Saya dan Bram berjalan memasuki pelataran utama Bentara Budaya yang berantakan penuh logistik dekor. Kurang tahu juga untuk pertunjukan apa. Sabtu sore itu sepi. Bram menyapa Purnama Sari, penulis dari Bali yang namanya sering saya dengar itu. Setelah menyapa Pur sebentar, saya hanya tengak-tengok saja melihat apakah pembicaranya sudah datang. Wah, sudah. Mas Iksaka Banu, bersama istri dan putranya, sudah di depan ruangan. Mungkin terdengar lucu karena meskipun saya sudah mendengar nama Mas Banu, saya baru membaca kumpulan cerpen terbaru beliau, Ratu Sekop, yang diterbitkan Marjin Kiri. Kumpulan cerpen Semua Untuk Hindia yang memenangkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa pada tahun 2014 itu belum saya baca, apalagi novel terbarunya, Sang Raja, padahal sesi bincang di Bentara itu adalah membicarakan soal sejarah dan penulisan fiksi. Pikir saya, meskipun belum paham-paham amat paling tidak sudah sedikit mengintip karya-karya beliau di Ratu Sekop. Ehehehe, sotoy diam-diam.
Diskusi di Bentara waktu itu tidak terlalu ramai, hanya ada belasan orang, termasuk kawan baik beliau. Waktu itu beliau memang banyak menjelaskan soal proses kreatif penulisan cerpen-cerpen sejarahnya, namun pun kami sedikit banyak mendengar tentang tema cerpen beliau yang lain sebelum Semua Untuk Hindia. Saya jadi berpikir apakah impresi dan pemahaman saya soal beliau ketika membaca Ratu Sekop akan berubah ketika saya lebih dalam membaca dua karyanya yang lain, yang benar-benar bertemakan sejarah? Di sinilah saya memantapkan diri untuk membuat satu tulisan khusus membahas ketiga tulisan beliau.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapapun yang sudah, ingin, dan akan membaca karya-karya beliau.
Kumcer ini berisi tiga belas cerita yang beredar dari tahun 2001 sampai 2005, dengan satu tambahan cerita baru yang ditulis tahun 2015. Bagian belakang buku tertulis “cerpen-cerpennya yang imajinatif, absurd, dan sesekali berbau fiksi-sains dengan latar kehidupan urban yang kuat”. Saya pikir itu penggambaran yang sangat tepat. Beberapa cerpen dengan aroma fiksi sains itu pun bukan cerita dengan kompleksitas sains dan semestanya, namun ketangkasan pengolahan premis-premis sederhana berhasil mewujudkan aura kelam yang sering kita temu dalam genre cerita itu. Seperti dalam cerita Vertigo, kekuatan cenayang yang didapatkan setelah pingsan dari pusing dan mual hebat membawa sang tokoh harus berurusan dengan politisi berpengaruh. Dalam cerita Listrik, kemampuan seorang istri membaca pikiran suaminya setelah tersetrum arus listrik menganggu sang suami itu sendiri, seperti tidak ada kebebasan untuk berpikir tentang apapun tanpa harus diketahui istrinya. Belum lagi cerita Cermin yang menawarkan cerita tentang strategi seorang pria yang ingin selingkuh melalui “makhluk” kloningannya yang entah datang dari mana. Salah satu cerita yang sedikit lebih masif adalah cerita terakhir kumcer itu, VIP, yang bercerita tentang kedatangan alien di Pantai Selatan, berujung pada transaksi serah-terima peran pembawa pesan.
