dari meja pembaca

Sudah cukup lama saya menanggalkan kepercayaan bahwa membaca hanyalah untuk bersenang-senang. Apapun yang sedang saya lakukan sekarang adalah soal berusaha menjadi konsisten, mempertahankan kedisplinan sebagai kerja politik, terus menemui penulis dan buku dari berbagai tempat, bercakap-cakap dengan mereka melalui ruang imajiner, sekaligus berkonfrontasi dengan bahasa dan tulisan. Ada banyak hal di luar buku, bahasa, dan gegar semantik–dari yang paling banal hingga yang paling fasik–yang bersumpah pada janji kematian, merasuk ke kesadaran kita bahwa ada kehidupan yang tidak layak untuk dipertahankan. Pertarungan antar tubuh dan kapital. Dan dari meja pembaca yang aman dan nyaman, hentakan radikal untuk mempertahankan kisah, kehidupan, dan panggilan tanah meluap mendorong saya (mungkin juga Anda pembaca) untuk bergerak melakukan sesuatu.

What’s the point of reading and writing? Saya terus memikirkan pertanyaan ini, sembari merenung tentang apa-apa saja yang hendak saya lakukan di hari-hari ke depan: bereksperimen cara dan bentuk membahas atau menulis tentang buku. Saya meninggalkan daftar membaca tahunan yang sudah saya lakukan selama tujuh tahun terakhir. Saya tidak puas denganku hanya berbagi judul, mengulas seadanya. Saya ingin mencipta ulang, membangun instalasi dari apa yang mereka tulis. Seperti kata Fargo Nissim Tbakhi, “mengganti Kriya dengan gagasan politik.” Di meja pembaca nanti akan ada lebih banyak tanda baca menyebar dan berceceran, juga kata kerja yang bertumpuk-tumpuk bersama dengan anak kalimat panjang-panjang, kata sambung yang digeser, racauan yang dihapus, untuk menempa pikiran-perasaan politik. Kejernihan menjadi moda, bukan tujuan, untuk dapat membuka ruang spekulasi. Mungkin saya akan berhasil, mungkin saya akan gagal. Saya akan terus mencoba.

Besok saya masih akan membaca dan menulis lagi. Jika Anda masih di sini, temui saya di meja pembaca.

Leave a comment