Zama – Antonio Di Benedetto (diterjemahkan oleh Esther Allen, NYRB 2016)
To the victims of expectation. Demikianlah epigraf novel ini. Sebuah hentakan yang langsung membuat saya, “Mampus, gue bakal baca apaan nih.” Tentu, pengantar dari penerjemah, Esther Allen, sudah memberikan saya sebuah bayang-bayang tentang nuansa maupun gambar cerita. “Zama … is out of place in time, premature or belated , prescient or outmoded. … Its highly precise, linear chronology throws into question all relations between past, present, and future.” Apalagi di buku ini ada komentar Roberto Bolano, “[it is written with] the steady pulse of a neurosurgeon.” Ok, intinya ketika membaca novel ini jangan jadi gila, jangan jadi gila, tetaplah waras. Tapi permasalahannya, Don Diego de Zama memang sedang menjadi gila!
Novel ini bercerita tentang de Zama, seorang pejabat kecil di Asunción, Paraguay, jauh dari istri dan keluarganya di Buenos Aires. Pada bagian pertama, 1790, cerita berputar pada karir Zama yang tidak bagus amat-amat. Pejabat ecek-ecek, yang kemudian memilih untuk membayangkan perempuan lain di dalam kesendiriannya. Ia luntang lantung mencari tahu cinta macam apa yang “perlu” ia hadirkan jika ingin mendapatkan beberapa wanita yang ia ingini sambil terus berkomunikasi dengan Marta, istrinya, di dalam pikiran. Lalu kita akan meloncat pada tahun 1794, ia sudah memiliki selir, bawahan, namun kemudian juga berkonflik dengan koleganya. Lalu meloncat lagi ke tahun 1799, bagian terpendek dalam novel, di mana ia memimpin sebuah pencarian bandit.
Alur linear semacam ini memang tidak susah diikuti, tapi menjadi fuzzy ketika cara bernarasinya betul-betul penumpahan isi kepala orang. Sebagai seorang tokoh, Zama menurut saya sungguh mediocre. Setiap kali ia menghadapi sesuatu yang konfliktual, ia menghindar. Dalam pikirannya sih dia berkontemplasi sungguh-sungguh, tapi tindakannya sering kali tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan. Berputar dalam pikiran-pikirannya yang riuh, juga narasi kesendirian eksistensial membawa kita pada mental state Zama yang maju-mundur-sama-sekali-nggak-asik-maka-berdiam-saja. Zama sama sekali tidak heroik, perseteruan dengan koleganya pun menunjukkan bahwa ia tidak begitu intelektual. Konflik di dalam dirinya adalah kontemplasi banal, diselipkan pada hasrat sehari-hari seperti melakukan hubungan seks dan menyelesaikan urusan administrasi. Tentu pada era seperti itu rasisme adalah hal yang biasa, hubungannya dengan perempuan non-kulit-putih tidak hanya menunjukkan konflik superioritas ras namun juga seks (maskulinitas Zama sendiri). Sampai kemudian, kontemplasi itu terakumulasi dalam pekerjaan menangkap bandit yang penuh ketegangan, namun berakhir dengan pertemuan Zama dengan dirinya sendiri di masa kecil. Entah apa yang kemudian mati pada dirinya di hadapan kelompok Indian, tubuh saja atau juga memang mentalnya.
Di situlah menurut saya keberhasilan dan kejeniusan Di Benedetto. Caranya memainkan pilihan kata dan menyusun paragraf untuk membangun ritme kegilaan perlahan itu berhasil membuat Zama menjadi tokoh kompleks. Apalagi di bagian terakhir, Di Benedetto memainkan staccato
Bare earth.
No one.
Nothing.
I shuddered, without moving.
This could not be. This could not be for me.
I must go back, expose myself to this no further.
Give up the search.
(hal. 178)
Tentu ritme ini ditemukan dalam versi bahasa Inggris, dan bisa jadi sedikit berbeda dalam bahasa Spanyol. Namun jika ritme adalah ketukan yang sebenarnya bisa dipahami secara umum (berikut karena translasi), demikianlah tone yang hadir dalam novel Zama: panjang-tersendat, dan mungkin itu jugalah yang ingin Di Benedetto ceritakan lewat Zama, urip sepi tetap memiliki ritme dinamis. Beberapa pembaca goodreads kebanyakan menemukan a bit Dostoyevsky, a bit Kafka, atau much French existentialist. Saya pikir semuanya itu bukan hanya elemen kecil saja. Di Benedetto memang menghadirkan ini-dan-itu eksistensi melalui mixing teknik bercerita, pembagian kronologi waktu, hadirnya toko-tokoh sekunder, bahkan dalam epigraf itu sendiri mengandung rasa kesepian itu. To the victims of expectation, it was Zama himself, and the readers, and (maybe) the writer, and whoelses living in the banality of shitty job and horniness. Demikianlah bagusnya novel ini menurut saya, ia mengantar pembaca pada sebuah perjalanan mental panjang dari satu premis saja. Mungkin nanti kalau lagi bosan di kantor atau lagi ingin belaian kita bisa bekontemplasi seperi Zama, berkata pada diri sendiri: “You haven’t grown … Neither have you.”

Beberapa pembaca budiman mungkin sudah sempat membaca cerita pendek dari New Yorker berjudul Cat Person ditulis oleh Kristen Roupenian. Singkatnya, cerita ini berputar tentang bad sex yang kemudian dinarasikan seperti sebuah buku harian. Sebenarnya, bagi saya, cerpen ini biasa saja. Tidak ada hal yang istimewa, kecuali memang berkaitan dengan hidup sehari-hari, dan ditulis dengan bahasa sederhana persis seperti konten buku harian. Maka di situlah kehebohan internet muncul. Warganet membahasnya habis-habisan, para pembaca berdiskusi tentang apakah si tokoh feminis atau bukan, bahkan (seperti biasa) cerpen itu dirujuk sebagai berita/esai non-fiksi dan beberapa orang berlomba-lomba menanyakan apakah fiksi ini dialami sendiri oleh penulis. HAHAHA haha haha haha. Dilema fiksi/non-fiksi muncul lagi, sodara-sodara. Ya, menurut saya artikel ini, di antara artikel-artikel lain, bisa mewakili salah satu pendapat tentang fenomena itu.