Bacaan pilihan pekan ini. Semoga berguna.
Para Raja dan Revolusi oleh Linda Christanty (Diva Press, 2016)
Ini adalah buku kedua Linda Christanty yang saya baca setelah beberapa bulan lalu menyelesaikan Kuda Terbang Maria Pinto. Mungkin saya agak telat mengenal tulisan-tulisan beliau (ehe sejatinya memang qyu kurang gaul dan referensi), tapi saya harap tidak pernah ada kata terlambat untuk membaca tulisan-tulisan baik. Linda memang pencerita yang sangat baik. Tulisan beliau adalah perpaduan antara kecerdasannya mengaitkan satu cerita dengan cerita lain yang secara jarak berjauhan, dengan ironi berbumbu humor. Tulisan-tulisan dalam buku ini memang tidak banyak yang baru, tapi sebagai pembaca mula, saya terkesima dengan caranya bertutur. Misal di tulisan berjudul Panglima Hasan Badi dan Haji Mahmud, Linda bercerita tentang legenda para orang sakti yang ia dengar sewaktu kecil. Hasan Badi dan Haji Mahmud sama-sama berhasil menaklukan binatang buas, cindai dan buaya. Kisahnya sangat seru dan diakhiri dengan kalimat pamungkas “… kesewenang-wenangan dan ketidakadilan harus dilawan.” Buat saya, penulisan seperti ini sungguh seperti mendengar dongeng orang-orang tua yang tentunya tidak lepas dari petuah-petuah terbuka. Salah satu cerita yang saya suka lagi ada di esai berjudul Hantu dan Revolusi. Bermula dari cerita tentang Opanya yang seorang Panglima di Bangka Belitung bergulir ke cerita konflik lain yang berurusan dengan etnis Cina. Tidak mudah menumpangtindihkan sejarah, tapi saya pikir Linda penulis yang cukup lihai soal itu.
Sebagai pembaca mula, saya belum familiar dengan tulisan-tulisan Linda yang lain. Maka saya menyempatkan diri mencari-cari tulisan pembaca lain soal buku ini. Ada yang merasa kurang puas karena Linda lebih dikenal dengan tulisan reportasenya yang teratur, sedangkan dalam kumpulan ini lebih banyak memori personal yang dikaitkan dengan cerita-cerita besar. Seorang kenalan, yang berkenalan dengan Linda melalui tulisan reportase Hikayat Kebo, juga menyatakan hal yang sama. Namun di sisi lain, ada juga yang mengulas dengan lebih detail, memberikan penghargaan untuk cara Linda menulis tentang situasi represif yang malah membuat pembaca berpikir bagaimana menyikapi keadaan seperti itu. Saya pribadi memang sempat merasa kebingungan, apalagi di tulisan Bangsa Nusantara dan Peradaban Manusia yang memberikan banyak cerita dari berbagai wilayah untuk menjelaskan poinnya soal persebaran budaya melalui dunia maritim. Sepertinya beliau ingin memberikan banyak contoh tapi tidak diakhiri dengan premis mulanya. Tapi semakin membaca perlahan saya bisa banyak menangkap sentilan-sentilan yang ingin beliau sampaikan, termasuk bagaimana cerita besar (soal konflik misalnya) terdiri dari sekumpulan cerita-cerita kecil. Atau juga bagaimana fiksi dan non-fiksi termasuk memori pribadi itu bisa membaur, berinteraksi di dalam hubungan di keluarga maupun bermasyarakat, termasuk dalam kaitannya dengan negara. Di sinilah menurut saya kekuatan tulisan beliau.

Keepers of the Secrets oleh James Somers (Village Voice, 20 September 2017)
Tanggal 4 Oktober lalu dunia twitter cukup ramai dengan tagar #AskAnArchivist Day, satu hari di mana para arsiparis di seluruh dunia akan berkomunikasi dengan pertanyaan-pertanyaan soal dunia kearsipan. Di antara keseruan-keseruan twit itu, artikel ini muncul sebagai tulisan (yang menurut saya) apik merangkum kerja arsip yang mungkin tidak banyak dilihat oleh masyarakat. Tulisan ini diawali dari cerita seorang arsiparis di Perpustakaan Umum New York tentang pencarian cerita melalui arsip namun juga apa-apa saja yang hilang. Tulisan ini tidak hanya bercerita soal bagaimana kearsipan di Amerika Serikat bekerja, tapi juga sebagai gambaran besar tentang apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh sekumpulan arsip. Saya suka kesimpulan pada bagian akhir, di mana arsiparis Perpus New York itu menguatkan kembali apa yang saya amati selama ini: bahwa pengetahuan adalah produk kerja sosial, tempat pencari cerita berjumpa, bertukar temuan, dan di antara rak-rak besar itu, cerita-cerita menunggu untuk ditemukan.
