Bibliografi Beranotasi: Sejarah Intelektual Asia Tenggara

Bahan bacaan ini adalah untuk kelas independen di mana daftar judulnya disusun oleh pembimbing saya, Prof. Haydon Cherry. Kami sama-sama sedang tertarik dengan sejarah intelektual dan kurasi judul edited volume, monograf, dan artikel ini berpotongan dengan sejarah literasi dan buku Asia Tenggara. Sepanjang triwulan musim gugur ini aku menulis esai respon tiap minggu yang membahas tiap bacaan, termasuk mencari tahu kerangka teori dan metode hermeneutik yang digunakan para penulis. Terlepas dari beban baca yang lumayan intens, course ini sangat menyenangkan karena membuatku ngeh sama teks-teks abad sembilanbelas dan sebelumnya (periode yang bukan fokus penelitian saya) juga bikin aku makin paham dengan gaya penulisan eksperimental (Henk Maier adalah panutan).

Di akhir pembahasan, aku menulis kesimpulan pendek soal “philological reading” terhadap teks yang dirujuk oleh Edward Said dan Sheldon Pollock. Dalam hal ini, aku lebih sepakat dengan Sheldon Pollock, yang memang seorang filolog bahasa Sansekerta, bahwa “philological reading” bukan cuman soal membaca teks dengan lebih baik dan lebih dekat, seperti yang dirujuk oleh Said. Perlu ada pemahaman tentang elemen tekstualitas dan serangkaian kerja teknis (juga institutsi) yang termasuk dalam proses interpretasi. Pertanyaannya, bagaimana atau bisakah mengadopsi cara filolog membaca teks mereka (yang secara usia hidup lebih tua) ke teks yang digunakan oleh para sejarawan modern dan kontemporer? Jawaban pertanyaan ini tentu belum bisa koheren secara metodologis, tetapi paling tidak patutlah kerja para filolog dan kedekatan mereka dengan teks–“the art of befriending the text” kalo kata Ika Willis–menjadi aspirasi.

Ya semoga berguna buat referensi yak!

1. Anthony Reid and David G. Marr, Perceptions of the Past in Southeast Asia (Singapore: Asian Studies Association of Australia, 1979).

Volume ini berisi kumpulan esai tentang bagaimana masa lalu dipahami di Asia Tenggara. Esai pendahuluannya Wang Gungwu di volume ini jadi poin penting karena beliau menekankan bukan cuma persepsi masyarakat/otoritas AsTeng soal masa lalu tapi juga fungsi dari masa lalu. Dari poin ini, maka teks “sejarah” (hikayat, manuskrip istana, otobiografi/memoar, sejarah oral) tidak hanya dilihat bentuk dan kontennya tapi juga pembuatan dan sirkulasinya. Buku ini pengantar yang sangat pas buat memulai diskusi soal apa yang bisa kita lihat sebagai “sejarah intelektual” di AsTeng, karena toh genre ini tidak terlepas dari sejarah agama dan literasi, maupun sejarah politik dan ekonomi. Melihat produk intelektual hanya sebagai produk kesarjanaan malah menyempitkan ruang eksplorasi tentang apa yang dipikirkan dan dibicarakan masyarakat/otoritas Asia Tenggara.

2. Craig J. Reynolds, Thai Radical Discourse: The Real Face of Thai Feudalism Today (Ithaca, New York: Cornell University Southeast Asia Program, 1987).

Buku ini melihat secara mendetail karya Jit Poumisak, seorang akademisi/aktivis Marxist Thailand yang aktif menulis dan berpolitik di dekade 1950an. Craig Reynolds secara khusus mengkaji karya Jit The Real Face of Thai Feudalism dan melihat bagaimana Jit melakukan perubahan penggunaan kata sakdina/saktina untuk menjelaskan konsep Eropa tentang feudalisme. Reynolds melihat bagaimana pergeseran makna dalam kata sakdina/saktina di tulisan Jit ini memengaruhi kesadaran sejarah mahasiswa Thailand khususnya di momen 1973-76. Yang menurutku menarik dari pendekatan Reynolds adalah caranya dia menggunakan konsep “author function”-nya Foucault untuk menjelaskan Jit dan kebangkitan karya-karyanya di dekade 1970an itu. Reynolds juga menyandingkan cara Jit menulis sejarah sosial masyarakat Thai dengan sejarah versi istana untuk melihat tegangan oposisi antar dua jenis teks.

