Siapa Tahu Kamu (Tidak) Mau Baca, Ep. 14

The Letter Killers Club – Sigizmund Krzhizhanovsky (penerjemah: Joanne Turnbull dengan Nikolai Formozov, NYRB 2012)

Stop menulis, stop! Jangan menulis, matikan plotmu, jangan membuat penutup cerita, ulang semua dari awal, pikirkan saja jangan tulis! Selamat datang di The Letter Killers Club, pertemuan tiap hari Sabtu, dan perkenalkan presiden klab, Zez, dan enam anggota lainnya: Rar, Das, Tyd, Fev, Hig, Mov. Pengarang tidak punya nama dalam klab ini. Tiap Sabtu, satu anggota akan berbagi cerita yang belum selesai, dan yang lain boleh menanggapi. Cerita tak boleh ditulis, karena kata-kata tertulis merusak imajinasi. Rak buku di ruang pertemuan itu kosong, berisi konsep-konsep luar biasa bukan buku atau manuskrip. Kamu datang di pertemuan itu, atas undangan Zez, di hari Rar menyampaikan cerita berjudul “Actus Morbi”, dilema seorang aktor ketika sebuah tokoh peran menolaknya menjadi tuan. Rar memiliki manuskrip, dan Zez membakarnya di perapian. Sejak itu, kamu terus memikirkan Rar. Di minggu berikutnya Tyd bercerita tentang seorang pengantin bahagia dalam “The Feast of the Ass”, lalu merombaknya menjadi cerita lucu berjudul “The Goliard’s Sack”, sebelum kemudian Das menumpuknya dengan fiksi sains tentang infeksi otak yang menahan otot orang-orang gila “Exes”, dan Fev menawarkan kisah “The Tale of Three Mouths.”

Betapa eksentriknya cerita-cerita mereka, kamu tetap bersimpati pada Rar. Pikirmu, “Konsepsi tanpa sebuah jalinan teks … seperti sebuah jarum tanpa benang: ia menusuk tapi tidak menjahit.” Kamu menaruh perhatian khusus, dan kamu pun mendapati beberapa cerita tertahan ketika Rar meninggalkan ruangan. Otoritas Zez, ya, kamu pun memikirkan itu. Terlepas perhatianmu pada Rar, kamu tahu, ia mematuhi Zez. Benarkah kata Zez, pengarang adalah penjinak kata-kata, penjebak dan pembunuh konsep? Benarkah pengarang seperti Rar bernasib buruk: tak dapat bercerita tanpa manuskrip dan tulisan, mati oleh kata-katanya sendiri? “Apa yang kau baca, tuanku? Kata-kata, kata-kata, kata-kata.” Hingga penghujung cerita, kematian Rar juga membuatmu kehilangan kata-kata. Musnah. Habis. Lalu mana yang lebih dulu: teka-teki atau jawabannya?

Entahlah, membaca novel ini membuat saya murung (in a good way?) Secara teknis, saya kesulitan membaca novel ini karena banyak detail-detail mengenai naskah drama Hamlet berbagai versi, termasuk pemikiran para filsuf logika, juga yang lebih populer seperti Immanuel Kant. Tapi kesulitan itu sebenarnya sedikit dapat dijembatani dengan catatan akhir yang menjelaskan referensi-referensi itu. Paling tidak, pembaca awam yang juga tidak paham perjalanan seni drama dan sastra bisa mengerti apa yang dimaksud oleh Krzhizhanovsky. Setelah menyelesaikan novel ini, pengantar apik yang menjelaskan tentang perjalanan kepenulisan Krzhizhanovsky dan bagaimana novel ini bisa hadir juga memperkaya konteks.

Namun secara tema, pikiran saya pun menjadi penuh ide-ide dalam novel ini. Salah satu bagian dari novel ini yang sangat amat mengganggu saya adalah ketika Fev khawatir jika tema-tema dalam cerita mereka dibuka pada orang lain, dan orang itu mengekstrak konsep menjadi uang dan ketenaran. Menjawab kekhawatiran ini Zez berkata, “Jangan ngawur. … Aku tahu seseorang yang sempurna. Kita dapat membuka tema-tema kita tanpa khawatir, karena ia tidak akan menyentuh apapun.” “Tapi mengapa demikian?” tanya Fev lagi. “Karena ia hanya membaca sepintas: sesuatu yang disebut oleh Fichte pembaca murni (pure reader): pasangan yang cocok untuk konsepsi murni. Itu saja.Pure reader. Pure reader. Pure reader.

