Siapa Tahu Kamu Mau Baca, Ep. 25 – Ibuku di Surga

Ibuku di Surga – Koesalah Soebagyo Toer (Pataba Press 2017)

Di awal buku Bumi Manusia, Pramoedya menulis, “Cerita … selamanya tentang manusia, kehidupannya bukan kematiannya.” Ibuku di Surga adalah tiga cerita tentang kehidupan manusia, dengan latar masyarakat pada akhir kolonial Belanda dan awal kedatangan Jepang. “Keluarga Pak Wirya”, “Ibuku di Surga”, dan “Ketika Jepang Datang” adalah tiga cerita yang semuanya berpusar pada cerita keluarga. Ketiga cerita tidak terpisah dan saling bersinggungan. Pengantar pendek dari Penerbit memberi cuplikan yang baik tentang keseluruhan tema cerita, juga tentang bagaimana penglihatan anak berumur 7-8 tahun mampu menangkap tajam dan jernih apa-apa yang terjadi di sekelilingnya. “Anak adalah filsuf yang pertama”, kata pengantar penerbit, dan Liliek, si “aku”, adalah sang filsuf itu, yang melihat banyak hal dengan kepolosan dan tak jarang juga dengan tanda tanya.

20180318_181734.jpg

Buku Ibuku di Surga dimulai dengan cerita “Keluarga Pak Wirya”. Suara Liliek, sang narator, dimulai lewat pertemanannya dengan Rani yang berlangsung biasa saja seperti anak-anak pada umumnya: ajakan bermain petak umpet dan dolan ke rumah. Penangkapan Liliek yang jujur terhadap apa yang ia lihat dan persepsikan—misalnya komentar polos seperti “Selama ini saya pandang Rani hanya sebagai anak miskin”, atau “Rumah itu paling jelek di kampung saya—pendek, kecil, dari gedek,”— memberikan petunjuk tentang kondisi ekonomi Rani dan keluarganya. Lebih lagi dalam perjalanan cerita, kita bisa tahu kesusahan keluarga Rani, juga permasalahan utang yang mencekik Bapak dan Mbok Wirya, orang tua Rani. Kisah ini berakhir dengan pasangan Wirya menjatuhkan diri ke dalam sebuah sumur, dalam jangka waktu yang berbeda; sebuah keputusasaan dan ketidakberdayaan yang berujung pada keengganan melanjutkan hidup.

Cerita kedua “Ibuku di Surga” menceritakan tentang cerita sehari-hari Liliek bersama dengan ibunya. Dari potongan-potongan peristiwa yang sederhana, Liliek menampilkan sesosok perempuan yang lemah lembut dan penuh sayang pada anak-anaknya, namun tanpa romantisasi berlebihan. Hubungan Liliek dan ibunya, beserta dengan relasi orang-orang di sekitarnya hadir apa adanya; ada rasa hangat, ada juga kekesalan khas anak kecil. Misalnya ketika ibu tidak membolehkannya makan sisa parutan kelapa (kriwilan) banyak-banyak, dan ia berpikir apakah besok bisa meminta pada Pak Wirya. Cerita ini juga menjadi petunjuk hubungan keluarga Pak Wirya dengan keluarga Liliek; bahwa ternyata kondisi keluarga Liliek secara ekonomi lebih baik dari Pak Wirya. Namun ibu Liliek memberi contoh ajar tentang kemulian kerja dengan mempekerjakan Pak Wirya untuk mengunduh kelapa atau beberapa perempuan lainnya untuk memasak. Cerita ini membuat saya makin memahami posisi Liliek terhadap Keluarga Pak Wirya di cerita yang pertama.

Terakhir, “Ketika Jepang Datang” adalah bagian yang menurut saya paling ruwet di antara ketiganya. Tidak hanya soal kedatangan Jepang yang menyebabkan keributan di desa tempat Liliek tinggal, tapi juga ada konflik antar warga dalam potongan peristiwa pengeroyokan seorang Mantri oleh massa dengan kata kunci “dosanya lebih besar dari Belanda”, atau juga terjadi penjarahan terhadap toko-toko Tionghoa. Semua itu terjadi di saat ibu Liliek sedang terbaring sakit. Namun di tengah semua kondisi itu, kepolosan Liliek tetap hadir. Ketidamengertiannya soal “surga”—tempat ibunya berada—membuat Liliek tak banyak bersedih meraung-raung seperti kerabat-kerabat keluarganya; ia bahkan menangis karena bingung orang-orang di sekitarnya menangis! Hingga akhir cerita, tidak ada penyelesaian atau resolusi khusus tentang bagaimana Liliek merespon itu semua. Bahkan dari pengamantan Liliek, sebuah pertanyaan besar muncul; apa yang sebenarnya terjadi pada Tante Yati, salah satu kerabatnya, yang ketakutan setengah mati ketika tantara Jepang sedang patroli di rumah Liliek?