3. Manat Chitakasem and Andrew Turton (eds.), Thai Constructions of Knowledge. (London: School of Oriental and African Studies, 1991).

Dibaca bersama buku Craig Reynolds, volume ini berisi kumpulan esai tentang konstruksi pengetahuan. Ia sendiri menulis esai tentang puisi Nai Thim yang berjudul Nirat No’ngkhai (1878) berargumen tentang “crosshatch of discourses” yang mampu menantang “state poetics“, diskursus elitis tentang puisi dan seni yang menciptakan produk-produk budaya. Dan konsep “crosshatch” itu kemudian digunakan oleh Chitakasem dan Turton untuk merangkum jejaring teks yang membentuk pengetahuan dan diskursus–baik itu dari posisi istana dan para elit, maupun kelas menengah dan bawah.

4. Anthony C. Milner, The Invention of Politics in Colonial Malaya (Cambridge: Cambridge University Press, 1995).

Salah satu buku favorit! Di buku in Milner melihat perubahan dan konflik ideologis di masyarakat Melayu era imperialisme Inggris. Argumennya adalah perubahan istilah dalam debat-debat ideologis di masyarakat Melayu membantu pembentukan diskursus politik baru. Perubahan ini tentu adalah produk imperialisme, tapi Milner menekankan para intelektual Melayu sebagai arsitek politik baru (autonomous history much). Dengan berfokus di interaksi antara konsep kerajaan, umat, dan bangsa, Milner menekankan mekanisme perubahan melalui akuisisi kosa kata baru, agenda baru, dan struktur argumentasi baru. “Never fixed always changing” gitulah. Oh dan Milner juga menggunakan konsep “public sphere” untuk menerangkan perubahan diskursus/masyarakat. Cara Milner membaca teks-teksnya mungkin akan mengingatkan kita pada cara Cambridge school membaca teks, plus tulisan Milner sangat elegan dan struktur bukunya pun patut jadi model.

5. Virginia Matheson Hooker, Writing a New Society: Social Change through the Novel in Malay (Leiden: KITLV, 2000).

Virginia Hooker menganalisis tema serupa, soal perubahan diskursus/masyarakat, melalui novel-novel awal abad ke duapuluh. Di buku ini Hooker mencoba melihat private sphere masyarakat Melayu yang terkoneksi dengan diskursus soal bangsa dan tanah air, yang berbeda dari narasi kerajaan.

6. Jan van der Putten, “On Sex, Drugs, and Good Manners: Raja Ali Haji as Lexicographer,” Journal of Southeast Asian Studies, Vol. 33, no. 3 (October 2002): 415-430.

Artikel yang sangat asik! Di artikel ini van der Putten melihat kamus monolingual yang disusun Raja Ali Haji. Van der Putten mengidentifikasi “lexicographic strategies” yang digunakan para leksikograf untuk melihat kelakuan dan respon masyarakat terhadap permasalahan dominan. Di kasus Raja Ali Haji, permasalah dominan ini adalah soal seks dan fungsi tubuh. Dengan melihat bagaimana Raja Ali Haji mendeskripsikan sebuah kata dan memberikan contoh pemakaian dalam kalimat, van der Putten beragumen tentang perasaan Raja tentang bahasa, budaya, dan tradisi Melayu yang terancam karena pengaruh luar, juga dekadensi generasi muda.

