Minggu ini, saya menghabiskan beberapa bacaan tentang Alfred Russel Wallace bersamaan dengan sedang berlangsungnya Wallace/Wallacea Week di Perpustakaan Nasional Merdeka. Saya pertama kali mendengar cerita tentang Wallace pada awal tahun 2016. Ketika itu saya masih bekerja di Kedutaan Inggris dan Profesor Sangkot Marzuki–presiden Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia dan direktur Institut Eijkman–menjadi pemapar dan pemantik diskusi. Beliau bercerita dengan asiknya tentang Garis Wallace juga perjalanan beliau menelusuri jejak perjalanan Wallace sampai akhirnya menemukan daerah di Ternate yang dulu menjadi rumah naturalis Inggris itu. Tidak banyak ilmuwan yang kamu temui mampu memahami cerita-cerita macam ini atau mungkin karena ini pertemuan pertama saya sebagai awam dengan sejarawan yang sekaligus seorang ilmuwan biologi. Rasanya menggairahkan sekali mendengar cerita-cerita baru disampaikan oleh mereka yang paham bahasa teknis. Di ruangan Alfred/Wallace Kedutaan Inggris, saya dan beberapa kolega mengangguk-angguk semangat. Kami seperti terhanyut pada cerita tentang pergeseran Paparan Sunda dan Sahul yang memungkinkan terjadinya keragaman fauna dan flora Indonesia saat ini, juga bagaimana Wallace menjadi salah satu orang yang berjasa menemukan dan mengidentifikasi ratusan ribu spesies.
Satu setengah tahun kemudian, tepatnya Senin kemarin, saya kembali mendengarkan cerita tentang Wallace. Bedanya kali ini, saya sudah mulai membaca The Malay Archipelago (2008 [1869]), dan mendapati interaksi sosial Wallace, baik itu dengan masyarakat lokal juga alam ternyata dinamis sekali. Pembacaan saya ini kemudian diperkaya oleh buku Dispelling the Darkness (2013) karya Dr. John van Wyhe, sejarawan evolusi dari National University of Singapore (NUS) yang juga menjadi pembicara di sesi produksi pengetahuan bersama dengan Prof. Sangkot. Baik dari pembacaan juga pemaparan di kuliah umum Wallace itu, saya menarik empat intisari besar.

Satu, perburuan Wallace pada awalnya tidak altruis hanya demi perkembangan ilmu pengetahuan. Dalam Dispelling, Dr. van Wyhe secara detail menjelaskan konteks era tersebut di mana curiosity mengenai asal mula makhluk hidup berkembang. Darwin bukan satu-satunya naturalis Inggris pada abad 19 yang penasaran soal topik ini. Ketertarikan Darwin dan Wallace berangkat dari pembacaan mereka terhadap karya ilmuwan lain seperti Thomas Malthus (1766-1834), naturalis Jerman Alexander von Humboldt (1769-1859), geolog Skotlandia Charles Lyell (1797-1875), dan tentu publikasi sains di beberapa jurnal waktu itu. Pada era itu, memang ada gairah terhadap sains dan sejarah alam, tapi bukan berarti ada kesempatan luas untuk mendapatkan pekerjaan yang layak baik itu di universitas, industri, maupun pemerintahan (2013: 37). Alhasil, berburu spesimen adalah pekerjaan yang menjajikan. Menyuplai para Victorian yang sedang tergila-gila terhadap fosil dan spesies, apalagi hewan berwarna-warni, paling tidak bisa membantu kondisi keuangan. Tidaklah heran jika kemudian Wallace menjelajahi hutan Amazon dan akhirnya sampai ke kepulauan Nusantara tidak cuman ingin mencari tahu lebih tentang asal mula makhluk hidup, tapi juga demi bertahan hidup. Someone needs to make his living.
