The Wedding of Zein – Tayeb Salih (penerjemah Denys Johnson-Davies, NYRB 1968[2009])
Saya beberapa kali melihat nama Tayeb Salih muncul di beberapa daftar must-to-read penulis dari Afrika bersama dengan beberapa nama yang saya pribadi lebih familiar seperti Chinua Achebe. Tayeb Salih adalah penulis dari Sudan yang kemudian pindah ke London. Beliau terkenal dengan novelnya Season of Migration to the North di mana Akademi Sastra Arab di Damaskus memuji novel ini sebagai “novel Arab abad ke-20 paling penting”. Arab? Bukankah Sudan secara geografis terletak di Afrika? Nah, ketika mengacu pada Sudan, memang perlu dipahami dulu bahwa Sudan Utara (didominasi Muslim/Kush) dan Sudan Selatan (didominasi Kristen, animis/Sub-Sahara) memiliki sejarah panjang mengenai ketegangan budaya ini. Ketegangan ini teramplifikasi oleh kondisi ekonomi yang akhirnya memicu perang berkepanjangan (lebih dari 20 tahun!) antar dua wilayah, sampai akhirnya Sudan Selatan menyatakan kemerdekaannya pada tahun 2011. Sejarah pendek ini sebagai pengantar saja untuk kita dapat memahami posisi Tayeb Salih sebagai seorang penulis dari Sudan (Utara), dan bisa memberikan konteks terhadap cerita-ceritanya. Jika ingin dapat penjelasan lebih lengkap tentang kebudayaan Sudan bisa cek artikel ini.
Buku ini terdiri dari tiga cerita: The Doum Tree of Wad Hamid, A Handful of Dates, dan The Wedding of Zein. Secara garis besar, ketiganya mengambil cerita tentang desa dan keimanan, tema yang saya cukup familiar karena mengingatkan pada cerita-cerita Kuntowijoyo dan Mahfud Ikhwan. Lanskapnya yang berbeda, yaitu sebuah perkampungan gurun tepi sungai Nil. Sebagai seorang penulis dari “duniya ketiga” yang menghabiskan hidupnya lebih banyak di “duniya pertama”, profil Tayeb Salih tidak terlalu unik, dan mungkin cara beliau mengambil ide besar soal pertemuan identitas juga bukan hal baru. Namun teknik dan gaya bercerita Salih menarik untuk dicermati lebih dalam agar kita dapat memahami bagaimana beliau memproses posisi ideologinya.
Misalnya dalam The Doum Tree of Wad Hamid, Salih mempertemukan nilai-nilai tradisional melalui makam pohon yang dikeramatkan dengan modernisme yang diwakili oleh rencana pembangunan pemerintah. Dengan mengambil perspektif “orang dalam”, narator (si “aku”) langsung dikotomis membedakan audiensnya sebagai orang luar. Narator terus-terusan mengontraskan perbedaan-perbedaan itu, sampai di akhir cerita, pertemuannya dengan pegawai pemerintahan malah membuatnya berbalik menjadi “orang luar”. A Handful of Dates malah sebaliknya. Salih sepertinya tidak ingin juga meromantisasi kehidupan desa, dan lewat cerita itu ia menunjukkan konflik sosial (seperti rebutan tanah dan hutang) yang terjadi. Kedua perspektif itu kemudian seperti terakumulasi di The Wedding of Zein. Pernikahan Zein, sang pria buruk rupa dan bodoh itu, menggemparkan satu desa. Dari situlah, kemudian Salih bercerita tentang campur aduk tradisional/modern yang membentuk hirarki, juga para elit dan ketegangan antar mereka. Zein hadir sebagai sebuah alegori terhadap ketegangan itu termasuk proses mediasinya.

Dancing Lessons for the Advanced Age – Bohumil Hrabal (penerjemah Michael Henry Heim, NYRB 2011)
Saya bukan orang yang pendiam dan sebenarnya cukup bawel apalagi kalau ditanya tentang hal yang saya tahu dan suka. Tapi ketika saya sedang berada dengan seseorang yang jauh lebih suka bercerita dan berbicara, saya memilih untuk lebih banyak diam dan mendengarkan. Tidak jarang pula ketika ingin merespon satu topik, sudah dipotong dan ditumpuk dengan topik yang lain. Demikianlah yang saya alami ketika membaca buku ini. Buku ini adalah ocehan seseorang, yang suka berbicara apa saja tentang siapa saja, tidak peduli apakah kamu akan mengikuti celotehannya dengan seksama atau asal lewat. Intinya, si narator ini bawel sekali sampai sama sekali tidak ada titik dalam kalimat-kalimatnya. Apa yang dia ceritakan? Sepertinya hanya tuhan yang tahu apa maksud coletehannya. Menurut saya, tulisan Hrabal ini tidak sedang menyajikan cerita utuh. Ia adalah kumpulan potongan-potongan ironi dan tragedi yang kemudian ditertawakan oleh narator. yes, tragedy rules the world and writers always have someting to write about, katanya.
Di balik “berisiknya” narator, saya sangat terpikat dengan caranya bercerita yang tidak beraturan itu. Adam Thirlwell, di dalam pengantar cerita ini, berasumsi bahwa buku ini diperuntukkan untuk para pembaca zig-zag, diagonal reading. Saya tidak paham bagaimana membaca zig-zag, tapi saya mendapati memang dalam ucapan-ucapan yang terlihat kacau itu, ada banyak hal yang ingin dia sampaikan. Misalnya ketika ia tiba-tiba bercerita tentang seorang tentara yang bunuh diri dan istrinya menguburkannya diam-diam di gereja, lalu seketika itu ia meloncat bercerita tentang petugas kereta yang ingin naik pangkat namun harus bersitegang dengan tentara. Sungguh, kamu tidak bisa melewatkan pembacaan buku ini tanpa bertanya-tanya, dan “OOOOOO” di beberapa kalimat atau halaman setelahnya. Sepertinya inilah memang salah satu bentuk racauan seorang bawel yang dituliskan apa adanya.
2 responses to “Siapa Tahu Kamu Mau Baca, Ep. 11”
Langsung masuk daftar bacaan yg Hrabal, pernah baca juga yg Too Loud a Solitude dan suka. Lagi doyan juga sama novela tanpa plot yg isinya bacotan.
LikeLike
Wah aku malah belum baca yang itu, ini Hrabal pertamaku. *masukin Too Loud ke daftar*
LikeLike