7. Jan van der Putten, His word is the truth: Haji Ibrahim’s letters and other writings (Leiden: KITLV, 2001).

Di buku ini, van der Putten mengkaji surat-surat Haji Ibrahim di pertengahan abad sembilanbelas kepada patron Belandanya, Von de Wall. Van der Putten memberikan wawasan tentang bagaimana penulisan surat dapat menunjukkan relasi antara individual Melayu dengan Belanda, termasuk proses “informalisasi” dalam penggunaan kata ganti dan gaya prosa. Yang sangat aku suka dari buku ini adalah cara van der Putten menjelaskan surat-surat itu di dalam konteks sejarah literasi, print, dan kota. Rekonstruksi zaman di mana Haji Ibrahim menulis surat itu memberikan kekayaan pemahaman tentang bentuk maupun konten surat-suratnya.

8. Hendrik Maier, In the Center of Authority: The Malay Hikayat Merong Mahawangsa (Ithaca: Cornell Southeast Asia Program, 1988).

Buku aspirasi! Pertama, Henk Maier nulisnya bagus banget *mau nangis*. Kedua, cara Maier membaca Hikayat Merong Mahawangsa yang menurutku (sangat) Bakhtian ini berhasil menunjukkan, meminjam Said, “ensemble of relationships” antara teks. Kalimat pertama buku ini menunjukkan posisi teoretis Maier terhadap teks: “a text is a tissue of quotations drawn from the innumerable centers of culture“. Dan ia menambahkan deskripsi visual “a nebula with vague contours“. Aku membutuhkan 1,400 kata untuk membahas buku ini, dan rasanya sulit dirangkum dalam satu anotasi pendek. Tapi intinya, Maier menekankan soal narasi ambiguitas juga elemen heteregon dalam Hikayat Merong, “a suitable beginning for a narrative, an appropriate end to a reading”. Dengan pembacaan atentif juga dengan melihat sirkulasi dan elemen material dari Hikayat Merong, Maier menunjukkan bahwa pusat otoritas teks tidak pernah tunggal, dan pluralitas ini membentuk jejaring antar-teks. Hikayat tidak bisa dibaca secara literal dan sebagai referensi saja, tapi juga secara figuratif and retoris. Aku melihat Maier dalam menulis buku ini mencoba meniru gaya penulisan hikayat yang berfragmen. Kalimat Maier banyak yang sepotong-potong dan tidak utuh, lebih seperti membaca prosa ketimbang tulisan akademik, dan menurutku di situlah salah satu kekuatan Maier.

9. Hendrik Maier, “From Heteroglossia to Polyglossia: The Creation of Malay and Dutch in the Indies.” Indonesia 56 (Oct., 1993): 37-65.

Dari pembacaan buku In the Center of Authority, tulisan-tulisan Maier yang lain menjadi sangat masuk akal. Di artikel ini Maier memulai dengan analisisnya terhadap Laporan Sensus Belanda tahun 1930. Ia melihat bagaimana kata-kata dan aksi otoritatif kolonial mengintensifikasi segregasi ras berdasarkan bahasa. “Utopia” Bakhtin yang Maier lihat di penggunaan bahasa Melayu–heteroglossia–terlalu semrawut untuk otoritas kolonial. Dengan segregasi dan usaha membuat standar penggunaan bahasa, Maier melihat transformasi dari heteroglossia menjadi polyglossia.

10. Hendrik Maier, “Explosions in Semarang: Reading Malay Tales in 1895.” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 162, no. 1 (2006): 1-34.

Kerangka Maier tentang narasi ambiguitas juga muncul di artikel ini, di mana ia menunjukkan bagaimana referensi terhadap masa lalu, sekarang, dan masa depan di penulisan fiksi tentang kereta api memberikan karakter terhadap cerita Melayu sebagai “all ready to explode“. Lagi-lagi, ada penekanan terhadap untaian kata dan kalimat dalam proses membaca dan menutur kisah. Maier menggunakan istlah “debris of verbal fragments“– serpihan akibat “ledakan” dalam bentuk kisah-kisah lain yang memungkinkan pembacaan lain, repetisi, ledakan baru, kisah-kisah lain lagi, pembacaan berbeda lagi, begitu seterusnya. Metafora serpihan ini mengafirmasi kesimpulan Maier dalam membaca hikayat sebagai produk intelektual yang berubah dan terfragmentasi.