Dua, perjalanan Wallace di Nusantara melibatkan masyarakat lokal. Ini bukan fakta baru. The Malay memaparkan secara jelas bahwa pencarian Wallace selalu dibantu oleh warga lokal. Misal, ketika di Borneo, di mana Wallace banyak berburu orang utan, ia selalu meminta tolong masyarakat Dayak untuk menemaninya atau meminta arahan untuk mencari jejak orang utan di dalam hutan. Cerita utama tentang peran masyarakat lokal adalah cerita tentang Ali, pemuda Melayu yang kemudian menjadi pembantu setia Wallace. Ingatan Wallace terhadap Ali sebagai pemuda yang terampil, cekatan, juga berinisiatif tinggi membuat Ali menjadi dikenal oleh para ilmuwan setelah Wallace yang berkunjung ke Nusantara termasuk oleh para sejarawan. Artikel Historia dan The Conversation Indonesia ini bisa memberikan gambaran padat mengenai peran Ali dalam ekspedisi dan hidup Wallace. Tanpa menyingkirkan fakta ini, interaksi antara Wallace dengan masyarakat lokal secara umum sesungguhnya dinamis. Tulisan Wallace di The Malay juga sarat akan observasi layaknya tulisan antropolog. Ia banyak mencatat ritual juga karakter-karakter orang di sekelilingnya, termasuk hubungan sosial antar mereka. Bahkan, Wallace menutup The Malay dengan bab berjudul The Races of Man in the Malay Archipelago untuk menyampaikan karakter-karakter ras seperti Melayu dan Papua, baik itu secara fisik maupun intelektual. Dr. van Wyhe menegasi mitos bahwa Wallace tidak serasis Darwin dan lebih simpati terhadap warga lokal. Menurut beliau, Wallace berpikir seperti masyarakat era Victoria pada umumnya. Ia menghargai budaya dan cara-cara hidup warga lokal namun tidak sepenuhnya menganggap mereka “beradab” Tarik menarik pandangan Wallace terhadap masyarakat lokal ini salah satunya muncul di The Malay ketika dia berkomentar tentang memajukan peradaban lokal.
Population will then certainly increase more rapidly, improved systems of agriculture and some division of labour will become necessary in order to provide the means of existence, and a more complicated social state will take the place of the simple conditions of society which now obtain among them. But, with the sharper struggle for existence that will then occur, will the happiness of the people as a whole be increased or diminished? …. it is to be hoped that education and a high-class European example may obviate much of the evil that too often arises in analogous cases, and that we may at length be able to point to one instance of an uncivilized people who have not become demoralized and finally exterminated by contact with European civilization. (2008 [1869]: 136)
Juga misalnya ketika Wallace membandingkan ras Melayu dengan Papua:
Of the intellect of this race it is very difficult to judge, but I am inclined to rate it somewhat higher than that of the Malays, notwithstanding the fact that the Papuans have never yet made any advance towards civilization. (ibid: 698)

Tiga, tidak ada hubungan intensif antara Wallace dengan pemerintah Hindia Belanda maupun naturalis Belanda. Wallace memang memberikan pujian terhadap cultuurstelsel yang dijalankan kolonial Belanda waktu itu, sekaligus membandingkannya dengan sistem tata kelola yang diterapkan kolonial Inggris di India. Ia melihat bahwa seharusnya Inggris menerapkan cara serupa dengan Belanda yang mampu bekerja sama dengan masyarakat lokal. Meskipun demikian, Dr. van Wyhe memaparkan bahwa Wallace tidak banyak berpengaruh untuk pemerintah Hindia Belanda waktu itu. Ia bukan siapa-siapa meskipun memang berkawan dengan beberapa orang Belanda, dan hubungan dengan pemerintah kolonial hanya sekedar perizinan untuk melakukan ekspedisi. Dengan para naturalis Belanda, kerja Wallace memang tidak banyak jauh berbeda, namun sepertinya Wallace tidak terlalu tertarik dengan cara mereka. Misalnya, pada tahun 1861, Wallace sempat mengunjungi Kebun Raya Bogor, di mana para naturalis Belanda era itu memang sedang mencoba membangun institusi penelitian biologi (cerita lengkap di buku Floracrats karya Andrew Goss 2011). Wallace tidak tertarik dengan Kebun Raya dan menganggapnya artifisial. “Wallace was not impressed with the ornamental layout of the gardens or the chunky gravel footpaths” (van Wyhe 2013: 295).
