Seminar ini diampu oleh pembimbing saya sendiri, Prof. Haydon Cherry, yang proyek risetnya sekarang sedang berkutat di penulisan biografi. Seminar ini mengkaji ketrampilan menulis sejarah, biografi, dan penulisan sastrawi, termasuk membahas permasalahan akal batin, tantangan membaca sumber-sumber yang bertentangan bahkan kadang menipu, hubungan antara fakta dan fiksi dalam penulisan biografi, soal kepenulisan (authorship) dan biografi intelektual, kesulitan menuli biografi “orang-orang tanpa sejarah”, tantangan biografi kolektif, teori biografi, termasuk tantangan yang muncul dari penemuan neurosains terbaru tentang status epistemologis narasi biografis dan sejarah. Cakupannya lumayan luas, karena seminar ini memang ingin melihat biografi bukan hanya sebagai genre tulisan tapi juga sebagai bentuk penulisan sejarah yang tentu bukan hanya versi panjang daftar riwayat hidup dan CV.
Di akhir seminar, kami diminta menulis eksperimental biografi orang yang sepenuhnya bebas pilihan kami. Saya mencoba menulis tentang Kwee Thiam Tjing dengan menggunakan lensa istrinya, Nie Hiang Nio, dan mencoba memutar kepala untuk mengartikulasikannya karena Nie Hiang Nio yang tidak meninggalkan jejak tulisan. Dari paper itu saya mencoba mengolah lagi dan membalik subjeknya: menulis soal Nie Hiang Nio dengan menggunakan sumber tulisan Kwee. Tulisan pendek ini saya buat di postingan “Hoedjin”.
Semoga daftar ini berguna!
Tentang Biografi
A.S. Byatt, The Biographer’s Tale (New York: Vintage, 2001).
Novel ini bercerita tentang seorang mahasiswa postgraduate, Phineas G. Nanson, yang memutuskan untuk menulis biografi seorang biografer tidak jelas bernama Scholes Destry-Scholes. Phineas berkutat dengan sumber yang rancu dan kesulitan mendapat cerita yang koheren tentang Scholes. Tetapi penelitiannya mengantarkan dia ke tulisan-tulisan Scholes tentang figur sejarah Carl Linneaus, Francis Gatton, dan Henrik Ibsen. Novel ini mencampur-campurkan fakta dan fiksi, mengupas problem kepenulisan tokoh, dan penokohan itu sendiri.
Giovanni Levi, “The Uses of Biography,”in Theoretical Discussions of Biography: Approaches from History, Microhistory, and Life Writing, eds. Hans Renders and Binne de Haan (Leiden: Brill, 2014), 61-74.
Esai ini membahas dengan ringkas dan padat tentang biografi secara umum. Giovanni Levi terkenal sebagai sejarawan mikro dan tulisan ini membahas dengan singkat tipe-tipe penulisan biografi dan apa yang dapat diungkap oleh tipe penulisannya. Levi beberapa kali merujuk ke pemikiran Bourdieu soal “biographical illusion” yang kami bahas ketika masuk ke tema tentang “orang-orang tanpa sejarah”.
Tentang Pikiran dan Pemikiran
Marcel Mauss, “A Category of the Human Mind: The Notion of Person; The Notion of Self,” trans. W.D. Halls, in The Category of the Person: Anthropology, Philosophy, History, Michael Carrithers, Steven Collins, and Steve Lukes eds. (Cambridge: Cambridge University Press, 1985), 1-25.
Nikolas Rose, Inventing Our Selves: Psychology, Power, and Personhood (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), 22-40, 162-198.
R.G. Collingwood, The Idea of History, ed. and intro. by Jan Van Der Dussen (Oxford: Oxford University Press, 1994), 282-302.
Patrick Gardiner, “Interpretation and History: Collingwood and Historical Understanding,” 109-119, in Verstehen and Humane Understanding, ed. Anthony O’Hear (Cambridge: Cambridge University Press, 1996).
Bernard Williams, The Sense of the Past: Essays in the History of Philosophy (Princeton: Princeton University Press, 2008), 341-360.
Kelima tulisan ini kamu baca untuk melihat secara luas tentang “the problems of other minds” yang menurut saya sangat krusial di penulisan sejarah intelektual (yang pada dasarnya adalah soal sejarah pikiran dan pemikiran). Tulisan-tulisan ini membantu kami memikirkan paling tidak tiga hal penting. Pertama, bagaimana memahami perkembangan “self” sebagai kategori. Kedua, bagaimana sejarawan dapat memahami dan menginterpretasikan sang “aku” dan artikulasi “keakuannya”. Ketiga, bagaimana sejarawan dapat mengejawantahkan persoalan self ini dalam menulis biografi. Tiga poin pertanyaan ini yang menjadi landasan kami untuk mendiskusikan contoh biografi: Jonathan D. Spence, Emperor of China: Self-Portrait of K’ang-hsi (New York: Vintage, 1988).
