Supartono mulai bercerita tentang dia.
Selembar kantung teh saya celupkan bersama hitung mundur empat menit. Katanya rentang waktu ideal untuk menyeduh teh hangat, tentu dengan air panas yang berapa derajat lebih rendah dari titik didih. Supartono memain-mainkan tali kantung tehnya, sambil air-air kecil cokelat menetes ke gelas pemilik warung kopi.
“Woi, jangan dibuat mainan,” tegur saya setelah semakin lama tetesan air tehnya bergeser beberapa sentimeter dari gelas.
Supartono hanya menyengir, menghentikan aktivitas isengnya, dan meniup-niup pinggir gelas, tidak sabar untuk segera menyeruput. Saya hanya diam menikmati malam tropis yang lembab, lumayan ada sejuk minimal dari kipas angin di dinding warung.
Sudah hampir lebih dari enam minggu saya rutin bertemu Supartono tiap malam. Sejak Supartono dan dia sepakat untuk mengakhiri hubungan romantis mereka, saya semakin rajin menemaninya berlama-lama di warung kopi. Maklum, memang saya ahli dalam memberikan kenyamanan seorang kawan dan lagipula kami kawan lama dari kampung sebelah timur.

Hubungan perkawanan saya dan Supartono memang demikianlah. Minim kalimat panjang dan hanya menghubungi jika ada hal-hal yang penting untuk dibagikan. Pernah satu waktu saya hanya menulis pesan. Aku tidak ikut pemilu, bangsat semua. Dan dia hanya menjawab. Kalau mau demokrasi ya harus dijalani dan dihidupi. Sudah. Maka ketika empat tahun lalu, saya menerima pesan dari Supartono, aku senang dia bilang ya, saya hanya bilang selamat dan semoga dilancarkan. Sudah. Lalu tidak ada kabar lagi tentang dia selama tiga tahun. Pesan Supartono setelah itu adalah sekitar keputusannya untuk melanjutkan sekolah lagi dan keluarganya.
Sampai suatu ketika di malam natal tahun lalu, saya menerima kembali pesan Supartono. Selamat natal, dia meminta selesai. Saya tidak membals. Pertama, saya tidak mengenal si dia ini. Karena tidak pernah bertemu juga tidak pernah diperkenalkan. Namanya saja saya tidak tahu. Kedua, saya juga terlalu sibuk dengan urusan di rumah dan keluarga yang berkumpul hingga saya terlupa untuk membalas pesannya. Baru seminggu setelah tahun baru saya membalas. Maaf baru sempat, selamat natal juga, kamu baik-baik saja? Dan dalam sepersekian detik langsung dibalas. Ya, kami sudah baikan.
Maka saya sedikit dalam kegelepan untuk cukup tahu hubungan Supartono dan dia. Sampai kemudian Supartono menghampiri saya di kosan enam minggu yang lalu.
“Hai. Apa kabar?”
“Eh hai. Apa kabar juga? Sudah lama ya tidak bertemu,”
“Iya. Hehehe. Aku sudah pindah ke kosan sekitar sini,”
“Oh ya? Pindah kantor?”
“Iya,”
“Oke oke,”
“Aku sendiri lagi,”
“Eh. Oh. Oke. Mau cerita?”
“Belum. Temani aku minum teh?”
“Oke,”
Dan di sinilah kami, enam minggu minum teh hangat atau terkadang susu kedelai di sore atau malam hari bercerita ini itu dan bernostalgia tentang kampung sebelah timur. Sampai waktu itu saya membaca tulisannya tentang kemungkinan, saatnya bertanya.
“Tono, kamu masih belum bisa cerita tentang dia?”
“Tini. Namanya, Tini,”
“Eh namanya Tini? Bukan Suparti..ni.. kan?”
“Bukan. Kartini,”
“Oh oke. Aku sejenak berpikir akan lumayan jenaka kalau namanya Supartini,”
“Ya, waktu pertama berkenalan pun aku menanyakan hal yang sama. Hehehe,”
“Jadi ….”
“Aku cerita bagian akhir saja. Kamu pasti jengah kalau mendengar dari awal,”
“Yah, coba saja. Aku kan suka dengar cerita,”
“Bahkan cerita picisan?”
“Ya tentu saja. Tapi juga jangan terlalu mendayu, nanti mengantuk dan percuma juga,”
“Baiklah. Aku ceritanya terbalik saja. Jadi dari akhir mundur ke awal, yang bagian mesra-mesra tak perlu, ya?”
“Iya terserah kamu mau cerita yang mana,”
“Baiklah. Hmmm. Jadi Tini meminta putus karena aku terlalu bawel,”
“Hah? Apa? Bagaimana?”
“Iya, dia bilang aku terlalu berisik dan selalu mengganggunya,”
Selama saya kenal Supartono ini adalah alasan paling luar biasa yang pernah saya dengar. Sepengetahuan saya, semua mantan Supartono selalu mengeluh kalau dia terlalu pendiam. Bahkan dengan yang sebelum Tini ini, keluhannya pun serupa. Maka saya kebingungan.
“Hmmm. Memang kamu sebawel apa? Memang Kartini sependiam apa?”
Supartono mengangkat bahu, tanda tak paham. Saya tidak bertanya lebih lanjut. Mungkin memang belum saatnya menganalisa Supartono dan Kartini. Atau saja saya memang tidak pernah mengerti bahwa selalu ada keterbalikan dalam semua hal. Bahwa hal-hal absurd remeh yang tidak terduga, termasuk Supartono yang diputuskan karena terlalu bawel, bisa saja terjadi. Saya berhenti di sini dulu. Cerita Supartono dan Kartini sepertinya masih panjang, tapi saya masih ingin bercerita tentang hal lain pula.