Membicarakan Buku (Lagi)

Saya baru saja menyelesaikan kumpulan esai Alejandro Zambra, Not To Read (terjemahan Megan McDowell) dan ada satu jenis perasaan yang membuat saya frustrasi ketika membaca buku itu: rasa cemburu. Sebagai penulis Chile yang berhasil mengembangkan bentuk sastra young-adult kontemporer sambil tetap melanjutkan tradisi penulis-penulis Amerika Latin, Zambra memang penulis yang asik untuk kita telusuri cara kerjanya. Misalnya, dalam novela Bonsai, Zambra cukup cekatan menjahit tema tentang tegangan antara dunia sastra dengan kehidupan melalui kerangka plot cukup sederhana (dua anak muda cinta-cintaan) tanpa menjadi overly-snobby atau berusaha mendikte bagaimana seharusnya anak muda mendekati sastra. Maka, membaca esai-esai Zambra sebenarnya adalah sebuah kesenangan. Saya dapat menengok sedikit buku-buku yang dia suka, juga pendapatnya tentang puisi, cerpen, novel, dan dunia baca-tulis. Inilah kesenangan yang menimbulkan rasa iri hati, karena apa yang ditulis Zambra adalah printilan pengalaman, ide, dan posisi argumentatifnya sebagai seorang pembaca!

Sejauh pengamatan saya, ada banyak orang yang sering merasa iri dan insecure pada penulis daripada merasa iri pada sesama pembaca. Mereka berlomba-lomba menulis puisi, cerpen, dan novel daripada menulis ulasan atau kritik. Mereka membayar uang untuk ikut kelas menulis kreatif atau mengambil MFA, tapi saya jarang melihat mereka ikut kelas atau workshop khusus membaca (ada ga sih?) Jujur saja, saya tidak bisa merasa dekat dengan mereka yang ingin jadi penulis, karena saya lebih mudah merasa iri pada para pembaca, khususnya yang memiliki kepekaan, ketajaman, dan kejernihan. Percayalah, tidak semua penulis punya skill ini dan tidak semua penulis mau mengembangkannya.

Maka, keirian saya pada Zambra adalah keirian sebagai sesama pembaca. Saya iri pada caranya membaca buku-buku yang ia suka dan tidak suka, karena ia betul terlihat menyenangi apa yang dia lakukan. Misalnya, di sebuah esai tentang cerpen Roberto Bolaño, Zambra menulis:

I don’t really like ‘Buba’, Roberto Bolaño’s story about football. There are many Bolaño stories I like, and it would be hard for me to choose just one, but there’s no doubt when it comes to choosing the one I like the least. When I read ‘Buba’ the first time, I thought it was clear that Bolaño was not a football fan, and that impression stayed with me until I reread it an hour ago and discovered there was nothing in the story that would allow the inference that Bolaño was uninterested in football. The problem was, rather, that we his readers are too interested in the sport.

Suka / tidak suka pada cerpen Buba tentu ada hubungannya dengan selera Zambra sebagai seorang pembaca, namun selera ini bukan sesuatu yang muncul dari langit atau sekedar bias berlebih. Selera Zambra muncul karena pengalamannya “merasakan” (juga akhirnya “memasak”) berbagai macam cerita dan karya sastra, juga posisi personalnya tentang hal lain di luar sastra, sepakbola misalnya. Semakin banyak dan dalam kita membaca, kita sebenernya sedang melatih cara kita melihat paragraf, susunan kata, tanda baca, diksi, juga memahami dan bercakap-cakap dengan isi teksnya. Zambra bukan hanya cakap soal itu, tapi ia juga cukup jeli menabur gagasan olahan agar komentar-komentarnya, terutama di bagian pertama buku ini, bukan jadi celetukan saja. Pada setiap esainya adalah kebiasaan dan kematangan dalam mengolah pikiran dan menunjukkan selera.

Satu hal dari buku Not to Read yang juga membuat saya merasa iri pada Zambra adalah kebebasannya mengambil kutipan yang ia suka. Bahkan, untuk beberapa esai, bentuk tulisannya betul seperti koleksi kutipan yang dirangkai dan ditambah sedikit komentar. Tidakkah kerja menyimpan kutipan dan menuliskannya kembali, lalu diberi sedikit anotasi, adalah kerja pembaca paripurna yang menaruh perhatian pada apa yang dia baca dan suka?

Saya juga iri padanya karena ia bukan pembaca yang sok kesepian. Betul kata Zambra, membaca bukan kesendirian, juga bukan langkah menuju kesempurnaan. Kita, misalnya, tidak selalu bisa menjadi pembaca ideal bagi tiap penulis, apalagi bagi penulis yang menuntut pembacanya selalu menjadi seorang seniman, atau menghendaki pembacanya selalu terbuka terhadap eksperimen. Seringkali, kita hanyalah pembaca yang suka pada kalimat-kalimat mutiara, juga pada cerita yang enteng dan tidak mengandung isu “penting.” Kita tidak selalu peduli pada popularitas penulis atau keagungan sastra sebagai seni atau politik, juga tidak selalu menganggap serius kerja kritik sastra. Kesukaan kita membaca adalah kekuatan sekaligus keterbatasan. Namun, keterbatasan membaca bukan sepenuhnya soal ketidakpedulian kita sebagai pembaca atau kegagalan penulis menciptakan karya. Justru, keterbatasan itulah yang membuat karya sastra pada dirinya selalu dinamis karena ia akan terus terbarui dan memperbarui.

Saya juga iri pada Zambra ketika ia bercerita tentang dirinya yang tidak dapat membicarakan buku yang tidak ia baca, meskipun buku itu begitu populer dan kontroversial. Dunia kita dibanjiri berbagai macam teks dan terkadang kita merasa takut ketinggalan. Kita kadang membaca karena termakan marketing yang wow, atau ketika sebuah buku dibubuhi tanda pemenang sayembara. Bukan pilihan buruk memang. Tapi berapa kali kita merasa insecure sendiri hanya karena kita belum membaca karya populer? Maka, tidak membicarakan apa yang belum kita baca juga adalah kejujuran tentang hal-hal yang belum dan tidak bisa kita lakukan. Dan kejujuran ini juga yang mendorong kita untuk terus berbagi rekomendasi, bertukar pendapat, berkelana bersama sebagai pembaca ke dalam cerita-cerita yang kita belum tahu di mana akhirnya.

Keirian saya pada Zambra juga membuat saya melihat kembali seri blog Siapa Tahu Kamu Mau Baca yang rutin ada tiap minggu circa 2017-2018. Dalam empat tahun terakhir, entah sudah berapa kali saya berniat menghidupkan kembali seri itu, dan hasilnya adalah kegagalan, meskipun saya tetap sesekali menulis soal buku. Saya sungguh iri seiri-irinya iri. Saya ingin membicarakan buku lagi dan lagi dan lagi.

Leave a comment