Yawla yawla yawla. Kangen uga nulis di blog setelah numpang di lapak orang dan absen dua minggu *UHUK*. Dan ternyata sudah memasuki episode kepala tiga yay! Meskipun kurang penting, perlu dirayakan sedikit. Pastinya terima kasih sekali kalau sampai saat ini masih ada yang setia membaca bacotan-bacotan mungkin berfaedah di episode-episode Siapa Tahu. Episode kali ini sedikit istimewa karena saya akan sedikit membahas buku bergambar dan novel grafis/komik. Berhutang banyak dengan kakak Frnss yang sudah mau meminjamkan tiga bukunya untuk saya baca. Dalam beberapa waktu ke depan saya akan lebih sibuk dari biasanya, dan semoga masih bisa terus membaca yang asique-asique (dan menulisnya). Ahoy!

The Crows of Pearblossom – Aldous Huxley, Barbara Cooney (1967)
Saya tidak mengira Aldous Huxley menulis cerita anak. Sebagai latar, Huxley menulis cerita ini pada tahun 1944 untuk keponakannya, Olivia de Haulleville, yang waktu itu masih berusia lima tahun. Ceritanya sederhana saja: tentang sepasang burung gagak yang baru saja memiliki telur, namun kemudian seekor ular memakan telur mereka dan dimulailah usaha untuk membalasnya. Ttta tttaapi jika familiar dengan gaya menulis Huxley yang kadang satir nyebelin (seperti di novel Point Counter Point favoritku), buku bergambar ini pun tidak lepas dari itu. Hubungan Tuan Gagak dan Nyonya Gagak ini sebenarnya memusingkan. Mereka sepertinya bukan pasangan yang sepenuhnya saling menyukai. Ketika Tuan Gagak meminta Tuan Burung Hantu untuk mencarikan jalan keluar, Nyonya Gagak dengan tidak sabar berkata:
“Well,” she cried, “which one of you has decided to go down the hole and kill the snake?”
“Neither of us,” said Mr. Crow.
“Neither of you?” screamed Mrs. Crow. “Then must two hundred and ninety-seven of my darling eggs disappear down that vile serpent’s throat? Must my heart go on being broken, day after day, forever?”
“Amelia,” said Mr. Crow, “you talk too much. Keep your beak shut and get out of your nest.”
Yawla, suami ini~
Oh dan sebagai bocoran cerita: si ular akhirnya dijadiin tali jemuran oleh Nyonya Gagak :”””
The Encyclopedia of Early Earth – Isabel Greenberg (2013)
Kisah ini dimulai dari sepasang manusia yang saling menemukan. Menemukan dan tak dapat saling menggapai. Tapi toh kasih sayang mereka melampaui sentuhan dan rengkuhan tubuh, maka menikahlah mereka. Di malam-malam bersama nan dingin dan tenang itu, kisah-kisah mereka muncul. Tentang tiga saudari perempuan, perjalanan sang pencerita dari tanah utara, asal usul tanah utara, raksasa, tuhan burung, penciptaan dunia. Dari satu cerita ke cerita yang lain ke cerita yang lain, hingga legenda Nord, dalam saling silang temunya dengan kisah-kisah ajaib, terselesaikan di dalam kehangatan salju utara.
Ya ampun, saya mengawali nov-graf ini dengan mesem-mesem lucu, sambil wuoo-ih-apik-hahahaha-bagusamat di hampir seluruh halaman, dan mengakhirinya dengan sedikit mewek (membuatku ingin peluk Ice Bear). Isabel Greenberg, adalah ilustrator asal London dan buku ini adalah novel grafis pertamanya yang langsung mendapatkan pujian. Saya cukup mengerti mengapa. Isabel Greenberg tidak hanya gambar dan visualnya saja yang sangat bagus tapi juga cara narasi dan gaya menulisnya. Ia mencampurkan cerita-cerita familiar seperti penciptaan, bahtera Nuh, dan menara Babel dengan plot twist; dan kehadiran konteks bangsa-bangsa seperti Inuit dan Viking memperkaya alur cerita. Gaya menulis Isabel pun menurut saya sangat menyenangkan, ia jenaka dan menghangatkan.
Di salah satu cerita Kejadian, ia menulis:
In the beginning there was nothing, only time. But since there was no one to control the time, there might as well have been nothing. And then there was an egg. Don’t ask how it got there, OK. Every story has to have a beginning and this one begins withan egg, floating in an infinite, empty cosmos.
Uuuuuu witty~