11. D.M. Roskies (ed.), Text/Politics in Island Southeast Asia: Essays in Interpretation. (Athens, Ohio: Ohio University Center for International Studies, 1993).

Edited volume ini, menurutku, adalah perpotongan kajian sejarah dan literary critcism. Para kontributornya mencoba melihat struktur kesadaran sebagai respon terhadap teks dan externalitasnya. Representing dan interpreting menjadi proses yang nampaknya tak terpisahkan, termasuk dalam melihat lingkup otoritas di sekitar dan di dalam teks. Di buku ini Maier kembali menjelaskan fitur fragment dalam sistem teks Melayu, namun lebih berfokus pada element komersial dan penciptaan pasar buku dan koran.

12. Benedict Anderson, Under Three Flags: Anarchism and the Anti-Colonial Imagination (London and New York: Verso, 2005).

Cara para akademek membaca buku ini bisa beragam, dan setelah membaca beberapa ulasannya, tidak ada yang memuaskan saya secara pribadi. Salah satu alasannya adalah karena tidak semua mau membahas cara dan gaya Anderson menarasikan dunia aktivisme and intelektual Jose Rizal. Cara Ben melihat dunia secara sinkronik (dalam “empty, homogenous time“) adalah struktur buku ini. Isi dan argumen Ben terletak di cara menulisnya, yang ia sebut seperti “roman-feuilleton” dan “montage … like a black-and-white film or a novel manqué of which the conclusion is over the tired novelist’s horizon“. Dengan pengetahuannya yang luas terhadap literatur, ia merajut kutipan sumbernya bersama dengan foto, menyusunnya dalam bab panjang tapi memotong-motongya dalam sub-bab pendek. Tokoh-tokohnya seperti melompati ruang, menunjukkan nuansa keberlanjutan, tempo penulisannya berubah-ubah–cepat ketika ia membuat koneksi dan melambat ketika ia menceritakan biografi Rizal. Anderson kadang menjajarkan dua hal berbeda (contoh Bismarck dan Nobel) untuk menekankan pesan bahwa sesuatu sedang terjadi. Jika tidak terbiasa, cara penulisan ini bisa menciptakan efek mabuk atau vertigo. “Astronomi politik” yang berusaha ia gambarkan berhasil, menurutku, bukan cuma untuk membahas diskursus nationalisme/globalisasi tapi juga struktur astral pemikiran dan praktik politik. In my words, it is an “almost meteoric, movement of ideas crossing places through the mobility of intellectuals and technological development”.

13. Benedict Anderson, Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia (Ithaca, New York: Cornell University Press, 1990).

Buku arus utama buat akademek Indonesia ini mungkin tidak butuh terlalu banyak butuh penjelasan. Lewat kumpulan esai ini, Anderson menjelaskan soal silang sambung penjelasan bahasa, budaya, politik, dan kekuasaan. Selain kontribusi teoretis terhadap budaya politik, penguasaan Anderson terhadap bahasa, juga catatan kaki yang tidak kalah pentingnya dari tubuh tulisan, menjadi salah satu kekuatan buku ini. Dengan bermain-main di gaya penulisan dan penerjemahan (re: terjemahannya untuk beberapa frase Serat Centhini adalah sebuah gem), Anderson menawarkan sebuah metode untuk melihat horison luas literatur, relasinya dengan politik, dan konjungsi sejarah dalam waktu kosong nan homogen.

14. Nidhi Eoseewong, Pen and Sail: Literature and History in Early Bangkok, ed. Chris Baker et al. (Chiang Mai: Silkworm Books, 2005).