Dalam monograf ini, Jonatahan Spence sebagai seorang sejarawan China mencoba merekonstruksi ulang figur Kaisar Kang Xi dengan menggunakan arsip-arsip resmi dinasti Qing yang berisi perintah dan tulisan Kang Xi sendiri. Dengan menggunakan kata ganti orang pertama, Jonathan Spence merajut tulisan-tulisan Kang Xi ke dalam beberapa besar: “In Motion”, “Ruling”, “Thinking” untuk menciptakan efek auto-biografi dan memoir. Buku ini sangat stylistic dan tentu saja sangat menyenangkan untuk dibaca karena terjemahan Spence memang sangat amat bagus. Terlepas dari elemen estetikanya, pertanyaan yang bagi saya fundamental adalah apa yang perlu kita pahami dari cara Spence “menyembunyikan” suaranya sendiri lewat pengubahan Kang Xi sebagai “aku”. Di mana Kang Xi mulai berbicara dan Spence mengakhiri suaranya? Singularitas Kang Xi ini menjadi penting untuk dipahami ketika kita berhadapan dengan sumber dan bentuk narasi seperti apa yang ingin kita ciptakan. Proses kreatif soal bentuk ini yang kemudian menentukan kontennya. Kaisar Kang Xi sebagai figur “aku” dalam tulisan Spence adalah fakta sekaligus hasil intepretasi.
Semua Orang adalah Pembohong
Hugh Trevor-Roper, Hermit of Peking: The Hidden Life of Sir Edmund Backhouse (New York: Knopf, 1977).
Alberto Manguel, All Men are Liars (New York: Riverhead, 2012).
Jorge Louis Borges, “Pierre Menard, Author of Don Quixote,” in Ficciones, trans. Emecé Editores (New York: Grove, 1962), 45-56.
Bagaimana berhadapan dengan figur pembohong dan tidak bisa dipercaya? Ketiga tulisan ini menyentuh tema ini dengan sangat jitu. Tulisan Trevor-Roper bercerita tentang Sir Edmund Backhouse Sir Edmund Backhouse adalah seorang intelektual oriental dan Sinolog yang menulis buku terkenal tentang dekade terakhir dinasti Qing, China Under the Empress Dowager, yang terbit tahun 1910. Ternyata eh ternyata, sumber yang dipakai Backhouse untuk menulis buku itu adalah sumber palsu yang kemungkinan besar dibuat oleh Backhouse sendiri. Lalu bagaimana menulis kisah hidup seorang pembohong yang menulis autobiografi dengan kisah-kisah petualangan seksual bersama laki-laki dan Ratu Permaisuri? Novel Manguel All Men are Liars juga bercerita tentang “kebohogan” orang-orang tentang seorang penulis, dan cerpen Borges berkisah tentang Pierre Menard yang mengklaim sebagai penulis Don Quixote. Sumber dan figur yang tidak dapat dipercaya memang menjadi persoalan tersendiri dalam penulisan sejarah dan biografi. Membaca ketiga material ini membantu kami berpikir tentang pluralitas identitas seseorang, isu kepercayaan terhadap sumber, termasuk pentingnya spekulasi.
Fakta dan Fiksi
Virginia Woolf, “The New Biography” in Granite and Rainbows: Essays by Virginia Woolf (New York, 1958), 149-155.
Virginia Woolf, “The Art of Biography” in The Death of the Moth and Other Essays (New York, 1942), 187-197.
E.M. Forster, Aspects of the Novel (New York: Mariner, 1956), 43-82.
Lytton Strachey, Eminent Victorians (London: Penguin, 1986), xx-xxx.
Virginia Woolf, Orlando: A Biography (New York: Mariner, 2006).
Ray Monk, “This Fictitious Life: Virginia Woolf on Biography and Reality,” Philosophy and Literature 31,1 (2007): 1-40.