Cerpen-cerpen Mas Banu sebenarnya tidak terlalu “wah”. Bahkan cerita android dalam Undangan Seratus Tahun dengan sistem pemerintahan dan produksi pengetahuan yang sudah berbeda tidak memberikan momen khusus. Meskipun narasi mengalir lancar dan tokoh bergerak bebas, imajinasi cerpennya tidak terlalu dinamis. Pengandai-andaian soal keabsurdan memang tidak menyingkirkan yang “normal”, namun seperti ada sedikit pemaksaan dalam proses menyeret yang “normal” menuju yang “absurd”. Meskipun demikian, tidak menyingkirkan kesan tentang gaya narasi Mas Banu yang substil. Tidak banyak beban untuk menjelaskan secara logis mengapa “X mengakibatkan Y” namun toh kita terima-terima saja “dibujuk” mengikuti nasib para tokohnya. Seperti dalam Superstar, cerita itu berakhir dengan seorang penyanyi rock mati dibunuh oleh kekasihnya yang cemburu. Plot itu sebenarnya kan ya-sudah-gitu-saja tapi pembangunan peristiwa-peristiwanya sangat sabar, dimulai dengan sebuah pertanyaan, “Ke mana perginya para superstar setelah mereka mati?” yang sesungguhnya tidak membuat kita berekspektasi untuk akhir yang ngilu. Bahkan cerita Ratu Sekop sendiri tidak berakhir dengan ratu sekop!
Bagi saya, keganjilan tak terduga adalah kekuatan cerita-cerita Mas Banu di kumcer ini. Selain itu kita juga tidak dibawa pada humor atau kejenakaan remeh. Tidak jarang saya sendiri lebih banyak mengakhiri tiap cerita dengan “njir” atau helaan nafas panjang. Ketika Mas Banu menandatangani buku saya, beliau menulis, “Hidup lebih absurd dari seluruh cerita dalam buku ini.” Entah saya harus senang atau murung ehe~

Semua Untuk Hindia dan Sang Raja: Beban Data?
Setelah menyelesaikan Ratu Sekop, saya segera menghabiskan Semua Untuk Hindia dan novel Sang Raja. Keduanya berlatar belakang era kolonial, namun Sang Raja sendiri spesifik dengan latar belakang Nitisemito, sang juragan rokok kretek di Kudus. Untuk kumcer Hindia, sepertinya saya tidak akan banyak membahas, mengingat ulasan buku ini sudah beredar di mana-mana. Salah satu yang detail dan akademik membahas buku ini, khususnya soal menyoal konteks kolonialisme dan identitas, adalah ulasan Ariel Heryanto. Namun sebelum membahas Sang Raja, saya harus mengangkat bagian hampir akhir dari tulisan itu. Ariel Heryanto menulis, “Data itu tidak menjadi beban dalam penuturan cerita. Data-data kesejarahan itu disampaikan secara berhemat sesuai kebutuhan jalannya cerita.” Pernyataan ini mungkin tidak sepenuhnya salah, namun perlu dilihat bahwa beban data itu bukan dalam penuturan cerita. Maka pertanyaannya, di mana beban itu dapat ditemukan jika bukan dalam alur cerita? Di dalam percakapan.
Misalnya, di cerpen berjudul Semua Untuk Hindia ketika De Wit berusaha menjelaskan soal Van Heutsz, Gubernur Jenderal yang mengekspansi Aceh:
“Semua Gubernur Jenderal Hindia gila perang,” kubantu Baart menurunkan ransel. “Terutama Van Heutsz. Kemenangan di Aceh mendorongnya menjadi fasis tulen.” (hal. 66)
“Semua untuk Hindia Raya. Mimpi erotis Van Heutsz. Bajingan itu sadar, perjanjian antara Hindia dengan para raja-raja Bali tahun 1849, membuat pulau ini menjadi satu-satunya wilayah di Hinida yang masih memiliki kerajaan berdaulat, tidak tunduk pada administrasi Hindia. Kurasa jauh sebelum menjadi Gubernur Jenderal, Van Heutsz telah merencanakan untuk mencari gara-gara dengan Bali. Maka ia menyambut gembira peristiwa kapal karam ini karena memiliki peluang lebih besar dalam memancing kemarahan penguasa Bali dibandingkan rekayasa politik ciptaannya terdahulu, yaitu pelarangan upacara Mesatiya.” (hal. 67)
Jika potongan konten percakapan itu bukanlah “beban data”, saya kurang tahu lagi harus menyebutnya sebagai apa. Yang perlu dijelaskan di sini, Mas Banu memiliki visi, dan visinya bukan sekedar bercerita, namun juga menyampaikan narasi area abu-abu dalam sejarah Indonesia. Saya mencoba bertukar pikiran dengan Bram soal pendapat saya tentang cara Mas Banu ini, dan salah satu wacana menarik di sini adalah Mas Banu setia pada garis waktu dan fakta-fakta mendetail, dan tokoh fiksionalnya terselip di antara itu, mengisi kekosongan, sekaligus menghidupkan latar. Cerpen Mas Banu bukan cerita berlatar sejarah (seperti cerita-cerita Romo Mangun misalnya). Sebaliknya, ia adalah sejarah dengan bumbu cerita. (Thanks, Bram, buat masukannya ini!)
