Supartono dan Dina Peteng

Hari Sabtu malam saya dan Supartono memutuskan untuk ikut acara pernikahan tetangga di ujung gang wilayah kosan kami. Meskipun kami tidak begitu kenal anak Pak Lurah, tapi kami kemarin menerima brosur undangan campur sari. Gratis. Wah kebetulan. Sebagai penggemar tembang campur sari, saya dan Supartono tentu tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Apalagi kalau bisa mengajukan permintaan lagu.

Saya pikir Supartono pasti menunggu lagu Dina Peteng (Hari Gelap) dinyanyikan. Oh iya sebagai informasi, Dina Peteng ini dinyanyikan oleh salah satu biduan campur sari ternama dari daerah kami, namanya Mbak Ros. Mbak Ros ini sejenis legenda, tidak kalah dengan Didi Kempot. Hanya saja orang lebih suka Didi Kempot yang lagu-lagunya lebih mendayu, penuh tragedi, dan enak didengar. Lagu Dina Peteng milik Mbak Ros ini liriknya bukan cerita cinta. Tapi tentang manusia yang berubah jadi serigala.

tumblr_inline_okv4wnh5uc1qahhvq_500

Mudah-mudahan organ tunggal campur sari malam ini pernah mendengar Mbak Ros.

Sambil menunggu penyanyi utama campur sari keluar, saya dan Supartono menyalami manten dan keluarganya. Mereka semua terlihat senang sekali, walaupun terlihat lelah. Beberapa tetangga yang sering saya lihat juga ikutan sibuk. Penjual lotek dari gang sebelah ternyata ikut jadi penyedia makanan.

Saya dan Supartono asik mencicipi satu dua piring hidangan sambil sesekali berkomentar soal lagu yang dipasang oleh teknisi suara di dekat panggung. Sesekali Supartono ikutan bernyanyi, jika ada lagu yang ia familiar.

“Tono, kamu sadar nggak sih, kalau nada kamu fales?” tanya saya kemudian setelah tidak tahan mendengar dia bernyanyi tidak jelas.

“Iya gitu? A~~ku~~ i~~ngi~~n~~”

“Fales banget. Sekian lama berkawan aku baru sadar kalau kamu ternyata buta nada,”

“Hahaha,”

“Coba kamu dengarkan dulu itu nadanya. Terus kamu hmmm hmmm dipaskan dengan lagunya. Coba hmmm~~hmmm~~”

“Hmmmm~~hmmm~~~”

“Salah,”

“Hmmmm~~~hmmm~~~”

“Salah. Dengarkan aku, ya. Hmmm~~hmmm~~”

“Hmmm~~hmmmm~~~”

“Tetap salah,”

“Kenapa kita harus mengikuti pakem bernyanyi yang sudah ditentukan?”

“Ya bayangkan saja kalau Mbak Ros nyanyinya fales, memang masih mau kamu dengarkan?”

“Menurut kamu buta nada bisa menular tidak?”

“Hah? Hmmm. Tidak tahu. Mungkin bisa sih,”

“Ya sudah nanti tiap kita bertemu aku akan bernyanyi supaya kamu ikutan buta nada,”

“Tono, kamu jangan menghancurkan usahaku 12 tahun belajar musik,”

“Coba bayangkan kalau nanti kamu jadi buta nada. Lalu penyakit ini menular ke yang lain, lalu seluruh dunia jadi buta nada,”

“Kaya plak,”

“Hehehe. Iya,”

“Kamu jenius. Tapi jahat,”

“Jadi ya udah kita bernyanyi dan bermusik tidak perlu ikut aturan-aturan bernada sama sekali,”

“Setahuku sudah ada yang begitu sih, jenis-jenis yang berusaha melebihi atau keluar dari pakem,”

“Nah iya. Coba semuanya begitu. Dunia akan jadi seperti apa ya?”

Sebelum pertanyaan Supartono saya tanggapi dengan kebingungan verbal. Penyanyi organ tunggal itu naik ke atas panggung. Para penonton mulai berkumpul ke depan. Supartono dengan langkah mantapnya segera berada di kerumunan itu. Supartono langsung berteriak, “Mbak, mau lagu Dina Peteng-nya Mbak Ros dong!” Lucunya penyanyi itu langsung tertawa, menyapa penonton, dan seketika menyanyikan .

Srengenge ambyar~~ aku pengen lunga~~ ndhelok wulan meteng~~
(Matahari berserak, aku ingin pergi, melihat bulan hamil)

Supartono ikut bernyanyi. Tentu dengan nada falesnya.

Leave a comment