Saya mulai dengan Orlando: A Biography yang bercerita tentang seorang laki-laki bernama Orlando yang hidup di Inggris era Elizabeth I, dan secara misterius berganti jenis kelamin menjadi perempuan di usia ketigapuluh dan hidup lebih dari tiga ratus tahun tanpa menua. Novel ini memunculkan pertanyaan: mengapa diberi subjudul “A Biography”? Betul, Orlando memang terinspirasi dari Vita Sackville-West, rekan kerja dan cinta Woolf, dan bagi yang familiar dengan kisah mereka, tentu paham bagaimana Vita sangat memengaruhi hidup Virginia. Namun Virginia tidak menyangkal bahwa biografinya tentang Orlando adalah fiksi. Esainya “The New Biography” dan “The Art of Biography” memberikan jawaban elegan tentang apa yang ia pikirkan tentang batas biografi dan fiksi. Forster, secara terpisah, menulis tentang elemen-elemen novel; dan Strachey mencoba melihat pola penulisan biografi era Victorian yang didaktis.
Semua pembahasan mereka merujuk pada kesimpulan soal batas kontras antara fiksi dan biografi/sejarah. Dibanding biografi, fiksi lebih memiliki kebebasan untuk menelisik relung hati dan pikiran (interior) seseorang; ia melampaui bukti dan fakta, dan menyimpan kebenarannya sendiri. Tetapi, bagi Ray Monk, seorang biografer, jika kita sepakat dengan Virginia, maka kita memisahkan interior seseorang dari eksteriornya. Menurut Monk, “mengetahui” (knowing) pikiran hati seseorang tidak sama dengan “memahaminya” (understanding). Kita bisa saja memiliki akses terhadap pikiran yang terkatakan itu tanpa sanggup memahaminya. Dan usaha “memahami” inilah yang membuka kemungkinan-kemungkinan untuk menulis tentang orang lain.
Apa itu Penulis?
Michel Foucault, “What is an Author?” in The Foucault Reader,ed. Paul Rabinow (New York: Pantheon, 1984), 101-120.
The Life of Saint Teresa of Avila by Herself (New York: Penguin, 1988).
Carlos Eire, The Life of St. Teresa of Avila: A Biography (Princeton: Princeton University Press, 2019).
Esai Foucault itu adalah salah satu esai panduan uripku ketika berpikir tentang teks dan fitur generatifnya: (re)produksi, replika, (re)adapatasi, translasi, di mana penulis (orangnya) berkelindan dengan fungsi-penulis (sistem generatif nan kompleks yang membuat penulis, penulis). Konsep ini kontras dengan death of an author yang tidak percaya pada authorship, sedangkan author-function mengakui authorship sebagai proses yang dapat terus menerus menghasilkan pemaknaan. Dan The Life of Saint Teresa of Avila adalah salah satu contohnya. Buku Carlos Eire adalah biografi teks autobiografi Santa Teresa dari Avila yang menceritakan kehidupannya sebagai figur, proses kanonisasi di gereja Katolik, distribusi teks doa-doanya. Di cerita ini Santa Teresa dari Avila bukan lagi seorang Katolik taat yang hidup di abad 16, tetapi seorang penulis, seorang mistikus, dan seorang reformer.
Biografi dan “Orang-Orang Tanpa Sejarah”
Alain Corbin, The Life of an Unknown: The Rediscovered World of a Clog Maker in Nineteenth-Century France (New York: Columbia University Press, 2001).
Wendy Anne Warren, “The Cause of Her Grief,” Journal of American History 93, 4 (2007): 1031-1049.
Pierre Bourdieu, “The Biographical Illusion,” in Identity: A Reader (London: Sage, 2000), 297-303.
Bagaimana menulis biografi orang-orang biasa, petani, pelacur–mereka yang bukan intelektual dan tidak meninggalkan jejak arsip yang signifikan? Alain Corbin mencoba merekonstruksi dunia Louis-François Pinagot seorang pembuat sepatu kayu di Prancis abad 19 yang informasinya hanya ada di registrasi sipil tempat dia tinggal. Corbin merekonstruksi ulang dunia sosial dan material Pinagot, mencoba melihat secuil kehidupan seorang tukang pembuat sepatu berdasarkan kebiasaan sosial dan kesamaan komunitasnya. Artikel riset Wendy Warren pun berhadapan dengan figur yang rekam jejaknya sangat terbatas: seorang perempuan budak kulit hitam tak bernama di wilayah tak jauh dari Boston tahun 1638 yang diperkosa oleh budak laki-laki lain atas perintah pemiliknya. Dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan spekulatif dan kalimat-kalimat sugestif, Warren mencoba melampaui keterbatasan arsip dan merekonstruksi kehidupan sosial di sekitar peristiwa pemerkosaan itu.