Empat, kontribusi Wallace tidak hanya terhadap klasifikasi spesimen, teori evolusi, maupun sebagai landasan penelitian biologi berikutnya, namun juga memberi pemahaman tentang bagaimana interaksi antar subjek/objek penelitian melekat pada hasil temuan/hipotesa. Menurut saya, poin ini yang terlewat dalam pembicaraan tentang Wallace dan produksi pengetahuan. Interaksi Wallace bukan hanya dengan manusia tapi juga dengan alam, termasuk bagaimana ia melihat interaksi masyarakat lokal dengan alam. Beberapa tulisan di buku Paper Landscapes editan Peter Boomgaard (1997) mengacu pada The Malay sebagai referensi untuk menceritakan kondisi lingkungan pada masa itu, namun juga sebagian kecil menceritakan cara Wallace berinteraksi. Dari situ saya menarik kesimpulan sotoy bahwa paling tidak ada sedikit keterkaitan antara hubungan sosial Wallace/alam dengan caranya berhipotesa. Saya melihat ini dengan sangat gamblang salah satunya di The Malay pada bagian perburuan orang utan. Perburuan Wallace berhasil karena kedekatan masyarakat Dayak dengan hutan Borneo. Beberapa kali ia bercerita tentang masyarakat Dayak yang lincah dan cekatan menjelajahi hutan. Pernah juga ada seorang Dayak menolak untuk menebang pohon atas permintaan Wallace dengan alasan “ada penunggunya”, dan Wallace tidak memaksa. Di satu sisi Wallace membunuh belasan orang utan dewasa, namun ia juga merawat seekor bayi orang utan yang tersesat. Dalam tulisan-tulisannya tentang pulau-pulau di sebelah Timur Nusantara pun Wallace memberikan kesan kagum atas keindahan namun juga tidak jarang merasa terganggu dengan beberapa kondisi (misal, bentuk timun laut atau hutan di Pulau Seram). Hubungan Wallace dengan alam sebenarnya tidak romantis-romantis amat, meskipun ia menyukai alam liar. Jika boleh dipermudah, hubungannya rasional. Mungkin juga ini berhubungan dengan poin pertama, ekspedisi Wallace adalah tetap sebuah pekerjaan, bagian dari usaha mencari uang. van Wyhe pun kembali mengatakan, “[Wallace’s] notes do not support [the] legendary images of Wallace on a quest for the Holy Grail of biology. … His notes largely concerned with the history of life rather than adaptation or ecology” (2013: 178).
Demikianlah, empat hal yang bisa saya sampaikan dari dua buku utama dan artikel-artikel terkait Wallace. Tentu, narasi sejarah Wallace seperti ini bukan berarti mendiskreditkan atau mengurangi kontribusi Wallace yang sudah ada. Justru, kita dapat belajar banyak tentang bagaimana ilmu pengetahuan muncul dan dibangun. Garis Wallace dan daerah Wallacea telah mengantar peneliti-peneliti untuk memahami alam dengan lebih baik. Karya-karya Wallace mengantar Eugene Dubois untuk mencari jejak evolusi di Hindia Belanda dan akhirnya menemukan fosil Pithecanthropus Erectus, juga menginspirasi peneliti-peneliti biologi untuk mempelajari flora-fauna endemik. Jika ada kalimat kalau Indonesia adalah “laboratorium hidup” maka pertanyaannya tidak berhenti pada apa yang bisa dihasilkan dari laboratorium, tapi juga bagaimana menciptakan interaksi yang tidak eksploitatif antara subjek peneliti dengan objek yang diteliti. Tentu tidak bisa asal tempel metode Wallace waktu itu dengan sekarang, bahwa kemudian mempelajari dan memanfaatkan alam harus dengan “berburu”. Justru, salah satunya dari Wallace, kita bisa paham soal kekayaan dan biodiversitas sebagai sesuatu yang tidak melulu untuk dirayakan tapi juga untuk membuat kita kembali berpikir tentang dampak aktivitas sosial manusia sekarang yang dapat mempengaruhinya.
Catatan: Pameran Wallace di Perpusnas Merdeka masih akan ada sampai hari Minggu, 22 Oktober 2017. Sempatkanlah mampir, kawan-kawan!
