Pemberontakan di Pelabuhan – Alexandru Sahia (Penerjemah: Koesalah Soebagyo Toer, Pataba Press 2017)
Alexandru Sahia adalah seorang jurnalis dan penulis komunis dari Rusia yang tidak pernah saya dengar sama sekali sampai minggu lalu saya mendapatkan kumpulan cerita ini selepas acara Memento dari Pram dan Koesalah di Gereja Komunitas Anugerah. Membaca buku ini tentu tidak dapat menyangsikan profil politik Sahia, dan tulisan tambahan dari penerbit dan penerjemah sungguh memberikan kisah latar apik tentang Sahia sekaligus kepercayaannya akan hari kemenangan proletar. Buku ini terdiri dari empat cerita saja: “Hujan Juni” menceritakan kondisi petani yang terlilit hutan dan terancam dirampas tanahnya, dan tiga cerita lainnya, “Pemberontakan di Pelabuhan”, “Pabrik yang Bernyawa”, dan “Matinya Seorang Rekrut” adalah tentang kondisi kerja para buruh dan perlawanan mereka. Cerita-cerita ini menjadi sangat kuat dalam pesan politik, namun juga memiliki gaya dan teknik menulis yang mengesankan. Misalnya, di “Hujan Juni”, penggabungan nuansa alam yang kering dengan kondisi kepayahan kerja membuat cerita tentang kesulitan-kesulitan–baik itu panen, kerja, maupun proses kelahiran–menjadi sangat kuat. Dalam “Pabrik yang Bernyawa”, detail-detail suasana seperti “Ia berjalan seperti dewa di atas awan uap beracun yang tebal” membangkitkan indra tentang kehidupan pabrik yang keras. Hari depan memang harus direbut, kamerad!

Yami ni Hau Mono, The Haunter of the Dark – Tanabe Gou, H. P. Lovecraft
Jika pembaca sejawat penyuka cerita-cerita horor H. P. Lovecraft, harus banget cek adaptasi manganya. Wah edan, waktu Bram memberi tahu soal manga Tanabe Gou ini, saya langsung kegirangan dan memang sungguh ntapsoul. Tanabe Gou menceritakan ulang beberapa cerita dalam Mitos Cthulhu dengan cara yang sungguh yawla apik. Dagon, si dewa ikan dan monster tiga mata itu digambarkan bersamaan dengan narasi akan ketakutan manusia. Imajinasi H. P. Lovecraft, menurut saya, berhasil diterjemahkan secara visual oleh Tanabe Gou dengan tepat: gelap, dingin, di mana ketakutan manusia dan refleksi-refleksi di dalamnya adalah pusat narasi.
A Universal History of Infamy – Jorge Luis Borges
Saya pikir sudah banyak yang tidak asing dengan karya Borges ini. Yaw maklumkan saya pembaca loncat-loncat, jadi sebenarnya baru saja menyelesaikan kumpulan cerita ini. Tentu sedikit berbeda dengan tema-tema cerita Borges yang lebih terkenal lainnya, tapi saya terkesan dengan ide Borges yang menceritakan ulang kembali tokoh-tokoh yang ia temukan dalam buku sejarah. Kumcer ini terdiri dari tujuh cerita pendek dan delapan cerita lebih mini di bawah sub Etcetera. Dari perompak, geng mafia di Mexico, atau pertempuran Ronin di Jepang. Borges memang pencerita yang baik, tapi pun lebih dari itu ia pembaca yang baik. Imajinasinya sebagai pembaca mampu mengisi ruang-ruang kosong dalam peristiwa dan keahliannya sebagai penulis membuat peristiwa menjadi asik untuk dibaca ulang dan disebarkan. Sejarah tidak lagi menjadi fakta kering, tapi juga dihidupkan lewat cerita. Saya paling suka cerita “The Insulting Master of Etiquette Kôtsuké no Suké” (sungguh tidak ada yang lebih menegangkan daripada pertarungan harga diri), “The Masked Dyer, Hakim of Merv” (rasa-rasa magisnya yawla), dan “A Theologian in Death” (memang yang paham gusti bisa dengan mudah jadi kawan sang iblis).