Kesimpulan ini terteguhkan ketika beberapa kali saya menemukan pola serupa dalam novel Sang Raja. Perjalanan waktu kebangkitan dan keguguran Nitisemito dan pabrik rokok Bal Tiga dinarasikan melalui dua tokoh fiksional: Filipus Rechterhand, seorang Belanda, dan Wirosoeseno, seorang Jawa. Tentu pemilihan karakter bukan secara acak karena ingin bercerita tentang mereka per se, tapi dengan identitas dan latar tokoh, Mas Banu bisa sedikit leluasa memberikan ragam perspektif soal Nitisemito dan pabrik rokok kretek Bal Tiga, termasuk situasi-situasi politik yang menyertainya. Sebagai contoh, di bagian awal novel, Mas Banu memberikan ruang bagi Wirosoeseno untuk merepresentasikan latar transisi menuju modernitas. Bekerja menjadi karyawan pabrik menjadi sebuah pertanda bentuk perubahan: industrialisasi. Wirosoeseno menggunaknan perkembangan teknologi dan pergerakan bumiputra ketika berargumen dengan Bapaknya yang resah soal keputusan Wirosoeseno menjadi karyawan Bal Tiga.
“Dunia sedang berubah cepat, dan perubahan itu membuat keadaan menjadi sangat berbeda dengan zaman sebelumnya. … Penemuan datang silih berganti. Umpamanya saja: listrik, meskipun belum masuk desa. Atau radio, sepeda, auto, pesawat terbang.
Banyak organisasi bumiputra yang berdiri, banyak bumiputra yang ikut dalam parlemen. Semuanya atas izin pemerintah juga. Nah, kalau ada pabrik bumiputra bisa berkembang sampai sebesar itu, berarti dari segi standar industri sudah lulus. Sudah diberi izin. Sudah memenuhi syarat. Setara dengan pabrik Belanda.” (hal. 69)
Konten argumen Wirosoeseno kepada Bapaknya bukan untuk menjelaskan hubungannya dengan sang Bapak, tapi untuk menjelaskan konteks sosial politik macam apa yang memungkinkan Nitisemito dan lahirnya pabrik kretek. Contoh lain lagi adalah ketika kedua tokoh ini mendapati berita bahwa Karmain, karyawan kesayangan yang kemudian menjadi menantu Nitisemito, tertuduh menggelapkan pajak melalui pembukuan ganda.
“Baiklah. Untuk mudahnya, lupakan dulu nama-nama pelaku,” kataku. “Kita berangkat dari pemikiran umum yang sederhana.”
“Aku mendengarkan.”
“Nah, dengar. Tuduhan lengkap yang dialamatkan kepada Karmain adalah: penggelapan uang lewat pembukuan ganda, dengan cara mengedarkan rokok tanpa pita cukai, sehingga hasil pajak yang diterima Pemerintah lebih sedikit dari jumlah semestinya. Mudahnya kira-kira beginiL kita menjual 10 bungkus rokok, tetapi yang diberi pita cukai hanya 8 bungkus. Sehingga pada pembukuan resmi hanya tertulisa pemasukan dari 8 bungkus rokok. Yang 2 sisanya entah masuk ke mana.”
“Siapa pemegang pembukuan yang satu lagi?”