Melengkapi pembacaan terhadap tulisan Corbin dan Warren, esai Bourdieu memberikan penjelasan konseptual tentang identitas sosial. Di esai ini, Bourdieu dengan jelas menolak penulisan life history atau penulisan narasi individual secara linear (“life is not story”). Bourdieu berargumen bahwa “proper name” adalah produk institusi yang menandai akses ke eksistensi sosial. Dengan mengidentifikasi nama seseorang dan peran sosialnya (Pinagot sang pembuat sepatu kayu), kita telah menandai orang itu dengan kategori biografis. Pembahasan Bourdieu ini membuat saya banyak berpikir tentang penggunaan pseudonim dan nama pena (atau penciptaan avatar).
Yang Satu dan Yang Banyak
James Agee and Walker Evans, Let Us Now Praise Famous Men (New York: Mariner, 2001).
Tom Stoppard, Travesties (New York: Grove, 1994).
Bacaan untuk tema ini adalah untuk membahas format biografi kolektif. Buku Agee dan Evans adalah karya jurnalistik yang mendokumentasikan kehidupan para petani miskin kulit putih di Amerika Serikat bagian Selatan era Depresi Besar. Tekstur buku ini memunculkan pertanyaan penting tentang apa itu “the chronicle of being” yang ditulis dalam pemahaman paradoks soal moralitas dan tragedi (“it was the way it was”)? Lebih konkritnya, bagaimana menulis kemiskinan dan orang-orang yang terjebak di dalamnya? Pertanyaan etika penulisan biografi dan sejarah ini menurut saya penting sebagai refleksi metode: ketika menulis sejarah dan biografi, moralitas siapa yang sedang kita puaskan? Beranjak ke topik yang lebih jenaka, kami membaca drama Travesties yang ditulis Stoppard. Ceritanya berkisar tentang Henry Carr dan interaksinya dengan James Joyce yang sedang menulisa Ulysses, Tristan Tzara di masa kenaikan Dada, dan Lenin ketika Revolusi Rusia, yang semuanya sedang berada di Zurich di waktu yang bersamaan. Dari dua contoh tulisan ini, biografi kolektif kami pahami sebagai usaha merekonstruksi variasi yang muncul di bawah satu kategori. Kesulitannya adalah bagaimana kita dapat mempertahankan nuansa sekaligus menahan diri untuk tidak membuat pengkhususan–bagaimana kemudian tulisan kita dapat dengan cermat menggambarkan orang-orang baik itu sebagai individu dan kelompok.
Biografi, Teori, dan Apa Maksud Semua Ini
Ray Monk, “Life Without Theory: Biography as an Exemplar of Philosophical Understanding,” Poetics Today 28, 3 (2007): 527-70.
Ray Monk, Wittgenstein: The Duty of Genius (London: Penguin, 1991).
Biografi Wittgenstein oleh Ray Monk ini tidak hanya memaparkan kisah hidup si filsuf, tetapi juga menjabarkan pemikiran Wittgenstein tentang bahasa dengan lebih mudah. Kedua buku ini membuat saya berpikir banyak tentang “language-game” dalam penulisan sejarah akademik, family resemblance, otonomi macam-macam pemahaman, dan re-deskripsi (melalui gestalt shift) bukan sebagai alat untuk membuat teori tetapi untuk merapikan kamar. Dengan demikian, biografi menurut Ray Monk menjadi satu bentuk penulisan yang tujuannya adalah memahami dan menunjukkan, untuk membuka kemungkinan-kemungkinan akan jawaban-jawaban benar lainnya. (There is no single correct answer, but it does not mean there are no incorrect answers.)
Anti-Narasi
Alexander Rosenberg, How History Gets Things Wrong: The Neuroscience of Our Addiction to Stories (Cambridge, Mass.: MIT Press, 2019)
Buku ini adalah berargumen bahwa sejarah naratif selalu salah, bahwa menurut penelitian neurosains, kesukaan kita terhadap cerita dan narasi adalah bagian dari evolusi manusia untuk bertahan hidup. Menurut Rosenberg, narasi sejarah yang memiliki plot, terkoneksi oleh motivasi, hasrat dan keyakinan orang, intensi dan rencana mereka, menggodamu untuk berpikir bahwa kamu tahu bagaimana dan mengapa sesuatu terjadi. (Rosenberg secara spesifik mengkritik genre penulisan sejarah naratif yang menurutnya berbeda dari penulisan sejarah akademik). Kita bisa sepakat dan tidak sepakat dengan argumen ini, tetapi sebagai catatan yang menurut saya perlu, sejarah naratif perlu dilihat sebagai penulisan yang performatif dan bukan deskriptif. Penulis sejarah naratif, terutama mereka yang memang dilatih sebagai sejarawan, tahu apa yang mereka lakukan dengan spekulasi, cara membingkai cerita, bukan untuk sepenuhnya mendeskripsikan sesuatu, tetapi untuk membuat pembaca bertanya.
