fate, rather than in the loss of my face; it lay in the fact that I did not have the slightest thing in common with other men.

Beberapa bagian yang dikatakan oleh narator dan membuat saya bergidik adalah ketika ia merasa ditolak oleh istrinya sendiri. Tentu, dengan segala kontemplasinya soal keterasingan, kita bisa terhanyut dan merasa simpatik dengan narator. Tapi saya merasa ada yang salah ketika narator merasa istrinya menolak keberadaannya dan seperti berintensi membuat istrinya merasa bersalah.

Our silence, of course, was quite routine too….

How long would this silence, like some broken instrument, go ono between us? Even the everyday exchange of pleasantries and gossip had petered out, leaving at best an elementary, sign-like conversation, absolutely minimal. But even in this instance I did not blamce you. … The silence was painful for me, but how much more distressing it must have been for you.

Seperti ingin berkata, “Mas terkadang self-victimizing-mu menyebalkan”. Dan komentar saya ini seperti mendapat pembenaran melalui surat respon dari sang istri kepada si narator di akhir novel. Sang istri membantahkan banyak “kontemplasi” si aku, dan dengan berkata:

You write that I rejected you, but that’s not true. Didn’t you reject yourself all by yourself?

At first you were apparently trying to get your own self back by means of the mask, but before you knew it you had come to think of it only as your magician’s cloak for escaping from yourself. So it was not a mask, but somewhat the same as another real face, wasnt’t it? You finally revealed your true colors. It was not the mask, but you yourself.

You don’t need me. What you really need is a mirror.

YHAS QUEEEEEN!

Mungin inilah yang membuat saya lebih sayang dengan novel Abe ini ketimbang dengan novel lainnya yang saya baca. (Atau mungkin saya yang bacanya kurang tepat ehehe). Tentu novel ini brilian dengan simbol-simbol emosinya, alusi soal kondisi sosial yang mungkin bisa mewakili kondisi masyarakat Jepang di era 1960-an, juga terjemahan bahasa Inggrisnya yang sangat bagus (yey E. Dale Saunders). Namun selain itu, saya pikir yang harus diapresiasi adalah elemen pasca-eksistensialisnya. Rasa ganjil yang dihadirkan Kobo Abe melalui naratornya tidak berhenti pada pertanyaan swa-eksistensi itu! Ia melampaui katarsis. Bagian terakhir novel seperti meruntuhkan puja-puji berlebihan kita akan rasa sepi dan sendiri yang kita buat sendiri. Jelas ini bukan perlawanan untuk kondisi psikologis yang memang membutuhkan bantuan. Sang istri pun menunjukkan rasa sayang pada si aku, di mana mungkin tidak terlalu eksplisit, tapi justru hadir dengan porsi yang tepat: rasa sayang lewat teguran. Ada satu aspek pendek dari novel ini yang mencoba menantang proses pembacaan ke dalam diri yang tidak jarang bleberan tumpeh-tumpeh lalu digunakan sebagai validasi untuk seseorang menjadi narsis nan eshol.

Saya pikir relasi tegang antara si aku dan istrinya yang secara utama dilihat dari kacamata si aku menunjukkan proses koneksi dan kelekatan yang tidak melulu harmonis. Fantasi Kobo Abe menurut saya bukan sepenuhnya terletak pada pencarian “wajah” si aku, tapi proses bagaimana “wajah” yang terus berubah dan berganti bahkan hilang ini mendeterminasi diri dengan liyan. Dari situ, dan inilah kesukaan saya sepenuhnya terhadap The Face of Another yang mungkin oleh beberapa pembaca Kobo Abe (paling tidak di Goodreads) tidak terlalu menjadi perhatian: Kobo Abe mungkin ingin pembacanya melampaui kontemplasi eksistensi diri sendiri.

So nothing will ever be written down again. Perhaps the act of writing is necessary only when nothing happens.

Leave a comment