dari meja pembaca

November, Desember, Januari: tiga bulan pada penghujung 2025 dan awal 2026, saya meninggalkan tumpukan buku dan daftar baca saya. Mereka terbengkalai, entah karena saya ingin “berlibur” atau sesederhana kemalasan yang terbingkai dalam kerangka swa-perlindungan “bulan-bulan sabat”. Saya masih melihat arsip dan mengumpulkan data, merevisi manuskrip, menghadiri konferensi, tetapi saya betul berhenti membaca dengan tekun dan giat. Dan dua atau tiga artikel panjang tiap hari tidak menutup kenyataan bahwa saya menjauh dari buku. Saya lesu berhadapan dengan rentetan kata dan huruf terlalu panjang. Suara penulis terdengar sangat gaduh di kepala, dan saya ingin berhenti sejenak, sebentar, menjalani hari tanpa teks sistematis maupun eksperimental, mengarungi jam-jam hanya dengan pikiran sendiri yang isinya tidak begitu menarik.

Lalu muncul pertanyaan, apa sih yang biasanya saya lakukan ketika sedang tidak membaca sesuai dengan laju yang telah saya tekuni selama satu dekade lebih? Biasanya sih menulis manifesto murahan soal berusaha membaca lagi, atau bernostalgia tentang betapa tekunnya saya pada tahun-tahun tertentu, atau menghibur diri dengan “nanti aku akan kembali.” Tulisan ini bisa jadi praktik tri-tidak-tunggal atas pola kelakuan yang kadang bisa tuntas manifestasinya dengan runutan utas di twitter/x atau post panjang ig story. Tulisan ini juga bisa jadi adalah ketidakmampuan saya menerima kenyataan bahwa jam-jam yang bisa saya pakai untuk membaca tidak akan pernah kembali.

Lebih tepatnya, tulisan ini adalah sebuah pengakuan: semakin hari membaca (juga menulis) menjadi semakin sulit karena saya tidak lagi bisa peduli dan memproses tulisan (di luar pekerjaan penelitian) yang bagi saya tidak baru, tidak menarik, dan tidak mengunggah selera; dan ini termasuk tulisan saya sendiri dan segala situasi paranoid seperti “tulisanku belum sebagus itu untuk muncul di ruang publik yang lebih besar” (iya blog ini isinya lebih banyak bacotan dan ruang latihan saya sendiri). Saya selalu iri dengan mereka yang membaca luas, juga dengan kedalaman yang tidak terjebak pada kesucian teks dan kejauhan hermenutika. Saya tidak puas karena ada banyak bacaan penting dan bagus yang belum saya lihat.

Awal frustrasi ini muncul selepas saya mengarungi kejamnya dunia kerja pasca kuliah es satu. Saya pikir hadir di acara-acara literasi dapat memberi lebih banyak referensi buku bagus. Dengan cepat ilusi itu hancur karena yang saya temukan adalah sekumpulan penulis laki-laki genit dan perempuan-perempuan pemujanya. Mungkin klab membaca akan membantu, namun seketika itu pula saya tidak tertarik karena pun intensinya baik demi kemaslahatan umat literasi urban dan metropolitan, semuanya berujung pada konten konten konten (saya memang bukan target pasarnya; tuh kan karena konten jadi pun ada target pasar) dan wasalam menumbuhkan jejaring siapa tahu bisa menjadi penulis dan punya buku yang diterbitkan oleh teman sendiri.

Kefrustrasian ini terpelihara ketika saya menempuh program master dan doktoral. Selain mencari kredensial demi pekerjaan dan penghasilan lebih tetap, studi pasca sarjana adalah usaha formal dan institusional saya untuk mendapatkan rujukan buku dan tulisan sebanyak-banyaknya. Silabus dengan “extended/further reading” membuat saya gemetar; karena dari situlah saya tahu usaha dosen untuk mengkurasi hal-hal yang pernah dia baca atau temui untuk sebuah topik adalah kegagalan. Satu dua teks utama tidak akan pernah berdiri tegak dalam menit kuliah itu. Ia punya konteks kesejarahan dan genealoginya. Satu gagasan atau praktik sastra adalah amalgamsi benang-benang sejarah yang saling berkait–kronologis dan diakronis. Dan jika saya bisa menyebutkan dengan cepat sekumpulan ulasan dan percakapan panjang tentang satu buku yang memengaruhi perjalanan satu bidang ilmu atau praktik literasi, semua itu muncul bukan dari kesukaan tapi dari ingatan dan ritual untuk menjadi disiplin dengan teks sebagai apa yang filolog Henk Maier pernah bilang “nebula dengan kontur rancu”.

Apakah studi pasca sarjana ini membuat saya membaca lebih banyak buku? Oh jelas. Apakah menyenangkan? Tidak dan ya. Apakah membuat saya menjadi peneliti yang baik? Mungkin. Apakah membantu saya mencari pekerjaan? Ya, meskipun mendapat pekerjaan permanen di kampus ada banyak faktor keistimewaan, keberuntungan, dan timing. Apakah membuat saya menjadi penulis yang lebih baik? Ya tapi tidak cukup. Apakah membuat saya menjadi seseorang yang lebih baik dan punya empati? Jelas tidak. Apakah membuat saya menjadi penggelut sejarah intelektual dan gagasan? Ya, seratus kali ya, dan saya tidak hendak mengubah jalan ini. Apakah kefrustrasian yang saya jaga dan pelihara ini ada masanya melemahkan saya? Tentu *meleyot*.

Sulit dan merepotkan; lalu saya masih di sini dengan raung-raungan berkala tentang membaca dan tidak membaca dan terus membaca lagi dan lagi. Mengumpulkan silabus dan mencari runutan teks di luar keilmuan saya masih menjadi kegiatan saya sehari-hari. Membaca lima buku dalam sehari, bab per bab, tetap saya lakukan. Tiga bulan menggerutu dan menyesali kesia-siaan waktu tanpa membaca karena sibuk dengan semua pikiran dan perasaan sendiri juga bagian dari saya membaca. Kan, saya bermanifesto kembali, untuk mengurai kembali praktik membaca dan meyakini bahwa membaca adalah sebuah kerja, dan bukan sesuatu yang menyenangkan di mana saya mendapatkan kenikmatan erotis dari teks, meskipun tentu saya tidak bisa kabur seutuhnya dari kenikmatan itu. Begitu susah, begitu payah, begitu penting, begitu harus, begitu mendesak, begitu perlu.

Leave a comment