Ini pertama kalinya aku mendengar nama Nidhi, yang ternyata disertasi S3-nya soal sejarah Indonesia tanpa studi lapangan karena donornya dulu (tahun 1970an) belum punya skema pendanaan buat orang Asia yang riset di negara Asia lain selain negaranya sendiri. Nidhi sendiri adalah seorang akademisi raksasa di Thailand, dan esainya yang sangat terkenal “Bourgeois Culture and Early Bangkok Literature” menjadi esai utama di buku ini. Nidhi mencoba menggabungkan fitur ekonomi masyarakat Bangkok di periode pra-modern dengan perkembangan literatur. Pembahasan Nidhi terhadap literatur Ayutthaya yang disandingkan dengan perubahan dalam sistem buruh phrai dan sakdina menjadi kunci untuk memahami argumennya. Beberapa sejarawan melihat kontribusi Nidhi juga dalam menjelaskan peran para migran China dalam perubahan eko-sosial di Bangkok. Terjemahan esai-esai Nidhi adalah usaha Chris Baker dan beberapa Southeast Asianist lainnya yang ingin memperkenalkan Nidhi ke dunia akademik Barat (berbahasa Inggris).

15. Ronit Ricci, Islam Translated: Literature, Conversion, and the Arabic Cosmopolis of South and Southeast Asia (Chicago: University of Chicago Press, 2016).

Buku bagus banget soal sirkulsi teks, ide, dan literasi Islam di Asia Selatan dan Asia Tenggara, juga tentang proses historis transmisi sastrawi, penerjemahan, dan konversi agama. Dengan melihat penerjemahan teks Arab Book of One Thousand Questions di bahasa Jawa, Melayu, dan Tamil, Ricci melihat pertukaran material dan budaya dalam proses Islamisasi. Ricci merujuk istilah “translation” sebagai sesuatu yang sebetulnya sulit dicari padanannya dalam ketiga bahasa lokal itu. Maka apa yang disebut “praktik penerjemahan” membawa konotasi historis dan budaya. Dengan menggunakan konsep seperti “vernacular cosmopolitanism” (Sheldon Pollock), Ricci menunjukkan bagaimana penerjemahan adalah sebuah proses historis penciptaan. Teks terjemahan menjadi sebuah situs interaksi dan kreasi.

16. Ronit Ricci, “Citing as a Site: Translation and Circulation in Muslim South and Southeast Asia,” Modern Asian Studies 46, no. 2 (March 2012): 331-53.

Dengan kerangka yang serupa, artikel ini mengkaji bagaiman sitasi, sependek dan sesederhana apapun kelihatannya, adalah sebuah situs memori bersama, sejarah, dan tradisi naratif. Dalam literatur Arab, sitasi juga situs pertalian bersama dengan Arab kosmopolis. Di artikel ini, Ricci menambahkan teori filologi “prior text” (Alton Becker) dan konsep literasi “parateks” (Gérard Genette) yang membantu menjelaskan fungsi dan fitur sitasi dalam teks.

17. Ronit Ricci and Jan van der Putten (eds.), Translation in Asia: Theories, Practices, Histories (London: Routledge, 2016).

Dalam edited volume ini, pembahasan mengenai penerjemahan/pengalihan bahasa dibahas oleh para kontributor. Lingkup diskusi di volume ini melebar di mana tema-tema interaksi tradisi, konteks kolonial. pertunjukan, dan teori tindak menulis hadir dan saling memperkaya. Volume ini mendorong pembaca untuk melihat lebih jauh tentang kekayaan multilingual dan praktik code-switching, strategi berhadapan dengan “untranslatability“, pilihan pragmatis mengubah bahasa untuk tujuan politik, juga peran metode menulis dan teknologi cetak.

18. Peter Zinoman, Vietnamese Colonial Republican: The Political Vision of Vu Trong Phung (Berkeley: University of California Press, 2013).

