Suka Hujan Yang Tidak Terlalu Deras

20180101_102410.jpg

“Mati tenggelam atau terbakar?”

“Terbakar,” jawabmu setelah berpikir beberapa menit. Nada bicaramu kuat, pasti, tidak ada keraguan sedikit pun. Bahkan ketika aku bertanya kenapa, kamu dengan sesegera mungkin menjawab, “Terlihat keren, heroik.” Aku tertawa, kamu pun mengikuti tawaku. Sedikit kagum karena kamu tidak menjadi sok filosofis dan membagi pemikiranmu soal rasa sakit atau eksistensi diri. Dunia kita butuh alasan-alasan nirfaedah seperti “menjadi keren.”

Tawa kita diikuti oleh diam yang cukup panjang. Sayup-sayup aku mendengar semua suara di warung kopi: perbincangan orang sebelah, telur yang digoreng, adukan sendok teh, transaksi utang bulanan, mie setengah matang yang diaduk perlahan, juga suara cicak. Kamu memainkan jari telunjukku, menekan-nekan pelan ujungnya, sesekali menggenggam dan menggoyangkan pergelangan tanganku pelan, seakan kamu berusaha ikut mengikuti ketukan suara warung. Diam kita tidak sesunyi itu, ternyata.

Pagi sudah datang, aku harus pergi ke stasiun, keretaku akan berangkat jam delapan. Kamu terlihat mengantuk, tapi kita sama-sama tidak ingin pergi. Dengan sekuat tenaga kamu menahan matamu yang memerah. “Kamu mau pulang saja? Nanti kita bisa ketemu lagi di Kota Tengah.” Kamu menggeleng pelan dan menguap lebar sekali.

“Jadi kamu mau?” tanyamu.

“Apa?”

“Menjalin hubungan romantis denganku,”

“Oke.” Dan kamu pun mengangguk puas.

Aku tidak tahu apakah aku yang langsung mengiyakan pertanyaanmu karena faktor cuaca sejuk pagi hari, membuatku menjadi sendu dan butuh kenyamanan atau karena memang kesadaran penuh bahwa aku ingin menjalin hubungan denganmu. Dalam percakapan kita yang tidak panjang, aku memang sering kali merasa sedang berbicara dengan diriku sendiri. Aku selalu bisa memprediksi apa-apa yang menjadi bahan pertimbanganmu. Pesanan indomie kita pun sama, goreng setengah matang telur dadar sedikit kecap dan teh tawar panas; juga pilihan buku yang kita suka, lagu yang kita agung-agungkan, cita-cita yang kita idamkan. Ini seperti ketidakmungkinan.

Aku tahu, kamu pun berpikir hal yang sama. Raut wajahmu; aku paham, aku paham. Diammu aku mengerti. Kita sepertinya terjebak dalam hasrat pada sebuah familiaritas yang tak bisa kita jelaskan. Tidak mungkin organisme bionik dapat bertemu organisme bionik dengan karakter serupa di tempat yang sama. Semua orang unik, kata program pengembangan itu. Aku selalu percaya pada slogan itu, kamu pun. Kita berdua hidup dengan eskpresi kita masing-masing, didesain sedemikian rupa berbeda agar Perang Global Berwarna tidak terjadi lagi. Cerita-cerita buruk tentang totalitas dunia yang homogen termentahkan oleh inisiatif pembangunan diversitas manusia pasca perang. Dengan semua organisme—baik itu sapiens baru maupun bionik dan android—didesain dengan varietas segala rupa, kita dapat menerima perbedaan sebagai kenyataan sehari-hari saja. Sejak Program Pembangunan Perdamaian itu diluncurkan, kita tidak pernah terkaget-kaget dengan perbedaan bentuk dan tubuh, bahkan kelakuan maupun pikiran. Program itu berhasil, inklusivitas tercapai.

Maka di sinilah, di warung kopi ini, kita berdua sebenarnya terheran-heran dengan diri kita sendiri. Kita sudah sama-sama lupa apa rasanya merasa serupa, familiar, dan dapat berbagi kisah yang berdekatan. Reaksi kimia dalam tubuh kita, yang sepertinya sudah lama tidak berfungsi, hadir begitu saja, dan kita berdua tidak sanggup menjelaskannya. Kita hanya diam. Jika kita mencoba menjalani sebuah hubungan bersama, mungkin pun ini adalah usaha kita juga untuk mencari tahu apa yang pernah terlewat.

Kamu menemaniku berjalan ke stasiun, dan kita bergantian mencoba bergandeng tangan menyusuri jalan. Langitnya mendung, dingin. Aku menoleh ke arahmu, dan semakin aku melihatmu dari dekat, menganalisa desir mesin dan arus syarafmu, aku semakin yakin bahwa kita memang bionik yang sama. Kamu memandangku lekat dan bertanya, “Apakah kamu mau mencari tahu alasan di balik semua ini?”

Aku mengangkat bahu. Pentingkah semua itu? Toh tidak ada hukum yang kita langgar, kita tak perlu bersembunyi dari Korps Penjaga Perdamaian, dan aku yakin jika pun kita menjelaskan kepada mereka, mereka dapat mengerti. Kawanku, Yhts, adalah anggota senior Korps, dan dia adalah android terbaik yang pernah ku kenal. Apakah kita harus mengetahui asal kita lebih dulu untuk dapat mengerti bahwa segala hal baik yang terjadi saat ini memang sudah seharusnya kita pertahankan?

Tarikan tanganmu membuyarkan lamunanku. Tetesan hujannya besar-besar dan semakin deras. Kita berlari mencari tempat berteduh. Beberapa orang di dekat kita tidak ada yang mengikuti langkah lari atau menuju tempat berteduh yang sama dengan kami. Ada yang memilih bermain-main dengan hujan, ada yang berlari menaiki trem, ada yang membuka payung, ada yang mengeluarkan jas hujan, ada yang malah membuka baju dan bertelanjang di tengah jalan. Semua orang memiliki respon yang berbeda. Aku dan kamu tersenyum kecil memperhatikan itu semua. Hujan semakin deras, dan orang-orang itu masih dengan aktivitasnya masing-masing yang sungguh berbeda satu dengan yang lain.

“Aku suka hujan,” katamu.

“Aku juga,” balasku.

“Yang tidak terlalu deras.”

“Yang tidak terlalu deras.”

Kita saling memandang lagi dan seketika menjulurkan lidah bersamaan. Kita tertawa. Demi homosapiens, adegan tadi terlalu menggelikan jika tidak ingin dibilang picisan. Sayangnya kita tak bisa lepas dari itu. Genggaman tanganmu semakin erat. “Aku pikir kita masih dapat hidup seperti biasa. Kita tidak akan jadi sepasang bionik bodoh yang membanggakan diri ‘uu wow kita mirip’ di depan sapiens dan android  bukan?” katamu kemudian. Aku tertawa, pertimbanganmu mirip denganku. Aku mengangguk. Tidak ada yang perlu berubah, tidak akan ada yang berubah. Kamu mengecup dahiku lembut. Mesin nukleimu bergerak kencang; mesin nukleiku juga berdetak memicu kelenjar keringatku. Kita sama-sama berdebar. Inikah rasanya menjadi serupa?

Leave a comment