Saya menghabiskan semalaman membaca teks Johan Gottlieb Fichte, filsuf Jerman, yang mengembangkan pemikirannya dari pembacaan terhadap Kant dan berusaha membangun sistem akan konsep telanjangnya mengenai subjektivitas (the pure “I”). Istilah pure reader sendiri muncul dalam teks Scientific Condition of the Third Age (Lecture VI) yang jika boleh sotoy, sedikit banyak membahas konsep tentang pemahaman (subjektif). Fichte dalam teks itu tidak hanya membahas konsep tersebut dalam dunia saintifik dan akademik, namun juga dunia sastra. Fichte mencoba membangun argumen mengenai kritik dan Ulasan, termasuk pada kebiasaan membaca Pembaca murni.

Seperti merokok, seseorang yang telah merasakan kesenangan dari kondisi itu akan terus menerus ingin melakukannya, bersetia pada aktivitas dan bukan yang lain: ia membaca tanpa perhatian terhadap pengetahuan sastra, atau untuk memajukan zamannya; dengan pandangan ini saja, ia membaca, dan hidup membaca; inilah representasi karakter Pembaca murni.

Pada titik ini, baik itu Kepengarangan dan Kepembacaan mencapai akhirnya; mereka menghilang di dalamnya, berujung pada kepunahan mereka sendiri. Untuk Pembaca murni, seperti yang sudah kita deskripsikan, tidak ada lagi ajaran dalam pembacaannya, tidak juga ia memperoleh konsepsi jernih dari pembacaannya; … segala instruksi terputus dari dirinya.”

(teks panjang bisa dibaca di sini)

Fichte melihat Pembaca murni sebagai seseorang yang terus menerus membaca (produk cetak) agar tidak ketinggalan terhadap apapun yang pernah tertulis, tanpa mempertimbangakan secara utuh apa yang telah dibacanya. Kalau boleh menyimpulkan mungkin ini yang dimaksud “membaca hanya untuk membaca.”

Novel ini sebenarnya lebih mengangkat isu kepengarangan, dan pembaca murni hadir dengan peran yang inferior. Konsep murni para pengarang tidak akan tersentuh, tidak akan diotak-atik, apalagi dikomersialkan oleh pembaca murni karena pembaca murni tidak mengerti! Di sini saya menangkap bahwa novel ini seperti ingin mengatakan bahwa pembaca yang membaca hanya untuk membaca tidak akan memiliki peran berarti pada proses pra-sastra. Sebagai pembaca, saya dilematis. Saya menganggap Zez (dan hampir semua anggota klab itu) adalah sekelompok pengarang brengsek dan kemaki, seakan ide dan konsep mereka uuu wow sungguh pasti brilian. Tipikal pengarang (bukan penulis karena mereka tidak menulis) yang tidak berinteraksi dengan pembaca dalam berproses dan berkutat sendiri dengan ide-idenya di ruang dan rak buku kosong (karena menulis adalah kesia-siaan untuk imajinasi). Namun di sisi lain saya juga memahami dan sangat takjub pada usaha-usaha kepengarangan mereka: berimajinasi, membongkar bentuk, mengganti plot, saling menghajar cerita, membuang kata-kata, mempertandingkan ide. Di sinilah saya pikir konflik serius dalam novel ini; bukan manusia-dengan-manusia, tapi ide-dengan-ide, kata-kata-dengan-kata-kata, dan semuanya hadir sekaligus hilang dalam diri pengarang dan proses kepengarangannya.

Oke, saya kewalahan, bahkan dalam minggu ini cuman berhasil baca novel rumit postmo-ish cem ini (terpujilah kelean yang memahami sastra). Mungkin di tahun 2018 nanti, saya akan mengganti judul rubrik ini menjadi Siapa Tahu Kamu Tidak Mau Baca.

Tabik untuk para pengarang dan pembaca!

Leave a comment