Tentang Momo, Waktu, dan (sekali lagi) Menjadi Berani

Hari Sabtu pagi kemarin, Fransis, kawan saya, mengeluarkan buku Momo dari dalam tasnya. Di dalam mobil travel X-Trans menuju Bandung itu, awalnya kami berbincang saja soal buku ilustrasi Marcel Dzama The Infidels yang ia titipkan melalui saya. Waktu menitip buku itu Fransis pernah bilang kalau Marcel Dzama pernah buat ilustrasi Momo karya Michael Ende. Saya pernah dengar tentang Momo tapi belum pernah membacanya dan Fransis bilang nanti pinjam saja punya dia. Jadi Sabtu kemarin, dengan baiknya, Fransis meminjamkan buku Momo terjemahan Bahasa Indonesia. Tentu saya sangat senang akhirnya bisa membaca buku apik ini, apalagi terjemahannya sama sekali tidak buruk. Saya berniat menghabiskannya hari Minggu malam, tapi karena satu dan lain hal baru sempat menyelesaikannya hari ini.

Momo oleh Michael Ende, alih bahasa: Hendarto Setiadi diterbitkan oleh PT GPU, cetakan kedua April 2005

Sekilas Cerita Momo

Ende membuka kisah Momo dengan sebuah kota zaman sekarang dengan reruntuhan gedung teater yang menyimpan keheningan, tempat cerita berlangsung. Sebagai pendatang entah-dari-mana, Momo disayang oleh orang-orang setempat. Mereka menyayangi Momo karena Momo punya keahlian mendengar. Diceritakan sepasang sahabat bisa berdamai dengan sendirinya karena bercerita pada Momo, dan sekumpulan anak kecil dapat berimajinasi dengan hebatnya ketika mengajak Momo bermain. Ya, seorang pendengar yang tinggal di reruntuhan amfiteater rasanya bukan sosok yang istimewa. Ia tidak berkonflik dengan warga sekitar, ataupun terasing secara sosial meskipun tidak banyak berbicara. Momo pun memiliki dua sahabat, Beppo, seorang tua dengan kebijaksanaanya dan Gigi, seorang muda dengan bualan-bualannya yang berapi-api. Keduanya menyayangi Momo dengan cara yang berbeda, dan Momo tak pernah mempermasalahkan itu.

Masalah mulai timbul melalui kehadiran para tuan kelabu. Mereka bekerja sebagai bankir yang merayu manusia untuk menyimpan waktu di Bank Waktu. Melalui berbagai macam cara, termasuk hitungan matematis, para tuan kelabu menggoda manusia untuk berhemat. Janganlah pakai waktu untuk hal-hal tidak berguna. Waktu harus disimpan sedemikian rupa agar nanti dapat dinikmati. Godaan ini manjur. Orang-orang dewasa berbondong-bondong menyimpan waktu di Bank, menit demi menit, jam demi jam, dengan harapan di masa depan nanti mereka dapat menikmati semua waktu itu.

Tentu ini sebuah kebohongan. Anak-anak kecil mulai mengeluhkan orang tua mereka yang semakin tidak punya waktu untuk berbincang dengan mereka. Momo pun kehilangan orang-orang yang selalu datang untuk sekedar bercerita ataupun berkeluh kesah. Sampai akhirnya salah satu tuan kelabu mencurigai kehadiran Momo juga anak-anak yang mengeluh padanya. Namun karena Momo pandai mendengarkan, si tuan kelabu itu malah membocorkan rencana jahat para pencuri waktu yang ingin menguasai dunia.

Mengetahui informasi dari Momo soal rencana tuan kelabu, Gigi dengan semangat mudanya berapi-api untuk melakukan perlawanan bersama dengan anak-anak. Sebagai tukang cerita dan membual, Gigi melihat informasi ini sebagai ‘cerita’ dahsyat, dan ingin berperan di dalamnya. Sedangkan Beppo ingin berhati-hati karena aksi ini membahayakan, tidak hanya Momo, namun juga anak-anak itu. Ada risiko yang tidak diketahui mereka bertiga.

Malam itu Gigi bermimpi tentang nama besar yang kelak akan diperolehnya sebagai pembebas kota. Ia membayangkan dirinya dan Beppo mengenakan setelan jas, sementara Momo memakai gaun sutra berwarna putih. Kemudian mereka bertiga dikalungi kalung emas. Musik megah berkumandang, semua penduduk kota membawa obor dan ikut dalam iring-iringan panjang dan gilang-gemilang untuk menghormati para penyelamat.

