Tentang Supartono

Supartono suka dan ingin menulis.

Mungkin kalimat di atas adalah pembuka yang paling tepat untuk menjelaskan seseorang. Semoga kamu bisa sedikit membayangkan seperti apa Supartono ini. Apakah kamu bertanya-tanya mengapa saya secara tetiba memperkenalkan seseorang bernama Supartono? Kalau kamu tidak bertanya, saya sedikit kecewa sebenarnya. Jadi biarkan saya sedikit berdelusi bahwa kamu semua—yang menyempatkan waktu membaca tulisan ini—bertanya-tanya.

tumblr_inline_obkz3h5vWc1qahhvq_500

Supartono adalah seorang kawan. Kawan yang saya kenal di sebuah masa yang melompat-lompat. Saya tidak bisa mengatakan dia fiksi atau non-fiksi, karena apa yang nyata dan tidak pun terkadang sulit untuk dibedakan. Saya pikir kamu yang rajin membaca fiksi atau cerita fantasi tahu maksudnya. Tapi melalui ruang kecil ini saya mau sedikit bercerita tentang Supartono, kawan saya yang suka menulis itu.

Tunggu. Sebelum saya lebih jauh bercerita tentang Supartono, mungkin juga kamu bertanya, “Kalau Supartono suka menulis, mengapa dia tidak menuliskan ceritanya sendiri?” Yah, sayang sekali saya tidak bisa memberikan jawabannya. Karena saya pun tak tahu pasti. Mungkin tulisannya tersimpan di sebuah folder berdebu yang posisinya di atas tong sampah digital. Atau mungkin ada ketidakbiasaan untuk menulis tentang dirinya, menjadi protagonis bagi tulisannya sendiri. Atau juga tulisan-tulisannya adalah semacam kode rahasia yang jika dibongkar berisi kata kunci bom nuklir yang bisa menghancurkan dunia. Biar saja jadi misteri. Toh Supartono pun tak tahu saya menulis ini. Mungkin.

Saya memilih menulis tentang Supartono karena … karena apa ya? Karena … saya pun tak tahu sebenarnya. Jika ini yang dinamakan impulsif … bisa jadi. Begini. Saya sangat suka dengan cerita, sama seperti kamu. Sudah cukup banyak kisah ini itu yang saya baca maupun dengar. Dan tidak jarang saya pun ikut mencoba menceritakan satu dan lain hal dalam hidup saya. Tapi Supartono … ah, saya pikir kalau kamu dengar cerita-ceritanya kamu akan menyukainya (sok tahu sekali memang, tapi tidak ada salahnya mencoba).

Ada cerita tentang Supartono yang ketakutan dimakan buaya. Atau cerita mengenai kawannya yang seorang penulis stensil. Oh, nanti saya juga akan coba bercerita tentang keinginannya menjadi seorang guru.  Atau bisa juga ketika dia kabur dari acara tangis menangis di sekolah. Pernah juga dia bercerita tentang sebuah benih kembang sepatu yang tidak tertanam. Atau betapa wajahnya cukup muram melihat burung-burung kuntul putih yang biasa ada di jalanan mulai menghilang. Maka, alasan apa lagi yang saya punya untuk tidak menulis cerita-cerita itu (selain kemalasan)?

Saya memahami bahwa ketika saya atau kamu mulai melulu berkisah tentang diri sendiri, kita bisa saja terjun dalam kenarsisan. Namun saya juga yakin bahwa menulis tentang diri sebagai ekspresi dan aktualisasi bisa menyelamatkan pikiran kita sendiri. Jadi Supartono mungkin bisa membawa kita bersama ke ruang tengah: tak melulu bercerita tentang kebanalan hidup pribadi namun masih bisa menulis tentang keramahan hidup lewat dirinya.

Jadi, semoga di beberapa waktu ke depan kamu masih bersedia membaca tulisan-tulisan ini. Meskipun sebenarnya kamu tidak akan pernah tahu pasti apakah Supartono ini memang ada atau ini semua hanya bualan saya. Bolehlah kamu menebak-nebak, tapi jawaban itu semuanya hanya akan di kepala kamu. Dan jika kamu membaca cerita-ceritanya ke depan, lalu menyukainya (atau bahkan membencinya), kamu bisa bilang ke saya. Dengan senang hati, akan saya sampaikan.

Sampai berjumpa di cerita-cerita Supartono.

Leave a comment