Dari ketiga cerita ini saya seperti mendengar cerita Mbah Kakung dan Mbah Putri saya sendiri; tentang kedatangan Jepang, tentang kondisi-kondisi kala itu, juga tentang nasehat tak boleh makan parutan kelapa terlalu banyak. Mata Liliek yang polos membantu saya turut mengenang peristiwa lampau, yang tentu meskipun tidak saya alami langsung, memberikan pemahaman soal kenyataan. Bahkan menurut saya, posisi Liliek adalah posisi tepat untuk melihat banyak hal. Semisal, apa-apa yang Liliek dengar dan lihat tentang “Keluarga Pak Wirya” tidak membuatnya kemudian menjadi pahlawan dengan beban moral untuk “menyelamatkan” atau “membantu” Rani. Liliek tidak berusaha menjadi pahlawan; ia lebih banyak mempertanyakan sesuatu yang tidak ia mengerti, seperti ketika ia melihat Pak Wirya tidak duduk di kursi sama seperti Pak Suman padahal masih bersaudara, dan berempati pada Rani ketika ibunya meninggal. Reaksi dan respon Liliek hadir apa adanya, dalam kebingungan, dalam ketakutan, juga sering kali dalam ketidaktahuan murni. Lewat percakapan-percakapan yang didengar oleh Liliek, interaksi para tetangganya, juga apa yang dilihatnya langsung, Liliek menjadi pencerita yang lempeng, tanpa dramatisasi, namun justru dari situ kita dapat melihat letak kejernihannya.

Cerita tentang masyarakat dalama suasana perang, konflik, kemiskinan, juga permasalahan keluarga selalu menjadi tema yang membuat kita, orang dewasa, terganggu ketika naratornya adalah seorang anak kecil. Kepolosan, kepahitan, kesedihan, bahkan tak jarang kebahagiaan diceritakan begitu saja tanpa interpretasi, tanpa pemikiran dalam, tanpa frase-frase didaktik yang menggurui. Keruwetan hidup manusia tidak untuk direnungi, tidak juga untuk dirayakan ataupun diratapi habis-habisan. Mata seorang anak membantu kita untuk lebih banyak melihat dan mendengar, kemudian bertanya, terus bertanya mengapa hal ini terjadi, mengapa hal itu terjadi. Inilah salah satu hal yang saya pelajari dari buku karya Koesalah ini: soal kejernihan dalam melihat banyak hal.

Namun terlepas dari kejernihan mata seorang anak, saya juga menangkap hal yang tidak kalah penting lagi, bahkan bisa jadi juga lebih penting: kemampuan Liliek melihat tak lepas dari hadirnya seorang perempuan dengan keteguhan dan kasih. Awalnya, saya sempat bertanya-tanya mengapa cerpen kedua berjudul “Ibuku di Surga” tapi isi ceritanya adalah tentang ibu Liliek ketika masih hidup? Sampai akhirnya saya berusaha menyimpulkan bahwa ini adalah bentuk pengenangan seorang anak di tengah lintasan waktu sejarah yang tak sepenuhnya ia mengerti. Di cerita “Ketika Jepang Datang”, Liliek terlibat di banyak peristiwa, dan terdapat satu bagian di mana ia mencari kehangatan ibunya yang akhirnya tak ia temukan. Dalam kemandiriannya melihat, ada “ketergantungan” untuk merasakan dan mengenang ibunya. Dan bagi saya hal ini menunjukkan wujud kemanusiaan yang mendasar: kebutuhan akan kasih ibu yang memadukan kelembutan dan ketegasan, apapun bentuknya.

Sebagai poin terakhir, latar sejarah tidak menjadikan cerita-cerita dalam buku ini terbeban oleh data sejarah. Jika boleh jujur, kecuali secara eksplisit ada keterangan mengenai perang (dengan menyebutkan Belanda atau Jepang), saya tidak terlalu banyak menemukan kontras deskripsi suasana masyarakat era akhir kolonialisme Belanda dalam cerita dengan masyarakat pedesaan pasca kemerdekaan atau bahkan saat ini. Ada yang familiar dari kondisi-kondisi yang dihadirkan Koesalah dengan kondisi sosial ekonomi yang kita ketahui sekarang: kemiskinan, hubungan beracun antara lintah darat/tengkulak dengan warga, ketegangan horisontal antar masyarakat yang juga menyentuh soal etnis.

Akhir kata, buku Ibuku di Surga memberi ruang bagi kita para pembaca untuk berpikir kembali soal melihat, mendengar, juga soal kehadiran kasih ibu di tengah permasalahan pelik. Dan karena saya tak pintar membuat penutup, ada baiknya saya kembali ke kata-kata Pram:

“Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana: biar penglihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari pada para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput.”

 *Tulisan ini dibuat untuk acara Bedah Buku Ibuku di Surga dalam rangka Memento dari Pramoedya dan Koesalah kerja sama Gereja Komunitas Anugerah, Yayasan Penelitian Korban Pelanggaran HAM, dan Paduan Suara Dialita (Minggu, 18 Maret 2018).

Leave a comment