Supartono dan Kawannya Penulis Stensil

Supartono memiliki seorang kawan penulis stensil. 

Suatu sore yang biasa saja, saya sedang duduk di warung bersama Supartono. Dia memesan susu kedelai hangat. Saya pernah bertanya kenapa dia suka sekali dengan susu kedelai. Apakah karena lebih sehat? Atau karena tidak melibatkan makhluk hidup yang bisa merasakan sakit? Enak, jawabnya begitu saja. Memang terkadang tidak butuh alasan-alasan tingkat tinggi untuk sesuatu sesederhana susu kedelai. Memang saya saja yang suka melebih-lebihkan. Eh tapi bukan ini yang ingin saya ceritakan.

Di sore itu saya dan Supartono berbincang-bincang tentang kawannya yang seorang penulis stensil. Nah ini menarik, mengingat saya dulu sempat membaca kisah-kisah dewasa yang aduhai menggelikan (kalau zaman sekarang, bahasa populernya adalah fiksi erotika). Supartono berkawan dengannya ketika masih duduk di bangku SMA. Mereka punya ketertarikan yang sama tentang dunia perstensilan. Diskusi-diskusi mereka seputar karya Fredy S dan Enny Arrow. Oh, bahkan Mira W pun pernah menjadi topik mereka. Katanya, “Kami membahas diskursus tentang relevansi stensil terselubung,” Wah, stensil pun bisa menjadi sangat serius.

Berjalannya waktu, kawan Supartono ini sangat menekuni dunia perstensilan. Cerita-ceritanya pun memiliki khas khusus: banyak menampilkan kenikmatan bermasturbasi dan sejenisnya. Kalau kata Supartono, kawannya ini memang memiliki obsesi terhadap konsep ‘bercinta dengan diri sendiri’. Yah, saya bisa paham. Sedikit. Supartono, sambil meniup-niup susu kedelai panasnya, berdecak, “Dia sekarang sedang mencoba menyelesaikan dua ribu halaman buku tentang legenda masturbasi.” Saya bertanya-tanya, apa pula isinya. Tapi entah kenapa wajah Supartono terlihat tidak bersemangat.

Saya mencoba bertanya, “Memangnya kamu tidak mau coba menulis stensilan?”

tumblr_inline_obqgszlqHK1qahhvq_500

Dia tidak menjawab. Hanya diam saja. Mungkin dia sungkan. Saya masih menunggu jawaban. “Dulu ketika kami masih SMA, kawanku ini tak pernah bisa mendapat nilai bagus di pelajaran olahraga permainan. Ada-ada saja tingkahnya. Yang tak bisa mengoper bolalah, atau selalu berselisih dengan timnya sendiri. Tapi aku tidak pernah paham ketika kami disuruh lari memutari lapangan sepak bola. Dia bisa melakukannya lebih dari sepuluh kali tanpa berhenti. Daya tahan yang aku belum miliki sampai saat ini.”

Saya mulai sedikit mengerti. Antara Supartono dan kawannya ini bukan sekadar urusan tidak mau mencoba menulis stensil. Ada yang lebih dalam dari itu. Seperti ada rasa tidak aman dan tertinggal, seakan dia melewatkan sebuah kesempatan. Sebagai seorang kawan, saya saya pun jadi lebih paham ketika di lain waktu Supartono pernah menggumam getir, “Meskipun orang banyak menulis, toh yang ditulis tidak semuanya berdampak bukan?” Stensilan kawannya ini ternyata sudah cukup banyak, apalagi jika dilihat dengan hitungan perjalanan karir yang singkat. Namun Supartono seperti punya pikiran lain.

Saya tidak menanggapi ceritanya. Hanya segera berdiri dan membayar minuman ke penjaga warung. “Aku mau lihat stensilan kamu dong,” ujar saya cepat. Selain saya memang (pernah) suka membaca stensil, saya juga ingin tahu sebagus apa keerotisan yang ditulis oleh Supartono.

Kami pun beranjak pergi dan menuju ke rumah Supartono. Dia membongkar-bongkar satu map berisi tumpukan kertas folio bergaris. Tulisannya sudah cukup banyak, ditulis dengan pensil staedtler 2B yang dibeli di koperasi beras, tulisan tangannya terlihat sungguh mengerikan. “Ini coba kamu baca satu,” sambil menyerahkan dua lembar kertas. Saya membacanya pelan-pelan (selain karena susah dibaca juga memang kodrat stensil harus dibaca perlahan). Tidak ada adegan yang dilebih-lebihkan, semuanya ditulis dengan tenang, ada kejutan tapi juga diselesaikan dengan apik, pilihan katanya tidak membuat saya bergidik bingung, maka menurut saya stensil Supartono sesungguhnya layak untuk dipamerkan.

“Tulisan kamu bagus. Kamu tidak ingin ini difotokopi lalu disebar-sebarkan ke mahasiswa?” tanya saya setelah habis membaca kalimat terakhir.

“Mau. Tapi belum saatnya. Buat aku stensilan bukan soal penetrasi. Ada yang lebih dari itu, aku masih ingin eksplorasi. Tapi ya …” dia diam lagi.

Agak sulit memang. Idealismenya sangat tinggi. Dia menganggap corat coret tangannya belum sempurna, masih perlu diendapkan dalam pikirannya. Mungkin Supartono ingin memberikan nilai keindahan yang lebih, atau menambahkan bumbu-bumbu cerita dengan sedikit penjelasan tentang anatomi tubuh. Stensil Supartono bukan stensil yang sekadar ditulis atas dasar hanya ingin menulis hal mesum, tapi juga agar pembacanya bisa meresapi proses persetubuhan itu – ada pertandingan kimia apa yang sebenarnya terjadi ketika dua orang manusia saling bertukar cairan.

Ah saya pun sedikit sok tahu mengenai dunia perstensilan ini. Kawan Supartono ini memang sangat gigih berlari. Dia bahkan berhasil membangun jejaring komunitas pecinta stensil termasuk menjadi petinggi di Dewan Perstensilan Nasional. Saya hanya melihat tubuh kurus Supartono sedikit memeluk tumpukan kertasnya dan sesekali menepuk-nepuk mapnya. Seperti seorang ayah yang meninabobokan anaknya. Saya tidak bisa memberikan banyak kata-kata. Hanya, “Suatu saat nanti, ya, suatu saat nanti.”

Leave a comment