Rasanya senang sekali bisa membaca buku ini. Kisah-kisah di dalamnya berlapis-lapis, tak hanya cerita besar, namun juga cerita-cerita kecil. Keutuhan nov-graf ini adalah karena ia membuat pembacanya mampu tersenyum dan menikmati keindahan gambar sambil sekaligus berpikir kembali tentang kekuatan di balik kisah-kisah legenda dalam tradisi oral. Kita akan menemukan banyak cerita di dalam cerita, dan justru dari situ kita mengalami kembali pola tradisi oral yang non-linier, ada modifikasi sekaligus familiaritas, dan sangat cair karena siapa pun dapat menceritakannya. Ditambah lagi, rasanya cerita-cerita itu tidak terbeban oleh pesan-pesan moral atau keharusan untuk dinyatakan benar. Sang pencerita pun sering kali berkisah soal pengalamannya saja. Namun pendengarnya bisa hanyut, marah, atau menjadi lebih bijak karenanya. Aaaa suka banget banget banget.
Pemilik buku ini sempat bilang ke saya, “Kan (ceritanya) kamu banget.” Bahahahaha *terharu*.
Iron or the War After – S. M. Vidaurri (2012)
Sebuah novel grafis dengan sampul berwarna merah darah, tapi seluruh cerita bernuansa warna gelap. Bukan hitam putih tapi biru gelap, abu-abu, dan putih. Bukan hanya cerita yang berkuasa di nov-graf ini tapi juga warna. Saya tidak punya pengetahuan teknis ilustrasi, tapi jika kondisi psikologi pembaca dapat terpengaruh oleh warna, maka sepanjang saya membaca, memang tidak ada keriaan sama sekali. Nov-graf ini bercerita tentang kondisi pasca-perang. Tidak dijelaskan terlalu detail apa yang sesungguhnya terjadi, namun ketika kelinci bernama Hardin dituduh mencuri dokumen rahasia kelompok Resistance, dimulailah konflik rahasia, spionase, juga kerumitan konspirasi untuk mencari tahu siapa pengkhianat sebenarnya. Namun salah satu bagian cerita yang menurut saya pelik adalah hubungan dua kakak-adik Hardin, Konstantin dan Patricia, yang terkena dampak dari konflik ayah mereka. Mungkin memang inilah dampak perang yang sering kali membawa kita pada kesedihan: efek inter-generasi. Mimpi perang untuk “generasi masa depan” yang lebih baik rasa-rasanya jadi nihil. Generasi berikutnya “terpaksa” ikut dalam kelindan antara pertarungan terbuka bahkan menyelesaikan pertarungan tertutup orang tua mereka.
Ya kurang lebih demikian. Nov-graf ini secara cerita memang sedikit muram dan sempat beberapa kali kebingungan soal plot cerita, tapi percayalah kerja seninya bagus banget! Kalau kata Frnss, panellingnya keren; beberapa ada yang tekniknya dikasih gambar latar. Kalau saya pribadi suka beberapa adegan yang tokohnya seperti siluet, dan Vidaurri jago banget bikin nuansa sepi dari caranya mengambil perspektif untuk menggambar obyek-obyek rumah, langit, pohon, atau burung. Kata-kata dan gambar sama-sama berdaya.

Sayonara Nippon – Katsuhiro Otomo (1981)
Kalau pembaca sejawat tahu komik Akira, mungkin nama Katsuhiro Otomo tidaklah asing. Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu mengikuti Akira, namun waktu lagi menelusuri komik-komik lainnya saya tertarik dengan art cover Sayonara Nippon. Maka mampirlah saya ke situs untuk membacanya.

Komik ini terdiri dari beberapa cerita yang kurang lebih saling terkait. Dengan mengambil dua latar tempat di Jepang dan Amerika Serikat, Katsuhiro Otomo bercerita tentang relasi rasial orang Jepang, tidak hanya dengan orang kulit putih tapi juga orang kulit hitam. Komik ini tidak padat, hanya beberapa chapter saja, namun saya jadi termenung soal banyak hal khususnya hubungan antara orang Asia dengan Afrika(Amerika).
Saya jadi ingat salah satu episode seri tv tentang makanan Ugly Delicious yang banyak bercerita tentang para imigran Asia (Jepang, China, Korea-Selatan, Vietnam) di Amerika Serikat dan ketegangan-ketegangan rasial yang terpusat di sekitar makanan. Misal, stigma-stigma kulit putih Amerika Serikat terhadap restoran China. Katsuhiro Otomo mengangkat isu serupa namun dengan kacamata yang sedikit lebih spesifik. Melalui seorang pelatih Judo dan pemain musik, ia mengekspos lebih hubungan orang Jepang di Amerika Serikat dengan komunitas Afrika-Amerika. Salah satu panel yang cukup membuat saya terhenyak adalah panel ini (bacanya dari kanan ke kiri yaw)

Yellow on the outside, white on the side. Sungguh saya langsung ingatnya Frantz Fanon Black Skin White Mask sebagai otokritik terhadap psikologi ala-kulit-putih yang hadir di komunitas kulit hitam sendiri.
Membaca Nippon Sayonara adalah soal membaca problem ras lewat kisah diaspora Asia kelas menengah ke bawah, perjuangan mencari penghidupan di negara yang katanya land of the free, juga dilema-dilema lingkup sosial di dalam usaha-usaha kecil itu. Oh ya satu cerita yang membuat saya lebih wow lagi adalah kisah persahabatan orang Jepang dengan Afrika-Amerika dijembatani melalui kesukaan mereka terhadap musik jazz. Wah!