Pada saat yang sama, Beppo tua berbaring di ranjangnya tanpa bisa tidur. Semakin lama ia merenung, semakin jelas ia menyadari bahaya yang mengancam mereka. Tentu saja ia takkan membiarkan Gigi dan Momo celaka berdua saja–ia akan ikut, apa pun yang akan terjadi. Tapi paling tidak ia harus mencoba mencegah mereka. (120-121)

Kedua posisi Gigi dan Beppo sejujurnya membuat saya gelisah. Karena pada paragraf-paragraf selanjutntya, pawai itu berlangsung. Anak-anak riuh di dalam reruntuhan amfiteater menyiapkan pawai. Mereka berharap dapat mengundang seluruh kota, mendengarkan teriakan mereka dan membaca umbul-umbul bertuliskan “HEMAT WAKTU? UNTUK SIAPA?” dan “ANAK-ANAK BERSERU KERAS: WAKTU ANDA HILANG DILIBAS!” Sayangnya pawai yang dihadiri oleh ribuan anak-anak ini tidak berdampak, protes mereka tidak diindahkan oleh para orang dewasa, malah menarik perhatian para tuan kelabu untuk menghancurkan Momo dan anak-anak.

Situasi gerah ini kemudian dijembatani oleh Momo yang tiba-tiba menghilang dibawa oleh seekor kura-kura bernama Kassiopeia menuju sebuah dimensi waktu tempat Empu Hora, sang pengelola waktu, berada. Intervensi Empu Hora ini tidak langsung membawa perubahan radikal. Momo harus paham dulu tentang siklus kembang waktu, yang mati-lahir-mati-mati berputar sedemikian rupa. Belum lagi sepulangnya dari dimensi itu, Momo dihadapkan pada kenyataan bahwa kawan-kawan lamanya telah dikuasasi oleh tuan kelabu. Gigi menjadi sibuk sedemikian rupa dan Beppo menjadi semakin tua dan dingin. Kawan-kawannya beranjak dewasa, tidak lagi mempedulikannya. Taktik tuan kelabu untuk membuat Momo kesepian berhasil.

Namun kehadiran Kassiopeia yang bisa mengintip setengah jam ke masa depan membuatnya memiliki secercah harapan.

Momo tidal lagi berniat kabur. Tadinya ia kabur dengan harapan untuk menyelamatkan diri. Sepanjang waktu ia hanya memikirkan dirinya sendiri, kesepiannya, ketakutannya! Padahal, sebenarnya terman-temannya yang terancam bahaya. Kalau ada orang yang bisa menolong mereka, maka Momo-lah orangnya. Walaupun kecil kemungkinannya para tuan kelabu akan membebaskan teman-temannya, ia tetap harus mencoba.

Dan sementara berpikiran seperti itu, ia merasakan perubahan aneh dalam dirinya. Perasaan takut dan tak berdaya telah tumbuh begitu besar, sehingga tiba-tiba berbalik dan berubah menjadi kebalikannya. Momo berhasil mengalahkan ketakutannya. Kini ia merasa berani dan yakin, seakan-akan tak ada satu pun kekuatan di dunia yang bisa membuatnya celaka. Atau lebih tepatnya: Momo tidak lagi peduli apa yang terjadi dengannya.  (261)

Keberanian Momo lahir dari ketakutan yang ia dengar sendiri di dalam hati. Pemahamannya tentang waktu, tentang “sekarang” yang tidak dapat hadir tanpa masa lalu dan masa depan, juga kasih sayang Momo terhadap kawan-kawannya menjadi kannya berani. Dengan sekuat tenaga, Momo berjuang menghangatkan waktu yang tersimpan di brankas dingin. Para tuan kelabu pun menjadi riuh sendiri, kacau balau dan melenyapkan diri mereka sendiri dengan ambisi untuk mengalahkan Momo dengan taktik waktu mereka. Mereka tidak menyadari bahwa Momo sudah tidak peduli dengan itu, ia hanya ingin kawan-kawannya selamat.

