Entah sudah berapa lama kepala saya selalu berkutat dengan teknik dan cara menulis esai/ulasan/kritik, atau apapun itu yang dapat dikategorikan dalam payung perbacotan non-fiksi. Mungkin karena saya tidak bisa menulis fiksi, akhirnya saya mencoba untuk membicarakan fiksi sedikit lebih serius a.k.a. mencari cara bagaimana mencampur aduk selera pribadi, penilaian artistik, dan pengamatan konteks, lalu menuliskannya. Blog ini hadir enam tahun lalu untuk kembali merekam usaha saya berlatih menulis (karena dua tiga blog sebelumnya sudah saya hapus). Dan namanya juga latihan, kadang-kadang tulisan itu berhasil muncul sesuai dengan kehendak hati dan selera saya berkomposisi. Tetapi saya merasa lebih banyak gagalnya. Alih-alih berhasil menuliskan pikiran saya sebagai pembaca menjadi rangkaian kalimat runut dan bernas, saya lebih sering melantur. Bagaimana ya caranya bergulat dengan kompleksitas tanpa tenggelam dalam lumpur kerumitan? Bisakah saya keluar dari kabut berbahasa yang saya ciptakan sendiri?
Kumpulan esai Mary Gaitskill, Somebody with a Little Hammer, menyambut pertanyaan saya tentang bentuk dan suara non-fiksi. Buku ini adalah kumpulan suara jernih Gaitskill atas produk seni dan budaya, sekaligus empatinya terhadap kehidupan. Pembacaannya terhadap fiksi, film, dan lagu ia rajut melalui suara personal bukan untuk bicara tentang perenungan pribadi tapi untuk bertemu dengan pembaca dalam ruangan cerah. Ide-ide dan perasaan yang kompleks dan kontradiktif dijabarkan di atas meja dan menulis adalah cara untuk memahaminya satu per satu. Ada kedewasaan dan ketenangan dalam setiap kalimatnya. Ia tidak hendak menjadi sang penulis flamboyan. Ia hadir sebagai pemikir yang hendak merunut elemen-elemen hidup dalam karya seni dan mengutarakan penilaiannya. Ia mengafirmasi sekaligus menguji.
Salah satu esai Gaitskill yang saya sangat suka di buku ini adalah esai pendeknya tentang Peter Pan karya James Matthew Barrie. Esai ini memang tidak seterkenal esai utamanya “Somebody with a Little Hammer.” Namun, saya merasa tergugah dengan caranya merangkum kekayaan Peter Pan melalui prosa yang cermat dan lugas tanpa menghilangkan keindahan ajaib kisah dunia Neverland, sekaligus mengkritik keras Peter Pan versi Disney yang meniadakan kelemah-lembutan novel Barrie itu. Tentang Captain Hook, Gaitskill menulis satu paragraf pendek sebagai salah satu pembuktian adanya celah besar antara novel dan medium film populer:
Captain Hook, by the way, doesn’t get eaten by the crocodile by happenstance; he kills himself because Peter has “better form” than he does. His last act during their fight is to stick his rear out, inviting Peter to kick it, and when Peter makes that gesture, Hook cries out, “Bad form!” before jumping to his death. In other words, Hook wins by an act of aggression that is also an act of self-humiliation.
“Enchantment and Cruelty”
Bertolt Brecht pernah menulis, “Art is not a mirror held up to reality but a hammer with which to shape it.” Gaitskill melihat, menyentuh, dan memegang palu itu. Baginya, seni dalam berbagai macam bentuk dan medium adalah persoalan membangun atau merobohkan realita. Esai-esai personal Gaitskill pun adalah sebuah produk seni yang ia gunakan untuk menilai dan merombak kerumitan-kerumitan psikososial. Pada esai berjudul “Lost Cat,” Gaitskill bercerita tentang kucingnya Gattino yang hilang dan pertemuan-pertemuannya dengan kucing-kucing lain dan orang-orang lain. Kegamangan merespon percakapan dan kecanggungan berinteraksi hadir dalam runutan narasi memoar tentang hubungan sosial dan keintiman relasi.
Who decides which relationships are appropriate and which are not? Which deaths are tragic and which are not? Who decides what is big and what is little? Is it a matter of numbers or physical mass or intelligence? If you are a little creature or a little person dying alone and in pain, you may not remember or know that you are little. If you are in enough pain, you may not remember who or what you are; you may know only your suffering, which is immense. Who decides? What decides—common sense? Can common sense dictate such things? Common sense is an excellent guide to social structures—but does it ever have anything to do with who or what moves you?
“Lost Cat: A Memoir”
Gaitskill menggegam, menggerakkan palu ukir itu. Ia memberi bentuk pada segala pertimbangan intelektual, perenungan kreatif, dan pengamatan pribadinya. Tulisan-tulisan Gaitskill bekerja sebagai sebuah pengingat bahwa kita tidak selalu tahu apa yang terjadi pada diri kita sendiri. Apa yang kita sebut sebagai pengalaman, entah itu pribadi maupun estetis, bukanlah sebuah gambar yang hadir nampak begitu saja dengan gamblang di kanvas mental kita. Pengalaman, sama seperti karya seni, adalah laju menimbang yang patut ditelisik, lebih bagus lagi jika dipertanyakan. Kadang-kadang suara Gaitskill terdengar penuh kesal, apalagi terhadap novel atau film yang tidak mampu menangkap kerumitan kenyataan yang seringkali mengganggunya. Namun, suara itu justru membuat saya mencari tahu bagaimana caranya mengelola kejengkelan menjadi bahan bakar kritik bernas. Gaitskill mengakui kerumitan dan kegelapan hidup tanpa tenggelam di dalamnya. Ia sedang membuka sebuah celah kecil agar kejernihan mengalir melalui cahaya terang itu.
