Supartono dan Kemungkinan

Supartono pernah berbicara tentang kemungkinan.

Pada suatu malam yang tidak terlalu sepi, saya dan Supartono berbincang soal macam-macam. Dari cuap-cuap tentang tetangga sebelahnya yang sering terjatuh tanpa sebab, atau tentang bos di kantornya yang baru saja pulang dari Budapest. Tetiba saja saya langsung melempar pertanyaan acak, “Tono, dari segala hal yang kita punya saat ini, apakah kamu pernah membayangkan kemungkinan kita tidak berkawan?” Supartono hanya diam. Berpikir sebentar.

Ah saya pun entahlah mengapa melontarkan pertanyaan itu. Ya, saya sangat suka sekali dengan pertanyaan what if. Membayangkan hal-hal di luar yang saya alami atau miliki. Seperti ada jutaan, miliaran semesta paralel yang memungkinkan segala sesuatu terjadi. Kawan saya pernah berkata dia ingin jadi Panda di semesta ke 989827. Kawan saya yang lain ingin jadi landak rumahan. Ah, asosiasi dengan binatang memang kadang kali menggambarkan hidup idaman kita.

Saya masih menunggu jawaban Supartono.

Bukannya menjawab, dia malah mengeluarkan sebuah buku catatan.

“Ini,” kata Supartono menyerahkan buku catatannya.

“Apa ini?”

“Aku pernah menulis sesuatu tentang kemungkinan,” katanya sambil memalingkan muka.

“Eh, dalam rangka apa? Aku pikir kamu hanya bisa menulis stensilan,” tanya saya penasaran juga.

“Ya ini kalau sedang jenuh menulis stensil. Dan kamu masih ingat …. ”

“Oh, ini tentang dia?”

“Ya,”

Saya hanya mengangguk pelan, tidak ingin membahas lebih lanjut. Cerita tentang “dia” ini akan saya ceritakan lain kali saja. Saya membuka buku catatan itu dan menemukan tulisan Supartono, yang seperti biasa acak adut dan sangat susah dibaca. Ada baiknya kamu pun ikut membaca, saya cantumkan di sini atas seizin Supartono.

tumblr_inline_oecg4fHjsT1qahhvq_500

Jalan dari dan menuju desa Seruat tak semenegangkan sejak perjalanan pertama. Mungkin karena aku memutuskan untuk berangkat dan pulang pada siang hari, juga sudah sedikit hapal dan tak ada lagi adegan tersesat ke kebun orang. Namun rasa was-was tiap melewati jalur motor dari batang kelapa dibelah dua tak juga surut dalam perjalanan itu. Berada di muara sungai Kapuas membuat wilayah ini bak pulau-pulau kecil dipisahkan parit selebar sekitar 2-3 meter. Sehingga tiap kali sepeda motor aku pacu melaju di jembatan seadanya itu, bayangan kalau keseimbangan hilang dan motor jatuh ke parit membuat aku begindik, serta lega minta ampun setelah bisa melewatinya.

Untungnya juga, hujan tak sedang turun di wilayah itu dalam dua hari terakhir. Jikalau ada, hanyalah rintik-rintik saat menjelang malam dari awan yang berhembus dari laut Jawa. Sehingga perjalanan pulang dari desa itu tak begitu direpotkan dengan lumpur tebal. Jalan menuju sungai Bawang yang dianggap penuh buaya itu pun tak lagi terendam luapan air Kapuas. Hanya sinar terik matahari dan pegal di pantat saja yang menambah tantangan saat berkendara. Hari itu hari ketiga setelah riset lapangan dan aku memutuskan untuk pulang ke Pontianak karena tiket menuju Jakarta sudah di tangan.Namun jika ada yang paling paling sulit dipahami, hal itu adalah kemungkinan. Begitu mudah kita berandai-andai sesuatu akan terjadi, tapi betapa sulit mengukur terjadinya sebuah peristiwa secara eksak. Begitu pula saat panggilan pertama untuk naik pesawat di ruang tunggu bandara siang itu. Sebuah pesan masuk menanyakan kabar. 