Menjadi Berani Di Tengah Ketakutan

Cerita Momo berakhir dengan baik namun membawa pertanyaan besar dalam kepala saya. Saya mulai membandingkannya dengan cerita bertema serupa The Little Prince yang membawa saya pada kesimpulan bahwa kisah Momo sesungguhnya lebih kompleks dan politis daripada kisah Sang Pangeran Kecil. Kebingungan anak kecil melihat orang dewasa tidak digambarkan dalam bentuk ruang tenang dan semesta yang sepi. Kisah Momo menceritakan adanya keriuhan, konflik seorang anak dalam struktur sosial, interaksi dengan kawan dan lawan, juga cerita perlawanan yang sesungguhnya tidak berproses dengan mulus.

Namun lebih daripada kisah seorang anak yang dikejar-kejar oleh waktu dan penyakit kebosanan, keberhasilan Ende adalah memberikan sosok protagonis yang sebenarnya tidak heroik-heroik amat. Kunci utama kekuatan Momo adalah mendengarkan, dan bermula dari situlah ia kemudian memahami apa yang terjadi di lingkungannya. Pertemuannya dengan Empu Hora memang membuka kabut kebingungan, tapi proses itu pun tidak langsung terjadi: ada proses pengendapan, kesepian hebat, juga negosiasi dengan lawan. Kutipan tentang Momo yang menjadi berani tidak muncul di awal ataupun tengah cerita, tapi muncul hampir di akhir kisah. Seperti sebuah prestasi kecil yang membawa kebaikan, ketakutan tidak perlu menjadi keberanian radikal. Ia hanya perlu sedikit harapan akan masa depan (disimbolkan dengan kehadiran Kassiopeia) untuk dapat berubah menjadi sedikit keberanian.

Cerita seperti ini, bagi saya, menakjubkan.

Membaca Momo di tengah keriuhan yang terjadi beberapa hari ini (juga ketakutan pribadi) membuat saya memikirkan ulang tentang apa itu menjadi berani terkait konflik waktu. Bukan cuman konflik personal tentang apa itu artinya menjadi dewasa, tapi lebih dari itu, mengenai perlawanan macam apa yang harus dilakukan untuk melawan para pencuri yang berkuasa. Kita bisa saja terus berdebat mengenai cara terbaik dan posisi paling benar untuk melawan, seperti Beppo dan Gigi. Namun pertanyaannya perlawanan ini terhadap siapa, mengingat para tuan kelabu itu wujudnya seperti asap cerutu yang sebenarnya bisa menghilang seperti kabut? Pertanyaan ini sulit. Ketidakpedulian orang dewasa terhadap suara anak-anak tidaklah berintensi. Orang dewasa sibuk bertahan hidup karena diancam oleh masa depan yang sia-sia dan tidak berarti. Dalam sistem, mereka dipaksa untuk harus menjalani rutinitas dan penyakit “kebosanan” itu, dimanfaatkan oleh gerak laju para tuan kelabu yang seperti hantu.

Namun pertanyaan sulit ini dijawab oleh akhir cerita Momo yang menurut saya tepat. Langkah Momo adalah membuka gerbang brankas Bank Waktu, berusaha mengembalikan waktu yang sudah dicuri kembali pada pemiliknya agar para tuan kelabu kehilangan suplai waktu untuk hidup. Ia mendekap kembang waktunya erat-erat, sementara para tuan kelabu bersusah payah bertahan hidup atas waktu mereka yang hilang, dan akhirnya lenyap dalam asap. Penyelesaian ini mengagetkan Momo, berbekal kembang waktunya sendiri dan Kassiopiea, si masa depan singkat itu, ia berhasil menyelamatkan kawan-kawannya dan orang-orang. Keberanian Momo tidak muncul ketika Gigi dan Beppo berseteru merencanakan pawai anak-anak. Momo pun hadir dalam gerakan yang berakhir percuma itu, dalam kebingungan dan ketakutan. Maka faktor-faktor yang kemudian membuat Momo menjadi berani adalah perpaduan antara pemahaman soal waktu dan kasih sayang. Saya jadi teringat sebuah pepatah para bijak untuk tidak hanya menjadi tulus seperti merpati tapi juga cerdik seperti ular. Di sinilah keberanian Momo menjadi seperti model ideal dalam menghadapi penguasa.

Pertanyaan dalam cerita Momo terjawab dan terselesaikan. Maka imajinasi macam apa yang kita perlukan untuk mencerna cerita ini dalam kehidupan nyata dan sehari-hari? Saya membayangkan memang rumit sekali menjadi orang dewasa, namun sedikit harapan, entah cuman setengah jam saja ke depan seperti Kassiopeia si kura-kura, berdampak besar dalam kehidupan. Ya, besar.

 

Leave a comment