One Hundred Years of Forgiveness oleh Clarice Lispector (Paris Review, Winter 2011)
Saya selalu suka tulisan-tulisan Clarice Lispector sejak pertama kali membaca The Hour of Star. Setelah pengalaman magis itu saya selalu membaca karya-karya Clarice yang lain dengan sangat perlahan, sesekali tersengguk sentimentil dan langsung menutupnya karena tidak ingin terlalu emosional. One Hundred Years of Forgiveness adalah satu dari sekian cerita Clarice yang berhasil membuat saya merasa sendu namun tidak sedih termenye. Cerita pendek ini tentang seorang gadis kecil di Recife yang suka mencuri bunga mawar di halaman rumah orang besar. Tidak ada nuansa menyedihkan yang berlebih, tapi kamu bisa sedikit melihat realitas tentang kesenjangan dan bagaimana seorang anak bereaksi terhadap itu. Mencuri jadi sesuatu yang sepertinya bisa membebaskan sang anak. Namun justru cara Clarice bercerita dengan begitu tenang membuat saya menangkap rasa dan keharuan tentang hidup si gadis. Ah bagus sekali. Kalau punya akses ke buku digital yang berisi koleksi cerita-cerita pendeknya (ehem tahulah ya harus ke mana), tulisan ini juga berada di antara puluhan cerita yang bisa membuatmu ingin melarikan diri dari keramaian dan diam di pojok kamar kosan sambil minum teh hangat.
How the First Gravitational Waves Were Found oleh Nicola Twilley (The New Yorker, 11 September 2016) dan video Gravitational Waves Explained oleh PHD Comics (Februari 2016)
Beberapa hari lalu Rainer Weiss, Barry Barish, dan Kip Thorne–tim peneliti dari proyek Laser Interferometer Gravitational-Wave Observatory (LIGO)–menerima penghargaan Nobel Fisika. Penelitian ini berangkat dari Teori Relativitas Umum Einstein yang menyatakan soal ruang dan waktu yang hadir karena massa. Alam semesta seperti kain empat dimensi dimana gravitasi benda membentuk kerutan-kerutan yang kemudian disebut gelombang gravitasi. Setiap benda dengan massa dan kecepatan akan menciptakan gelombang ini. Namun gelombang tersebut baru dapat dideteksi jika ada benda dengan massa sangat berat dan bergerak di alam semesta dengan kecepatan tinggi. Bagaimana membuktikannya? Gelombang gravitasi dihasilkan dari kerutan ruang waktu yang mengembang menyempit. Perubahan kerut inilah yang dicari dengan menggunakan alat pengukur yang menggunakan kecepatan cahaya (interferometer), LIGO, untuk dapat menghasilkan data berupa perubahan kerut yang presisi. Video PHD comics memberikan gambaran baik: mendeteksi gelombang gravitasi itu seperti mendeteksi perubahan sebesar 5 mm pada benda sepanjang 1,000,000,000,000,000,000,000 meter! Ini membutuhkan kerja yang sangat hati-hati, bahkan awalnya diprediksikan tanda gelombang itu baru akan muncul di tahun 2017 atau 2018. Maka ketika tahun lalu detektor LIGO dengan kolaborasi bersama detektor Virgo menemukan gelombang itu dari riak dua lubang hitam besar yang saling berbenturan dan menyatu, penemuan ini menggemparkan. Cerita punya cerita, tim bahkan membutuhkan waktu dua bulan untuk mengecek apakah hasilnya benar. Temuan ini tidak hanya membuktikan teori Einstein tapi juga memberi tahu mengenai eksisnya dua lubang hitam kembar. Saya jadi ingat setahun lalu kawan saya, yang sekarang sedang kuliah master fisika partikel di Lund, semangat sekali waktu bercerita soal ini. Saya berhutang banyak padanya karena sudah memberikan referensi-referensi tentang gelombang gravitasi yang mudah dicerna oleh orang awam seperti saya. Alam semesta sungguh menakjubkan!

Sudah bulan Oktober, dan isu komyunis sudah mulai reda. Lalu tulisan macam apa yang sebenarnya bisa membuat kita sedikit bernafas, tergelak konyol, sebelum nanti kembali memikirkan cara-cara lebih serius lainnya? Saya rekomendasikan tulisan Mirza Fahmi yang membuat saya mesem-mesem dan angguk-angguk sendiri kayak ayam laper. Buat saya tulisan ini jujur sekaligus jenaka, hasil observasi langsung dari TKP layar tancep nobar film jadul itu. Buat saya, tulisan Mirza kuat di celetukan-celetukan sengaja lugu semacam “Sempat mengira ini adalah pemutaran film ‘Sertifikat Jamsostek’” atau “Oke, sepertinya pemutaran film ini hanya dalih untuk bisa kelayapan malam-malam. Mantap!” Ya gusti, itu lucu tapi seharusnya biasa saja tapi lucu. Bacalah, kawan-kawan. Paling tidak kita semua jadi tahu bahwa tulisan cerdas tidak harus selalu ‘menguliahi’ masyarakat Indonesia untuk, misalnya, belajar soal masa lalu dari negara lain. Sorry-not-sorry, argumen semacam itu baik tapi sedikit pretensius. Sampai di akhir tulisan kita bisa tahu bahwa goreng-goreng isu dan berantem-berantem di media sosial itu bukan segalanya. Tulisan semacam ini seperti bisa jadi cerita katalis yang membantu kita paling tidak bisa diam sejenak, berpikir sambil nyengir mesem.