Bisa saja dalam perjalanan panjang menuju Pontianak itu motor yang aku tumpangi benar-benar jatuh ke dalam parit. Mesin yang terendam air pasti butuh waktu lama untuk diperbaiki, apalagi mengangkat motor dari sungai kecil itu tentu bukan perkerjaan mudah. Atau perahu motor yang membawaku menyebrangi Kapuas kelebihan muatan dan karam, lalu buaya itu, ah ini mengerikan. Atau lumpur tebal di jalan menuju sungai Bawang yang membuatku makin lama melewatinya. Dan dengan semua kemungkinan itu tentu akan membuatku terlambat mengejar pesawat. Juga di daerah di mana sinyal telepon sangatlah jarang sangat mungkin tak pernah akan masuk pesan di siang hari itu. Dan semua cerita itu tak akan pernah terjadi.

Dan kita tahu cerita itu tak berhenti di kemalangan-kemalangan tadi. Atau semacam skenario antiklimaks bin tragis lainnya: sesudah kesenangan akan pulang ke Jakarta dan mendapat pesan tersebut, pesawat yang kutunggangi masuk dalam tebalnya awan cumulonimbus dan walawualam. Atau sesudah mendarat, entah ada kesibukan apapun yang membuat kesenangan di ruang tunggu bandara itu terlupakan, dan tak memungkinkan segala yang terjadi hari ini.

Tak mungkin ada malam-malam itu, saat kita berdua duduk di bus malam dan bayangan terpantul di kacanya. Atau bermil-mil jalan kaki dengan segala ocehan, debat, dan genggam erat tangan itu. Atau sore hari itu ketika Bandung begitu cerah membuat daun-daun seperti berpendar dan kita berkendara menaiki bebukitan. Atau segala makanan-makanan yang kita suka. 

Namun toh segala jika, bila, dan andai itu persis seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, kita bisa membayangkan segala keburukan yang terjadi jika kita merasa nyaman dengan apa yang kita alami. Di sisi lain, kita bisa pula membayangkan segala kesenangan yang mungkin terjadi saat kita sedang dilanda kemalangan. Dan tak ada yang bisa benar-benar mengatur, tatkala jika, bila, dan andai muncul dengan sendirinya. Di saat kita melamun mungkin, atau membaca sesuatu, atau berbicara sesuatu. Lalu apakah manusia akan selalu dihantui dengan segala ketakutan atau fantasi kenyamanan itu?

Aku tentu tak sepenuhnya tahu. Yang terlintas hanyalah cerita yang pernah kubaca entah di buku apa:

Hatta berkisah seorang murid pendeta Buddha ingin bertemu dengan gurunya untuk sebuah ujian terakhir sebelum dinyatakan lulus. Dia dipersilakan masuk ke ruang tempat guru itu berada. Hari itu hujan, si murid harus membawa payung menuju ke tempat ujiannya itu. Di perjalanan dia mengingat-ingat kembali segala ajaran yang dia baca di kitab sutra, perkataan sang Buddha, dan apa yang diajarkan oleh semua gurunya. Dia cukup yakin dan hapal dengan kesemua itu. Tibalah ia di ruangan tempat si guru berada, meletakkan alas kaki dan payung di beranda. Sampai di depan gurunya, dia tegang akan pertanyaan apa yang diberikan, pastinya sesuatu yang merangkum segala ajaran sang Buddha yang seharusnya dipelajari. Sambil bersila dan membuka matanya yang sedari tadi tertutup, sang guru mengutarakan pertanyaan maha ultim itu:
“Tadi ketika kau sampai ke sini, apakah kau letakkan payungmu di sebelah kiri atau kanan?” Si murid tertegun. Tentu ini bukan tipe pertanyaan yang dia harapkan. Namun segera ia sadar bahwa justru itulah pertanyaan yang merangkum segala ajaran Buddhisme: tentang kesadaran penuh tiap detik kehidupan, tentang ke-sekarang-an. Dan si murid tak bisa menjawab.

Dan saya pun diam tak bisa bertanya maupun berkomentar kembali. Supartono masih bersiul-siul sambil sesekali menenggak jeruk hangatnya.

Leave a comment