Siapa Tahu Kamu Mau Baca, Ep. 24 – The Night Watch

The Night Watch – Patrick Modiano (penerjemah: Patricia Wolf, Bloomsburry 2015[1969])

Sebenarnya saya sudah sempat ingin membaca beberapa judul buku Modiano yang diterbitkan NYRB: In the Café of Lost Youth dan Young Once, tapi beberapa kali tertunda karena tyda mood (alasan yang sungguh substansial). Ditambah lagi, saya tidak terlalu familiar dengan Modiano dan gaya menulisnya. Awalnya saya sedikit ragu, apakah membaca The Night Watch terlebih dulu adalah pilihan tepat. Karena sebenarnya novel ini adalah novel kedua dari The Occupation Trilogy yang diklaim sungguh wow karna menggunakan ‘the art of memory‘. Saya sih cem nekat saja pinjam dari Mba Puri, salah satu pembaca panutan saya yang katanya jarang meminjamkan buku ke orang lain (uhuk-terharu). Toh blio berhasil menyelesaikan buku ini dan memberikan ulasan yang tidak buruk di Goodreads.

Novel pendek ini berlatarkan Perang Dunia II dan bercerita tentang seorang pria muda yang berada di dua kondisi: sebagai informan Gestapo di Prancis tentang kelompok Resistance dan juga kerjanya untuk Resistance  untuk memberikan informasi mengenai polisi dan perdagangan gelap. Saya paham plot ini karena sinopsis di balik buku, tapi ketika membacanya langsung, awalnya saya sangat kebingungan. Seolah-olah Modiano menginginkan pembacanya untuk segera catch-up dengan banyak hal. Kecepatan dialognya ngebut, detail ruangan dan atribut tokoh dilempar begitu saja; sungguh seperti dihujani objek bertubi tapi tidak ada pengantar ataupun aba-aba. Saya sempat minder: “syit, kayanya aqyu nggak bisa baca Modiano, kok aku nggak ngerti, tulung!” Tapi, paruh kedua novel ini, Modiano sepertinya mulai selow dan memberi satu-dua petunjuk ke mana arah novel ini menuju.

(Saya menenggak Vodka supaya lebih encer membaca buku ini. Ternyata lumayan berhasil #alesan #padahalmemanginginngombewe.)

Saya tidak tahu apakah pencarian identitas adalah ekspresi yang tepat, cuman memang saya mulai menangkap ada kecemasan, jika bukan kepanikan, dari si “aku” terhadap lingkungan sosial yang sejatinya berisi ingatan-ingatan campur aduk. Cara “aku” mendengarkan lagu, melihat ruang tempat ia berada, juga ketika sedang membicarakan orang-orang di sekitarnya, seperti ingin mengajak pembaca turut merasakan kelimbungan yang ia hadapi.

My indifference gives way to what English Jews call a nervous breakdown. I wander through a maze of thoughts and come to the conclusion that all these people, in their opposing camps, have secretly banded together to destroy me. 

Menurut saya, kunci buku ini bukan hanya soal ingatan, memori yang dimaterialkan secara verbal maupun lewat gerak aksi tokoh; namun lebih penting dari itu adalah bagaimana si “aku” memposisikan ingatannya ke kondisi yang sedang ia hadapi. Saya tidak bisa menangkap adegan secara utuh, siapa sedang melakukan apa, siapa sedang berinteraksi dengan siapa. Entah karena kurang telaten atau memang demikianlah, saya justru menangkap poin ini dari cara “aku” membicarakan seseorang atau sebuah tempat. Ingatannya tentang sudut-sudut kota Paris diceritakan kembali bersama dengan orang-orang yang ia kenal.

A little village, and old church tower, these described my fondest hopes. Unfortunately, I lived in a city not unlike a vast Luna Park when the Khedive and Monsieur Philibert were driving me from shooting galleries to roller coasters, from Punch and Judy shows to ‘Sirocco’ whirligigs. Finally I lay down on a bench. I wasn’t meant for such a life. I never asked anyone for anything. They had come to me. 

Saya pikir bagi mereka yang familiar dengan Paris, akan mendapati buku ini berhasil memberi nuansa tambahan. Atau jika tidak familiar, seperti saya, kamu masih bisa sedikit menikmati sedikit “luntang-lantung” (flâneur much?) si “aku” di Paris dan dua sisi politik yang saling bersebarangan. Si “aku” merasa kesesakan. Namun, di akhir buku, Modiano memberikan kesimpulan (atau mewejangi) para pembaca agar supaya tetaplah waras wahai!

20180310_233335.jpg

You lose a lot of people along the way. All those faces need to be remembered, all those meetings honoured, all the promises kept. Impossible. I quickly drove on. Fleeing the scene of crime. In a game like this you can lose yourself. Not that I’ve never known who I was. I hereby authorise my biographer to refer me simply as ‘a man’, and wish him luck. I’ve been unable to lengthen my stride, my breath, or my sentences. He won’t understand the first thing about this story. Neither do I. We’re even.

Oh iya, entah kenapa membaca ini saya merasakan pengalaman serupa seperti membaca New York Trilogy-nya Paul Auster. Apa karena tokoh “aku”-nya agak-agak mirip yak. Eh ya sudah ah~~~

2 responses to “Siapa Tahu Kamu Mau Baca, Ep. 24 – The Night Watch”

  1. Baru baca yg Cafe of Lost Youth, dan ga terlalu masuk, dan emang si Modiano ini seolah-olah pengen pembacanya udah ngeh soal sikon mahasiswa Paris 60an.

    Like

Leave a reply to arip Cancel reply