Kami suka berjalan-jalan di supermarket. Tidak untuk membeli apapun, hanya sekadar melihat sayur-sayuran yang berjajar rapi, ikan-ikan di bak berisi es batu, buah-buah warna warni mencerahkan mata, atau botol-botol bumbu berderet yang kadang saya pun tak tahu bagaimana membedakannya tanpa tulisan. Dan kali ini, saya dan Supartono berjalan memutari supermarket. Tidak terlalu ramai, belum tanggal muda.
Saya kemudian berbelok ke arah makanan kecil. Berbagai jenis kunyahan-kunyahan ringan favorit masa kecil, dan rasa jagung bakar cheetos yang saya pun masih suka sampai sekarang.
“Kamu pernah tahu cerita tentang alien yang terjebak di bungkus makanan tidak?” tanya Supartono tiba-tiba setelah dia melewati deretan kripik singkong.
“Hah? Memang ada cerita macam itu?” tanya saya penasaran pun sibuk menimbang apakah harus mencoba rasa baru kripik kentang.
“Ya ada. Jadi begini ceritanya …”
“Tunggu,” potong saya, “Aku nggak minta kamu bercerita soal itu sih,”
“Nggak bisa. Kamu harus dengar kisah fantastis ini,”
Saya melengos sedikit. Sudah hampir yakin karena cerita-cerita Supartono yang berhubungan dengan alien, selalu berakhir …. apa ya kata yang tepat? Hmmm. Anti-klimaks. Ya. Cerita yang berakhir dengan kalimat respon, “Sudah segitu saja?”
Tapi saya sudah mulai terbiasa dengan kelakuan Supartono yang demikian. Maka saya pun hanya menjawab singkat, “Oh oke.”
“Jadi pada suatu hari aku sedang berjalan-jalan di sebuah kota. Aku melewati jalanan aspal yang jebol karena akar pohon, letaknya di depan sekolah katolik berpagar biru. Meloncati retakan itu tetiba aku mendengar sebuah suara hai hai hai cukup jelas. Aku menengok ke belakang tidak ada siapa-siapa. Hai hai hai di bawah sini, kata suara itu. Aku melihat ke bawah. Sebuah bungkus makanan dengan wajah alien hijau menempel di bagian depan. Aku terkaget mengapa ia bisa berbicara. Aku berlutut di depan bungkusan itu dan bertanya kamu yang memanggilku? Ya ya ya, katanya lagi. Siapa kamu, tanyaku.

Aku pikir jika memang ada alien datang ke bumi dia akan sama sekali berbeda dengan ciptaan orang-orang industri film itu. Ternyata pikiranku salah.Dia adalah alien yang selama ini dibicarakan banyak orang dan ditampilkan secara klise oleh fiksi. Hijau, mata hitam besar, kepala besar.
Kami berbincang di bawah pohon itu. Dia bercerita soal perjalanannya terjebak di bungkus makanan. Pesawat mereka terdampar di sebuah pabrik, sekitar lima jam dari kota ini. Mereka berkeliling di pabrik itu dan melihat banyak orang sangat fokus bekerja sampai-sampai tidak sadar ada kehadiran makhluk lain. Tapi terima kasih kepada kawannya yang salah memencet tombol, berakhirlah mereka di bungkus makanan ini. Kira-kira sudah sekitar empat bulanan perjalanannya dari pabrik sampai akhirnya terdampar di tengah jalan sebagai sampah yang dibuang sembarangan.
Lalu alien apakah kamu ingin keluar dari bungkus ini? tanyaku. Karena aku sadar kebebasan itu ialah hak segala makhluk. Dia menggeleng. Aku terheran. Menurutnya jika dia bebas dari bungkus makanan ini pun tidak ada harapan untuk kembali pulang. Kenapa? tanyaku lagi. Dia menjawab karena dia terdampar bukan di film buatan Amerika Serikat atau Inggris. Tidak ada insinyur yang dapat membantunya membetulkan kerusakan pesawat. Tidak ada seorang pahlawan yang pun dapat membantunya lari dari sini. Mendengarnya aku sedikit kesal. Dia tidak menganggapku, yang sedang berbicara dengannya ini, untuk bisa menyelamatkannya.
Jangan tersinggung, katanya. Dia tahu aku sedikit kesal. Aku tahu kamu tidak bisa menolongku bukan karena tak mau, tapi karena kamu tidak tahu caranya. Tas punggung kamu sekarang berisi macam pengetahuan, tapi kamu belum bisa menggunakannya. Lagipula semua itu hanya untuk dihapal bukan, bukan untuk membuatmu berpikir. Alien hijau ini malah berceramah panjang. Aku hanya diam. Dia sok tahu sekali.
Aku sudah hampir sebulan di jalan ini. Tidak ada yang memungutku untuk dimasukan ke tempat sampah, angin pun sedang tidak bisa membawaku pergi terlalu jauh. Jadi, aku bisa memperhatikan kalian yang keluar masuk bangunan in; percakapan kalian aku dengarkan. Dan ah, aku hilang harapan untuk bisa kembali pulang dengan kemampuan berpikir kalian.
Aku hanya diam. Si alien terus-terusan berbicara. Tentang betapa bencinya dia menjadi bagian dari material yang butuh puluhan atau bahkan ratusan tahun untuk dapat musnah. Namun toh lagi-lagi kebebasan dan kembali pulang hanyalah ilusi heroisme yang dibikin-bikin.
Aku lama-lama bosan mendengarkannya. Terlalu berat apa-apa yang dia bicarakan denganku. Aku pun pamit izin pulang dan meninggalkannya begitu saja.
Sudah selesai,” Supartono menghentikan ceritanya sambil memboyong sebungkus keripik kentang rasa sapi pedas.
“Sudah segitu saja?” Aku mengikutinya ke kasir dengan langkah tak semangat.