“Masih dalam penyelidikan,” aku menarik napas panjang sambil sekali lagi memutar pandangan ke depan dan ke samping. “Tetapi tanpa buku kedua pun ketimpangan bisa terlihat dengan memeriksa nota gudang. Kalau penyelidikan ini jujur, seharusnya mantan Kepala Gudang juga diperiksa. Demikian pula mantan Kassier, karena ia menerima pemasukan uang yang jumlahnya berbeda dengan pengeluaran. Perusahaan harus memanggil dua orang yang sudah dimutasi itu.” (hal. 228-229)
Saya tidak bisa menyebutkan apa-apa saja yang saya temukan satu per satu karena jadinya akan panjang sekali, cuman sejauh pembacaan saya, cara Mas Banu bercerita memang sepertinya demikian. Dalam percakapan-percakapanlah tertumpu beban data itu. Maka kesan “sama sekali tidak ada beban” bagi saya justru sedikit misleading.
Fiksi sejarah memang bukan barang baru, dan tulisan Mas Banu bukan seperti oase di tengah gurun gersang, namun tanpa harus menuntut sebuah “kebaruan” dan menjadi (sok) anti-mainstream, tulisan-tulisan Mas Banu yang berlatar sejarah layak mendapat perhatian dekat. Sang Raja sendiri mengingatkan kita soal bumiputra yang tidak melulu miskin dan sekarat di bawah penjajahan kolonial. Mungkin saya kurang referensi, tapi kita lebih sering mengenal raja bumiputra dalam konteks kolonial sebagai “raja-raja kecil” di pedesaan, para tengkulak, mafia tanah, atau kepala-kepala desa di areah perkebunan gula yang bernegosiasi harga dengan Belanda. Sang Raja mengingatkan soal “raja besar” yang eksis dengan segala keberhasilan juga skandal kecurangannya yang tidak berbeda jauh dengan sekarang: urusan pajak. Skandal pajak yang kemudian diamplifikasi dengan gagal panen dan situasi perang yang menyulitkan usaha, mengakhiri kejayaan Nitisemito dan Bal Tiga.
Saya jadi berpikir, jika bisnis sebesar itu bisa gulung tikar karena skandal pajak ditambah faktor-faktor politik dan alam, seberapa mungkin ya raja bisnis di Indonesia sekarang–yang sudah jelas rekayasa pajak, merusak hutan, dan ditunggangi kepentingan politik–bisa collapse juga? Ehehe~
Sejenis Penutup (halah)
Mungkin (tentu ini sebuah spekulasi subyektif), mulai membaca fiksi Mas Banu dari kumcer Ratu Sekop adalah sebuah langkah yang tepat. Saya tidak terlalu terjebak dengan atribut-atribut cerpenis sejarah yang dikenakan pada beliau setelah Semua Untuk Hindia. Membaca Ratu Sekop tanpa kecanggungan berarti sesungguhnya adalah proses yang menyenangkan. Dalam hal ini, sangat penting juga untuk memberikan apresiasi besar kepada Mas Ronny Agustinus dan Marjin Kiri yang membantu Mas Banu menerbitkan cerpen-cerpen non-sejarahnya. Paling tidak saya jadi bisa mengenal Mas Banu di luar karya Kusalanya. Dengar-dengar beliau sedang mengerjakan beberapa fiksi sejarah lain. Ya, kita nantikan saja.
2 responses to “Siapa Tahu Kamu Mau Baca, Ep. 07 – Edisi Iksaka Banu”
Perkenalkan saya Riyan, tinggal di Jogja. Bagaimana saya bisa menyapa anda? Saya tertarik untuk membaca beberapa referensi sejarah. Terus terang, saya tidak punya beragam sumber yang membantu saya untuk paham beragam sejarah Indonesia. Kalau boleh, apakah ada buku-buku dengan nuansa seperti tulisan Mas Iksaka Banu? Terima kasih. Salam
LikeLike
Hai hai. Kalau nyari fiksi sejarah seperti Iksaka Banu, saya sebenernya ga punya banyak referensi (selain kembali ke Pram), tapi mungkin bisa cek buku-buku karya penulis seperti Leila S. Chudori, Ahmad Tohari, dan Ratih Kumala.
LikeLike