Peter Zinoman mengkaji biografi intelektual Vu Trong Phung, penulis modern Vietnam, di era kolonial dan pasca-kolonial. Zinoman berargumen mengenai visi politik Phung yang ia rujuk sebagai “late colonial republicanism“–sebuah istilah alternatif untuk mengkarakterkan pemikiran Phung di luar biner komunis/anti-komunis. Zinoman menekankan sifat ekletis dalam tulisan-tulisan Phung yang merupakan kombinasi ide-ide anti-kolonialisme, anti-kapitalisme, dan anti-komunisme. Zinoman juga meletakkan tubuh tulisan Phung dalam konteks kebijakan kolonial Prancis setalah Republik Ketiga dan kemudian gerakan politik kemerdekaan.

19. Peter Zinoman, “Provincial Cosmopolitanism: Vũ Trọng Phụng’s Foreign Literary Engagements.” In Caroline S. Hau and Kasian Tejapira eds., Traveling Nation-Makers: Transnational Flows and Movements in the Making of Modern Southeast Asia (Singapore: NUS Press, 2011).

Cerita Zinoman tentang Phung sebelum monograf di atas muncul di volume ini. Di esai ini Zinoman tidak mengkategorikan visi politik Phung, tetapi melihat karakter interkoneksi dalam tulisannya. Dengan menggunakan istilah “provincial cosmpolitanism“, Zinoman mencoba merefleksikan mode interaksi dengan modernitas global yang sesungguhnya acak dan tidak merata. Phung tidak pernah pergi ke luar Vietnam dan memiliki gairah dan ketertarikan terhadap budaya dan politik dunia melalui novel dan koran Prancis. Dari konteks ini, tulisan-tulisan Phung terbentuk seperti sekantong referensi campuran–sitasi langsung, ekletis pun dangkal dan tidak sistematik, juga anakronistis. Kategori pergerakan politik dan sastra Prancis tidak bisa diterapkan dalam dunia sastra Phung.

20. Hendrik Maier, We Are Playing Relatives: A Survey of Malay Writing (Leiden: KITLV, 2005).

“Who are the ‘real Malays’? Who are the ‘best Malays’?” Pertanyaan Maier di awal buku ketika sedang menjelaskan Hikayat Hang Tuah merepresentasikan satu buku ini. Cara Maier melihat bahasa Melayu sebagai bahasa yang terbuka terhadap yang lain melalui “bermain beradik-adik” mengantar pembaca pada ketegangan antara Melayu sungguh dan Melayu kacukan, yang murni dan yang hibrid. Dengan menganalisis serangkaian tulisan seperti Hikayat Hang Tuah, Hikayat Sempirna Jaya, Student Hidjo, Kawan Benar, Salina, Belenggoe, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, dan Kwartet Buru, Maier menganalisis fitur heterogen bahasa Melayu dan usaha otoritas kolonial maupun pasca-kolonial untuk menentukan standar. Sama dengan karakter tulisan Melayu yang bermain-main, Maier pun melakukan hal yang sama dalam tulisannya. Permainan Maier dalam buku ini terlihat dari struktur bukunya yang tidak seperti survei dan karya akademik konvensional. Babnya disusun sedemikian rupa kita bisa membacanya secara terpisah dengan nafas argumen yang sama, banyak repetisi argumen, analisisnya seperti bercerita (minim catatan kaki dan sitasi untuk menghindari pematahan), juga frase-frasenya yang sangat elegan dan liris. Pembimbing saya berkomentar, “What is more Malay than a Dutch man writing Malay in English?” Ya, tulisan Maier di buku ini adalah sebuah orchestrated farrago.

21. Mikihiro Moriyama, Sundanese Print Culture and Modernity in Nineteenth-century West Java (Singapore: NUS Press, 2005).

Buku ini justru lebih bisa dibilang sebagai survey ketimbang monograf Maier. Moriyama, yang juga berguru pada Maier, melihat teks-teks Sunda dalam konteks print culture. Dengan melihat perubahan karakteristik wawacan, Moriyama justru melihat keterbatasan fleksibilitas teks Sunda tersebut. Usaha kolonial Belanda mengontrol wawacan dan kemunculan bentuk dan gaya roman yang lebih populer membuat teks-teks tersebut mengambil bentuk yang berbeda.

Leave a comment